Pangkalpinang (Antara Babel) - Stok bawang merah, putih dan cabai merah di sejumlah pasar tradisional Provinsi Bangka Belitung (Babel), mencukupi untuk memenuhi konsumsi warga selama Ramadhan 1434 Hijriyah karena pasokan dari daerah sentra produksi lancar.

"Ketersediaan stok bawang merah, putih dan cabai yang cukup ini tidak mempengaruhi penurunan harga yang masih bertahan tinggi," ujar Kabid Perdagangan Dalam Negeri, Husni Thamrin di Pangkalpinang, Rabu.

Ia menjelaskan, stok bawang merah di tingkat distributor sayur mayur sebanyak 7 ton, bawang putih sebanyak 25 ton dan stok cabai merah keriting sebanyak 4 ton.

Sementara itu, harga bawang merah masih bertahan Rp65 ribu per kilogram, bawang putih bertahan normal Rp14 ribu per kilogram.

Harga cabai merah kriting bertahan Rp40 ribu per kilogram, cabai merah biasa Rp40 ribu per kilogram, cabai rawit hijau bertahan Rp45 ribu dan cabai rawit merah bertahan Rp80 ribu per kilogram.

"Harga bawang merah dan cabai ini masih bertahan tinggi karena permintaan yang meningkat dan biaya angkutan barang juga mengalami kenaikkan sebagaidampak kenaikan harga BBM bersubsidi bulan lalu," ujarnya.

Menurut dia, diperkirakan pasokan cabai dan bawang ini akan terus bertambah karena pengusaha terus mendatangkan sayur mayur untuk memenuhi kebutuhan warga hingga Lebaran.

Sementara itu, diperkirakan harga sayuran ini diperkirakan akan terus berfluktuasi tinggi hingga Lebaran nanti, seiring meningkatkan permintaan warga untuk masakan lebaran.

"Untuk memenuhi permintaan sayur mayur konsumen, kami hanya mengandalkan pasokan dari luar karena hasil sayur petani lokal masih terbatas dan ada sebagian jenis sayur mayur yang tidak bisa dikembangkan di Pulau Bangka seperti wortel, bawang putih, bawang merah, kentang, lobak dan jenis sayur lainnya.

Sementara itu, hasil sayur mayur yang bisa dikembangkan di Pulau Bangka misalnya  cabai, tomat, kacang panjang, terong dan lainnya masih kurang dan belum mampu memenuhi permintaan konsumen yang tinggi.

"Minat petani untuk mengembangkan sayur mayur ini masih rendah karena mereka menilai bertani kurang menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan mereka lebih memilih menambang bijih timah yang lebih cepat menghasilkan uang," ujarnya.

Pewarta: Pewarta :Aprionis

Editor : Rustam Effendi


COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2013