Harga Lada Putih Terdorong Permintaan Pasar Dunia

Ilustrasi produksi lada putih (Foto Antara)

"Kenaikan harga lada putih karena permintaan pasar dalam dan luar negeri tinggi, berdampak minat petani menjual hasil budidaya tersebut meningkat,"
Berita Terkait
Pangkalpinang (Antara Babel) - Harga lada putih di tingkat pedagang pengumpul di Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung, Minggu (16/6), naik menjadi Rp85 ribu dibandingkan sebelumnya Rp80 ribu per kilogram terdorong oleh meningkatnya permintaan pasar dunia.


"Kenaikan harga lada putih karena permintaan pasar dalam dan luar negeri tinggi, berdampak minat petani menjual hasil budidaya tersebut meningkat," ujar Ellan pedagang pengumpul di Pangkalpinang, Minggu.


Ia menjelaskan, saat ini petani mulai menjual hasil perkebunan  karena mereka menilai harga komoditas tersebut sudah sebanding dengan biaya pengelolaan tanaman komoditas ekspor itu.

"Harga lada putih diperkirakan akan terus mengalami kenaikan mencapai Rp95 ribu per kilogram karena tingkat konsumsi masyarakat dalam dan luar negeri tinggi," ujarnya.


Ia mengatakan, dalam sepekan terakhir ini, pedagang  mampu mengumpulkan 750 kilogram dibanding sebelumnya hanya berkisar 200 hingga 300 kilogram lada putih per minggu.


"Transaksi mengalami peningkatan selain karena harga lada naik juga bertambahnya kebutuhan petani memasuki tahun ajaran baru, menjelang puasa Ramadhan dan Idul Fitri," ujarnya.


Menurut dia, permintaan pasar luar negeri seperti Jepang, Amerika Serikat, negara-negara Eropa, Belanda dan lainnya cukup tinggi karena lada putih Babel atau 'Muntok White Pepper' memiliki cita rasa dan aroma yang khas.


Sementara hasil lada petani masih kurang memadai untuk memenuhi permintaan eksportir komoditas tersebut.


"Dalam beberapa tahun terakhir, hasil lada putih memang mengalami penurunan karena minat petani mengembangkan komoditas ini berkurang dan mereka lebih tertarik membudidayakan tanaman lainnya seperti karet, kakao, atau menambang bijih timah karena lebih mudah dan cepat menghasilkan uang," ujarnya.

Selain itu, kata dia, petani kesulitan memperoleh pupuk, bibit dan kayu junjung tanaman lada, meskipun ada, harganya tinggi sehingga biaya produksi budidaya tersebut meningkat.

Editor: Rustam Effendi
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarababel.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar