Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyelidiki insiden tragis seorang siswa SD berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli buku dan pena seharga Rp10.000.

"Nanti coba kita selidiki ya. Saya belum tahu informasinya," kata Mendikdasmen Abdul Mu'ti menjawab pertanyaan wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa.

Mu'ti mengaku belum mendapat informasi mengenai peristiwa tersebut. "Saya belum tahu, nanti kita selidiki lagi ya penyebabnya apa dan sebagainya," kata dia singkat.

Sementara itu, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menyatakan rasa keprihatinannya terhadap insiden memilukan itu.

Gus Ipul, sapaan akrab Saifullah Yusuf menegaskan insiden yang dialami anak tersebut menjadi perhatian pemerintah, khususnya Kemensos.

"Kami prihatin, turut berduka. Tentu, ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama, tentu bersama pemerintah daerah. Kita harus memperkuat pendampingan, kita harus memperkuat data kita. Ya kita harapkan tidak ada (keluarga miskin dan miskin ekstrem, red.) yang tidak terdata," kata Gus Ipul.

Dia menekankan pentingnya membangun basis data Kemensos agar menjangkau seluruh keluarga di Indonesia, termasuk keluarga-keluarga yang berada di kategori miskin ekstrem (desil-1), dan kategori miskin (desil-2).

"Ini hal yang sangat penting. Saya kira kembali kepada data. Bagaimana data ini kita saksikan sebaik mungkin sehingga kita bisa menjangkau seluruh keluarga-keluarga yang memang memerlukan perlindungan, memerlukan rehabilitasi, dan memerlukan pemberdayaan," ujar dia.

Seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya, inisial MGT (usia 47 tahun).

Dalam surat itu, sebagaimana telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, korban menuliskan:

"Surat buat Mama
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya
Selamat tinggal Mama".

Korban tersebut diketahui tinggal bersama neneknya, karena ibundanya, yang merupakan orangtua tunggal, bekerja sebagai petani dan kerja serabutan. Ibunda korban mengurusi lima orang anak, termasuk korban yang telah meninggal dunia.

Pewarta: Fathur Rochman/Genta Tenri Mawangi

Editor : Bima Agustian


COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2026