Jambi, 13/2 (Antara Babel) - Bencana banjir yang melanda Kabupaten Batanghari, Jambi, sejak beberapa pekan terakhir semakin meluas, rumah warga di tujuh kecamatan yang terkena banjir terus bertambah.
Dari data yang berhasil dihimpun di Kantor Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Batanghari hingga Rabu, tercatat 9.473 rumah warga masih terendam banjir dengan jumlah 29.115 jiwa.
Tiga hari sebelumnya rumah warga yang terendam sebanyak tujuh ribu rumah, namun karena hujan yang masih turun dan adanya air kiriman dari hulu, rumah warga yang terendam semakin bertambah.
Data terbaru untuk jumlah korban di tujuh kecamatan tersebut yaitu, Kecamatan Bathin XXIV rumah yang terendam sebanyak 4.017 KK mencakup 14.002 jiwa, Kecamatan Muaratembesi 2.045 KK (6.589 jiwa), Kecamatan Muarabulian yang semula hanya ratusan, dua hari terakhir meningkat drastis menjadi 1.114 KK yang mencakup 4.519 jiwa.
Selanjutnya, Kecamatan Pemayung rumah yang terendam sebanyak 415 KK (1.611 jiwa), Kecamatan Marosebo Ulu 352 KK (1.408 jiwa), Kecamatan Marosebo Ilir 222 KK (986 jiwa) dan di Kecamatan Mersam rumah yang terendam sabanyak 1.308 KK, namun jumlah jiwa masih dalam pendataan.
Kepala Seksi Kesiapsiagaan Bencana BPBD Batanghari Syamral mengatakan, ketinggian air dalam dua hari ke depan diprediksi masih mengalami kenaikan, hal tersebut dipicu dengan cuaca yang terus hujan, dan air kiriman dari kabupaten tetangga.
"Air kiriman dari Kabupaten Sarolangun akan melewati Kecamatan Bathin XXIV, sementara air kiriman dari Kabupaten Bungo akan melewati Kecamatan Marosebo Ulu dan Mersam, datangnya air kiriman tidak bisa dielakkan, karena wilayah itu jalur air menuju laut," katanya.
Ia juga menyebutkan, untuk Kecamatan Muarabulian semula hanya sedikit yang terkena banjir, namun dua hari terakhir meluas, di dalam Kota Muarabulian saja, air terlihat mengenangi jalan poros depan rumah dinas bupati Batanghari.
Sementara itu, akibat banjir yang melanda Kecamatan Bathin XXIV khususnya, sejumlah sekolah di kecamatan tersebut tidak bisa dipakai untuk belajar mengajar, karena terendam air dengan ketinggian mencapai dua meter.
"Hanya satu sekolah dalam 10 desa yang masih bisa melakukan aktivitas belajar mengajar, sedangkan sekolah lainnya terpaksa diliburkan," ungkapnya.
Di Desa Danau Embat Kecamatan Marosebo Ilir, jembatan penghubung desa dalam kecamatan tersebut putus total, akibatnya perekonomian di kecamatan tersebut lumpuh.
Pantauan di lapangan juga terlihat beberapa sekolah tidak bisa lagi melaksanakan kegiatan belajar mengajar, seperti SDN 59 Desa Durian Luncuk Kecamatan Batin XXIV. Meskipun ruangan kelas terendam banjir, para siswa di sekolah tersebut melakukan aktivitas belajar di ruko miliki warga setempat.
COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2013
Dari data yang berhasil dihimpun di Kantor Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Batanghari hingga Rabu, tercatat 9.473 rumah warga masih terendam banjir dengan jumlah 29.115 jiwa.
Tiga hari sebelumnya rumah warga yang terendam sebanyak tujuh ribu rumah, namun karena hujan yang masih turun dan adanya air kiriman dari hulu, rumah warga yang terendam semakin bertambah.
Data terbaru untuk jumlah korban di tujuh kecamatan tersebut yaitu, Kecamatan Bathin XXIV rumah yang terendam sebanyak 4.017 KK mencakup 14.002 jiwa, Kecamatan Muaratembesi 2.045 KK (6.589 jiwa), Kecamatan Muarabulian yang semula hanya ratusan, dua hari terakhir meningkat drastis menjadi 1.114 KK yang mencakup 4.519 jiwa.
Selanjutnya, Kecamatan Pemayung rumah yang terendam sebanyak 415 KK (1.611 jiwa), Kecamatan Marosebo Ulu 352 KK (1.408 jiwa), Kecamatan Marosebo Ilir 222 KK (986 jiwa) dan di Kecamatan Mersam rumah yang terendam sabanyak 1.308 KK, namun jumlah jiwa masih dalam pendataan.
Kepala Seksi Kesiapsiagaan Bencana BPBD Batanghari Syamral mengatakan, ketinggian air dalam dua hari ke depan diprediksi masih mengalami kenaikan, hal tersebut dipicu dengan cuaca yang terus hujan, dan air kiriman dari kabupaten tetangga.
"Air kiriman dari Kabupaten Sarolangun akan melewati Kecamatan Bathin XXIV, sementara air kiriman dari Kabupaten Bungo akan melewati Kecamatan Marosebo Ulu dan Mersam, datangnya air kiriman tidak bisa dielakkan, karena wilayah itu jalur air menuju laut," katanya.
Ia juga menyebutkan, untuk Kecamatan Muarabulian semula hanya sedikit yang terkena banjir, namun dua hari terakhir meluas, di dalam Kota Muarabulian saja, air terlihat mengenangi jalan poros depan rumah dinas bupati Batanghari.
Sementara itu, akibat banjir yang melanda Kecamatan Bathin XXIV khususnya, sejumlah sekolah di kecamatan tersebut tidak bisa dipakai untuk belajar mengajar, karena terendam air dengan ketinggian mencapai dua meter.
"Hanya satu sekolah dalam 10 desa yang masih bisa melakukan aktivitas belajar mengajar, sedangkan sekolah lainnya terpaksa diliburkan," ungkapnya.
Di Desa Danau Embat Kecamatan Marosebo Ilir, jembatan penghubung desa dalam kecamatan tersebut putus total, akibatnya perekonomian di kecamatan tersebut lumpuh.
Pantauan di lapangan juga terlihat beberapa sekolah tidak bisa lagi melaksanakan kegiatan belajar mengajar, seperti SDN 59 Desa Durian Luncuk Kecamatan Batin XXIV. Meskipun ruangan kelas terendam banjir, para siswa di sekolah tersebut melakukan aktivitas belajar di ruko miliki warga setempat.
Editor : Aprionis
COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2013