Jakarta (Antara Babel) - Politisi PDI Perjuangan Maruarar Sirait mengemukakan di dalam dunia politik yang dinamis tidak tertutup kemungkinan Joko Widodo dan Prabowo Subianto akan bergabung.

"Dalam politik itu dinamis, kalau mereka (Jokowi-Prabowo) bergabung berdua bisa saja itu terjadi dalam politik," kata Maruarar saat menjadi penanggap hasil survei evaluasi dua setengah tahun pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, yang dilakukan lembaga Indo Barometer, di Jakarta, Rabu.

Maruarar menilai Jokowi dan Prabowo sama-sama berjiwa besar dan negarawan.

Hal itu terbukti dalam Pilpres 2014 lalu, meskipun keduanya sempat berkompetisi, namun saat pelantikan Presiden, Jokowi mengundang Prabowo untuk hadir di parlemen dan Prabowo pun berjiwa besar menghadiri undangan pelantikan itu.

Berdasarkan hasil survei Indo Barometer yang dilakukan di 34 Provinsi pada tanggal 4-14 Maret 2017 dengan jumlah responden 1.200 orang dan "margin error" sebesar kurang lebih 3,0 persen, sebanyak 57,8 persen responden masih menginginkan Jokowi menjabat kembali sebagai Presiden pada Pilpres 2019.

Sedangkan dari simulasi 18 nama, dukungan publik terhadap calon presiden 2019 yakni Joko Widodo (45,6 persen), Prabowo Subianto (9,8 persen), Basuki Tjahaja Purnama (8,7 persen), Ridwan Kamil (3,5 persen), Agus Harimurti Yudhoyono (2,5 persen), M. Sohibul Iman (2,1 persen), Tri Rismaharini (dua persen), Megawati Soekarnoputri (1,6 persen), Jusuf Kalla (satu persen).

Melihat hasil survei itu, Maruarar mengatakan Jokowi-Prabowo sebagai pilihan nomor satu dan kedua dalam survei bisa saja pada akhirnya bersatu dalam dinamika politik ke depan.

Pewarta: Rangga Pandu Asmara Jingga

Editor : Rustam Effendi


COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2017