Kupang (Antaranews Babel) - Gereja-gereja di seluruh dunia, Minggu (1/4), merayakan Paskah untuk mengenang kisah kebangkitan Yesus Kristus setelah wafat dari kayu salib pada hari ketiga, atau lebih populer dengan sebutan Jumat Agung.

Melalui perayaan Paskah tersebut, orang-orang Kristen percaya bahwa dalam Kristus ada kehidupan baru yang mampu menerobos kematian dan kesia-siaan.

Iman kepada Kristus yang bangkit menjadi harapan yang terus-menerus memberi semangat bagi pengikut Kristus, secara pribadi maupun sebagai gereja, untuk senantiasa membaharui diri dari kerapuhan dan keberdosaan manusiawi.

"Dengan pembaharuan diri ini kita bangkit memberitakan kasih karunia Allah untuk mewujudkan kebenaran-Nya di tengah-tengah realitas kehidupan yang sering diwarnai oleh dusta, penyebaran berita bohong, tipu muslihat, bahkan kelaliman," demikian pesan Paskah Persatuan Gereja Indonesia (PGI).

Melalui kebangkitan-Nya, PGI kemudian mengajak gereja-gereja dan setiap orang Kristen untuk berani menentukan pilihan, apakah menjadi  "hamba dosa" atau menjadi "hamba kebenaran".

Setiap pilihan tentu memiliki konsekuensi-konsekuensi yang harus dipatuhi. Pilihan menjadi "hamba dosa" akan membawa setiap orang kepada maut atau kebinasaan.

Pilihan untuk taat kepada Allah dan menjadi "hamba kebenaran" akan membawa semua orang kepada kemerdekaan dari dosa dan menikmati damai sejahtera-Nya.

Banyak harapan yang menggembirakan tampak di tengah perubahan tersebut, namun tidak sedikit juga keprihatinan yang terus menggerus anak bangsa, seperti menjadi korban gizi buruk di seluruh pelosok negeri serta perdagangan manusia yang semakin marak dewasa ini.

Selain itu, tindak kekerasan yang dialami pekerja migran yang mengakibatkan semakin banyak korban yang pulang ke rumahnya dalam peti jenazah, seperti yang dialami TKW asal Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, Adelina Sau, beberapa waktu lalu.

Korban gizi buruk pun masih terus menghantui anak-anak balita di Nusa Tenggara Timur yang entah sampai kapan kisah ini akan berakhir.

Ketua Umum Majelis Pekerja Harian PGI Pdt Henriette Hutabarat Lebang melihat bahwa kecenderungan manusia dewasa ini lebih mengejar kepentingan diri dan kelompoknya dengan mengabaikan kepentingan bersama yang dapat merusak semangat persaudaraan, kesejahteraan dan keutuhan bangsa.

Nilai-nilai kasih, kejujuran dan kebenaran semakin diselewengkan demi meraih kedudukan, kuasa dan kelimpahan materi. Dan situasi ini, sangat terasa dengan eforianya pesta demokrasi 2018 yang akan dilaksanakan serentak pada 27 Juli 2018.

Situasi ini tampaknya membawa umat Kristen kepada pilihan, menjadi "hamba dosa" yang berorientasi pada ketidakbenaran dalam rupa politik uang dan politik identitas, atau menjadi "hamba kebenaran" yang mendorong warga menjadi pemilih cerdas untuk memilih pemimpin bangsa pada semua lini yang takut akan Tuhan dan mengedepankan kepentingan dan kesejahteraan segenap anak bangsa.

Kondisi ini agaknya menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi umat Kristen di Indonesia. Artinya berani memilih kebenaran di tengah banyaknya orang yang bersikap tidak jujur dan membengkokkan kebenaran, sekalipun harus "memikul salib" dan menghadapi berbagai risiko.

Menurut Sekretaris Umum Majelis Pekerja Harian PGI Pdt Gomar Gultom, hal ini sejatinya dapat diwujudkan secara nyata dalam tindakan konkrit dengan menghadirkan perdamaian, keadilan dan kesejahteraan di tengah kehidupan keluarga, gereja, masyarakat, dan Bangsa Indonesia.

Disisi lain, harus berusaha mengendalikan diri agar tidak mudah terprovokasi untuk membenci kelompok lain yang berbeda suku, budaya, ideologi dan agama, serta berupaya menghindari tindakan-tindakan provokatif, termasuk politisasi agama, yang dapat memecah belah keutuhan NKRI.

Kedua pendeta dari PGI tersebut juga mengharapkan semua orang Kristen dapat menumbuhkembangkan budaya damai mulai dari keluarga, menjauhi kebohongan apalagi menyebarluaskan berita-berita bohong demi kepentingan pribadi atau kelompok, serta mendampingi generasi muda dalam pertumbuhan karakter dan spiritualitas yang mencerminkan kebenaran Allah.

Selain itu, dapat memberikan perhatian khusus kepada saudara-saudara yang mengalami ketidakadilan dan kekerasan akibat tindakan dan keserakahan segelintir orang, melalui pendampingan pastoral maupun tindakan advokasi.

Artinya, bersama semua anak bangsa, umat Kristen di Indonesia dapat menciptakan masyarakat yang demokratis melalui pendidikan politik bagi warga gereja agar dalam Pilkada 2018, Pileg dan Pilpres 2019 setiap warga gereja dan warga masyarakat dapat menjadi pemilih yang cerdas untuk kepentingan bangsa yang lebih luas.

Menjadi "hamba kebenaran" dalam situasi politik dewasa ini, tampaknya sulit untuk bisa diwujudnyatakan, namun Romo Yonas Kamlasi dari Gereja St Yopeh Pekerja Penfui Kupang dalam pesan Malam Paskah 2018 mengajak umat Kristen untuk menghadapi semua pesimisme itu dengan sebuah rasa optimisme.

Jika semua kesulitan hidup yang datang menghadang saat ini, janganlah kita hadapi dengan rasa pesimisme, tapi menantangnya sebuah optimisme agar kita bisa segera keluar dari kesulitan tersebut, katanya saat memimpin misa Malam Paskah di Kapela Stasi Yesus Maria Yosep (YMY) Liliba.

Paus Fransiskus, pemimpin Gereja Katolik sedunia, dalam pesan Paskahnya juga menantang semua orang Kristen untuk tidak boleh takut menjadi "hamba kebenaran" di tengah dunia dewasa ini yang penuh dengan keculasan dan penuh dengan tipu daya.

"Yesus adalah penjelmaan kasih, mati di kayu salib untuk dosa-dosa kita, tetapi Allah Bapa membangkitkan Dia dan menjadikannya Tuhan kehidupan dan kematian. Di dalam Yesus, kasih telah menang atas kebencian, rahmat atas dosa, kebaikan atas kejahatan, kebenaran atas kepalsuan, hidup atas kematian," katanya dalam pesan Paskah "Urbi et Orbi".

Menurut Paus asal Argentina itu, dalam setiap situasi manusia, ditandai dengan kelemahan, dosa dan kematian serta kabar baik bukanlah hanya kata-kata, tetapi kesaksian kasih tanpa syarat dan setia.

Itu adalah tentang kerendahan hati menghadapi orang lain, yang dekat dengan mereka yang tertimpa masalah hidup, berbagi dengan orang yang membutuhkan, berdiri di sisi orang sakit, orang tua dan terbuang, kata Paus Fransiskus yang baru diangkat pada 2013 menggantikan Paus Emeritus Benediktus XVI.

Dalam pesan Paskahnya Paus juga memohon kepada Tuhan untuk menguatkan semua orang yang tidak dapat merayakan Paskah dengan orang yang mereka cintai karena mereka telah secara tidak adil dirampok kasih sayangnya, seperti dialami banyak orang, imam dan awam, di berbagai belahan dunia yang telah diculik.

Kuatkanlah mereka yang telah meninggalkan tanah mereka sendiri karena bermigrasi ke tempat-tempat yang menawarkan harapan untuk masa depan yang lebih baik dan kemungkinan menjalani kehidupan mereka dalam martabat dan, dengan kebebasan menjalani keimanan mereka, ujarnya.

Paskah menuntut semua orang Kristen untuk menjadi "hamba kebenaran" di tengah banyaknya orang yang bersikap tidak jujur dan membengkokkan kebenaran, sekalipun harus "memikul salib" dan menghadapi berbagai resiko.

Pewarta: Laurensius Molan

Editor : Rustam Effendi


COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2018