Sayuran-Buah Cegah Kelainan Bawaan Pada Bayi

id sayuran
Sayuran-Buah Cegah Kelainan Bawaan Pada Bayi
Sayuran. (ANTARA News/Pixabay)
Jakarta (Antara Babel) - Ahli Gizi Dr. dr. Tan Shot Yen mengatakan ibu hamil yang rutin mengonsumsi sayuran dan buah dapat mencegah kelainan bawaan pada bayi.

"Pengurangan asupan sayur dan buah selama kehamilan dapat meningkatan risiko kelainan bawaan pada bayi, karena sayur dan buah mengandung folat dan lutein yang berhubungan dengan pembentukan DNA dan fungsi retina," kata Tan Shot Yen di Jakarta, Senin.

Dia mengatakan ada lima masalah kehamilan dan cacat pada janin yang terjadi dan dapat dicegah dengan mengonsumsi sayuran dan buah, antara lain retinoblastoma atau kanker mata yang biasanya dialami oleh anak-anak.

Ibu hamil yang rutin mengonsumsi sayur dan buah juga dapat mencegah kelahiran prematur, bayi lahir dengan berat badan rendah dan PDA (Patent Ductus Arteriosus) atau kondisi ductus arteriosus tetap terbuka setelah bayi lahir.

Ductus arterriosus adalah pembuluh darah yang digunakan bayi sebagai sistem pernapasan selama dalam kandungan, normalnya saat bayi mulai bernapas maka ductus arteriosus akan tertutup.

Jika tidak tertutup maka darah bersih dan darah kotor akan tercampur.

"Mengonsumsi sayuran dan buah dapat mencegah PDA, karena sayur dan buah mengandung anti inflammantory atau antiperadangan. Kenapa zat ini penting, karena kalau pembuluh darah meradang akan meningkatkan hormon prostaglandins, dan hormon tersebut naik dan menghambat ductus arteriosus," jelas dia.

Direktur Kesehatan Keluarga Kemenkes Eni Gustina mengatakan kelainan bawaan merupakan salah satu penyebab utama kematian bayi dan balita.

Berdasarkan laporan Riskesdas 2007, kelainan bawaan berkontribusi sebesar 1,4 persen terhadap kematian bayi 0-6 hari dan sebesar 18,1 persen terhadap kematian bayi 7-28 hari.

Kelainan bawaan turut berkontribusi sebesar 5,7 persen bagi kematian bayi dan 4,9 persen bagi kematian balita.

Di Indonesia sekitar 50 persen kelainan bawaan tidak diketahui penyebabnya karena banyak masyarakat yang tidak melaporkan ketika bayi meninggal dengan kelainan, bahkan jika anaknya terlahir cacat masih banyak keluarga yang menutup-tutupinya.

"Kita perlu data mengenai frekuensi kelainan dan kontribusinya terhadap kematian dan kesakitan pada periode neonatal sampai dengan tahun pertama kehidupan. Data ini penting untuk penting untuk penentuan intervensi dan program yang dapat dikembangkan oleh pemerintah pusat sebagai upaya penurunan angka kesakitan dan kematian pada periode neonatal sampai tahun pertama kehidupan," kata dia.

Editor: Riza Mulyadi

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga