Kamis, 29 Juni 2017

Mencegah Penyebaran Virus Kekerasan

id Virus, Kekerasan
Mencegah Penyebaran Virus Kekerasan
Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)
Jakarta (Antara Babel) - Belakangan ini munculnya aksi yang melibatkan sejumlah remaja yang secara acak mencegat dan melukai warga yang kebetulan melintas di beberapa wilayah tertentu membuat berbagai kalangan prihatin sekaligus cemas.

Kecemasan bukan hanya terkait dengan keselamatan saat melintas di wilayah tersebut namun juga terkait dengan pertanyaan mengapa para remaja itu bisa melakukan tindakan yang membahayakan nyawa orang lain.

Beranjak remaja merupakan fase dimana mencari identitas diri dan juga pengakuan bahwa memiliki kelebihan dan juga mampu melakukan sesuatu yang berbeda.

Elizabeth B Hurlock, seorang akademisi bidang psikologi, membagi tahapan perkembangan kehidupan manusia menjadi beberapa periode berdasarkan umur.

Anak usia 6-11 tahun dikelompokkan menjadi masa kanak-kanak akhir, dan umur 11-13 tahun masa pubertas. Sementara usia 13-17 tahun masuk ke dalam masa remaja awal.

Berdasarkan sejumlah pendapat dalam kajian psikologi, usia sekolah memang masuk ke dalam apa yang disebut dengan "usia gang".

Dalam masa itu, kesadaran sosial berkembang pesat. Menjadi pribadi yang sosial merupakan salah satu tugas perkembangan yang utama dalam periode ini.

Anak menjadi anggota suatu kelompok teman sebaya yang secara bertahap menggantikan keluarga dalam memengaruhi perilaku.

Kelompok teman sebaya didefinisikan oleh Robert J Havighurst sebagai suatu "kumpulan orang yang kurang lebih berusia sama yang berpikir dan bertindak bersama-sama".

Ketika secara psikologis anak pada usia sekolah mulai cenderung untuk berkelompok maka pola ini harus diikuti dengan bagaimana berkelompok yang benar dan mendapatkan lingkungan yang positif bagi tumbuh kembangnya.

Nilai-nilai yang ditanamkan saat kecil sangat mempengaruhi pandangan dan sikap serta pola pikir anak itu hingga ia dewasa nantinya.

Keluarga merupakan tempat pertama seorang anak belajar mengenai nilai-nilai dasar seperti pengenalan norma agama, norma sopan santun dan norma kesusilaan.

Hampir semua pakar psikologi dan pendidikan sepakat keluarga memegang peranan penting dalam membentuk kepribadian anak yang akan terbawa hingga dewasa.

Sayangnya hingga saat ini tidak semua orang tua memahami pentingnya situasi dan pendidikan di rumah bagi masa depan anak-anak mereka.

Dalam beberapa kasus, orang tua tidak menghiraukan dampak jangka panjang atas keputusan mereka kepada anak dan hanya sekadar mempertimbangkan kebahagiaan anak dengan memenuhi permintaan mereka atas apapun.

Seperti keputusan yang memberikan keleluasaan anak untuk bermain tanpa mempertimbangkan pengaturan jam bermain dan tidak memperhatikan lingkungan anak bermain serta berkelompok.

Demikian juga keputusan orang tua untuk memberikan fasilitas atau hak anak tanpa memperhatikan peraturan yang ada. Contoh sederhananya mengizinkan anak-anak di bawah umur 16 tahun mengendarai sepeda motor.

Akibat dari itu semua, tak jarang kita melihat banyak anak di bawah 16 tahun mengendarai motor bahkan digunakan untuk berangkat sekolah selayaknya mereka menggunakan sepeda tanpa mengindahkan peraturan lalu lintas.

Selain itu, kita juga kerap melihat anak-anak di bawah umur menggunakan motor, berkelompok dengan teman-temannya di sejumlah lokasi di pinggir jalan bahkan hingga jauh malam, melebihi kepantasan seorang anak seharusnya berada di luar rumah.

Membiasakan anak-anak pergi bermain dengan temannya hingga jauh malam bisa saja menimbulkan pemahamahan hingga dewasa bahwa bepergian tanpa tujuan yang jelas, atau sekedar "kongkow-kongkow" hingga jauh malam bahkan tidak pulang merupakan hal yang lazim.

        
Mencegah virus kekerasan

Amerika Serikat saat ini sedang menghadapi permasalahan sosial yang cukup serius yaitu maraknya kekerasan remaja dengan menyalahgunakan senjata api.

Angka-angka peristiwa kekerasan bersenjata yang merenggut tak hanya korban luka namun juga korban jiwa terus meningkat di sejumlah wilayah di negara tersebut.

Dalam sebuah tayangan televisi kabel belum lama ini, diceritakan bagaimana berbagai kalangan di Amerika Serikat was-was dengan kondisi ini dan mendorong melakukan upaya untuk mencegah kekerasan menyebar.

Ada berbagai cara yang digunakan untuk meredam kekerasan yang terjadi, terlebih dengan aturan bahwa warga sipil diperbolehkan memiliki senjata api di negara itu, maka upaya yang dilakukan pun harus lebih mendalam dan bersifat melibatkan semua pihak.

Di sebuah wilayah yang kerap terjadi kekerasan dengan senjata api, ada peneliti yang melihat bagaimana kekerasan menyebar akibat ekspose dari media dan tayangan langsung peristiwa tersebut yang kemudian ditengarai memberikan inspirasi kepada orang lain yang ujungnya melakukan kekerasan yang mirip.

Sementara di wilayah lain, upaya meredam kekerasan yang terjadi secara berantai, adalah dengan membentuk relawan yang berasal dari wilayah atau daerah tersebut dan dikenal oleh warga sekitar untuk mengampanyekan pola pikir antikekerasan. Penggunaan orang yang dikenal dan berasal dari daerah itu membuat komunikasi dan rasa percaya warga tumbuh dan kemudian bersama-sama memahami bila ada masalah antartetangga maupun antarkelompok, tak diselesaikan dengan cara kekerasan.

Berkaca dari masalah sosial yang dihadapi di Amerika Serikat tersebut, maka peristiwa kekerasan dengan remaja sebagai pelakunya yang terjadi di sejumlah kawasan di Jabodetabek akhir-akhir ini bisa dimaknai sebagai peringatan bagi kita semua atas ancaman penyebaran virus kekerasan.

Tak ada salahnya belajar dari apa yang dilakukan sejumlah komunitas di Amerika Serikat untuk mendorong pengurangan kekerasan.

Namun hal yang paling sederhana dan mudah dilakukan saat ini adalah mendorong keluarga-keluarga Indonesia lebih peduli terhadap anggota keluarga masing-masing.

Tak hanya sekedar menunaikan kewajiban memberikan sandang, pangan dan papan bagi anak, namun orang tua juga diharapkan memberikan contoh secara ucapan, tindakan dan pola pikir yang benar.

Ketika anak-anak tak lagi memiliki panutan di rumah, ditambah suasana lingkungan rumah yang tidak menyenangkan, maka mereka akan mencari panutan di jalanan.

Saat itu terjadi, bisa jadi virus kekerasan akan menyergap masyarakat dan hanya tinggal penyesalan yang terlambat saat orang tua kehilangan anaknya.

Editor: Rustam Effendi

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga