Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyampaikan panduan bagi masyarakat untuk mencegah serta mengobati sakit akibat virus Nipah yang menular dari hewan ke manusia.

"Virus Nipah yang merebak di India bukanlah virus baru. Virus ini telah ada sejak puluhan tahun lalu," kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Siti Nadia Tarmizi di Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan virus tersebut saat ini kembali menyebar dan mengakibatkan dua kematian dan ratusan orang lainnya diperiksa di India untuk diagnosis lebih lanjut.

Meski penyakit itu belum terdeteksi di Indonesia, kata dia, pemerintah telah menerbitkan kewaspadaan dini merebaknya kasus tersebut.

Langkah antisipasi yang dapat dilakukan di antaranya tidak mengonsumsi nira atau aren langsung dari pohonnya karena kelelawar dapat mengontaminasi sadapan cairan manis yang diperoleh dari batang tanaman, seperti tebu, sorgum, mapel, atau getah tandan bunga pada malam hari.

"Oleh karenanya perlu dimasak sebelum dikonsumsi," katanya.

Kemenkes juga mengimbau masyarakat untuk menghindari kontak dengan hewan ternak, seperti babi, kuda yang kemungkinan terinfeksi virus Nipah.

Apabila terpaksa harus melakukan kontak, kata Nadia, maka menggunakan alat pelindung diri (APD) guna mencegah kontak langsung dengan organ tubuh.

"Selain itu, konsumsi daging ternak secara matang, cuci dan kupas buah secara menyeluruh buang buah yang ada tanda gigitan kelelawar," katanya.

Bagi tenaga kesehatan dan keluarga yang merawat serta petugas laboratorium yang mengelola spesimen pasien terinfeksi, ia mengimbau mereka agar menerapkan pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) dengan benar.

"Bagi petugas pemotong hewan, sarung tangan dan pelindung diri harus digunakan sewaktu menyembelih atau memotong hewan yang terinfeksi virus Nipah," katanya.

Dia mengatakan hewan yang terinfeksi virus Nipah tidak boleh dikonsumsi dan terapkan perilaku hidup bersih dan sehat seperti membersihkan tangan secara teratur, dan menjaga etika bersin.

Jika mengalami gejala berkaitan dengan penyakit virus Nipah dan berinteraksi dengan hewan atau pasien yang terinfeksi, kata Nadia, langsung datang ke fasilitas layanan kesehatan terdekat untuk dilakukan pemeriksaan.

"Apabila terdiagnosis penyakit virus Nipah, dokter atau tenaga kesehatan akan menentukan mekanisme pengobatan yang diperlukan, seperti terapi suportif dan simptomatik untuk meredakan gejala yang dialami," katanya.

Ia mengatakan hingga saat ini belum ada pengobatan spesifik untuk penyakit virus Nipah, namun gejalanya sudah bisa dideteksi secara dini.

Seseorang yang terinfeksi virus Nipah akan mengalami gejala yang bervariasi dari tanpa gejala atau asimptomatis, infeksi saluran napas akut (ISPA) ringan atau berat hingga ensefalitis fatal.

"Seseorang yang terinfeksi awalnya akan mengalami gejala seperti demam, sakit kepala, mialgia (nyeri otot), muntah, dan nyeri tenggorokan," katanya.

Ia mengatakan gejala itu dapat diikuti dengan pusing, mudah mengantuk, penurunan kesadaran dan tanda-tanda neurologis lain yang menunjukkan ensefalitis akut.

"Beberapa orang pun dapat mengalami pneumonia atopik dan gangguan saluran pernapasan berat," katanya.

Pada kasus yang berat, kata Nadia, ensefalitis dan kejang akan muncul dan dapat berlanjut menjadi koma dalam 24-48 jam hingga kematian.

"Angka fatalitas yang tinggi dikarenakan gejala yang tidak khas di awal sakit. Angka kematiannya berkisar 40-75 persen," katanya.

Hingga saat ini, kata dia, belum tersedia vaksin untuk mencegah penyebaran penyakit virus Nipah.

Nipah merupakan penyakit emerging zoonotik yang disebabkan oleh virus Nipah yang termasuk ke dalam genus Henipavirus dan famili Paramyxoviridae.

Penyakit ini dapat ditularkan dari hewan, baik hewan liar atau domestik, dengan kelelawar buah yang termasuk ke dalam famili Pteropodidae sebagai inang virus.

Pada 2008, virus Nipah telah dilaporkan sebanyak 700 kasus pada manusia dengan 407 kematian di Malaysia, Singapura, India, Bangladesh, dan Filipina.

Pertengahan 2021, wilayah Kerala di India melaporkan kejadian luar biasa (KLB) virus Nipah setelah menyerang satu anak usia 12 tahun yang menyebabkan kematian.

Pada 12 September 2023, kasus serupa kembali dilaporkan di wilayah Kerala dan hingga 18 September 2023 telah dilaporkan enam kasus konfirmasi dengan dua kematian.

Pewarta: Andi Firdaus

Editor : Bima Agustian


COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2023