Pangkalpinang (ANTARA) - PT Timah Tbk membantu warga Desa Bencah, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk menjadikan bekas penambangan bijih timah sebagai kawasan objek wisata, guna meningkatkan perekonomian masyarakat di daerah itu.
"PT Timah memberikan bantuan untuk menambah berbagai fasilitas, sehingga destinasi wisata ini bisa semakin berkembang dan bisa menampung lebih banyak wisatawan," kata Departement Head Corporate Communication PT Timah Tbk Anggi Siahaan di Pangkalpinang, Kepulauan Babel, Sabtu.
Ia mengatakan selama ini pertambangan identik dengan eksploitasi sumber daya alam. Namun warga Bencah di Bangka Selatan, Sudariyanto atau yang kerap disapa Awek, berhasil membuktikan bahwa aktivitas pertambangan bisa berdampingan dan berkontribusi terhadap sektor lain seperti pariwisata dan perikanan.
"Alhamdulillah Awek berhasil mengembangkan Awek Fishing and Resto di Desa Bencah sebagai destinasi wisata alami di tengah kebun sawit dan aktivitas penambangan yang masih beroperasi," katanya.
Anggi menyatakan lahan bekas tambang dan kebun sawit seluas satu hektare yang tidak produktif, kini disulap menjadi destinasi wisata baru dengan konsep restoran alam dan kolam pemancingan.
Di kawasan wisata ini, para pengunjung tidak hanya bisa bersantai dan menikmati makanan khas Bangka Selatan saja, tapi juga bisa memancing, melihat ribuan ikan-ikan berbagai jenis dan juga merasakan suasana alami seperti di perkebunan, bersantai bersama keluarga, atau mengabadikan momen di spot-spot foto alami yang sebelumnya merupakan areal tambang terbuka dan perkebunan sawit.
"Tidak jauh dari kawasan objek wisata ini, pengunjung juga bisa melihat langsung aktivitas penambangan timah yang sedang beroperasi IUP PT Timah dan ini membuktikan dua sektor ini tumbuh berdampingan," kata Anggi.
Pemilik Awek Fishing and Resto, Sudariyanto mengatakan kawasan wisata yang dibangunnya ini merupakan lahan bekas tambang yang kemudian disulapnya menjadi kolam pemancingan. Setelah itu, ia bersama istri membuka restoran yang menyediakan berbagai menu seperti lempah kuning, sambal terasi, ikan bakar dan berbagai menu seafood lainnya.
"Dulunya ini hanya pemancingan, dan kolam ikan itu merupakan lahan bekas tambang yang memang digali tidak terlalu dalam. Lalu saya berpikir untuk membuat ini menjadi teduh lalu menanam sawit beberapa tahun lalu. Hasilnya seperti sekarang, karena memang awalnya hanya mau bikin tempat pemancingan lalu berkembang," katanya.
Ia mengaku dengan adanya bantuan dari PT Timah dirinya bisa membangun lebih banyak gazebo dan jumlah pengunjung yang datang juga bisa lebih banyak.
"Bantuan dari PT Timah akan digunakan untuk membuat gazebo, jadi nantinya kalau ada yang datang rombongan bisa kita fasilitasi, selama ini kan kita terkendala di tempat. Sekarang saung-saungnya belum banyak sehingga yang mau datang ke sini harus reservasi dulu satu hari sebelum. Kalau banyak yang datang kan juga akan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat di sini," ujarnya.
Ia menyatakan aktivitas penambangan yang dilakukan di dekat resto dan pemancingannya merupakan IUP PT Timah, sehingga proses penambangan diawasi oleh perusahaan dan bisa meminamalkan dampak lingkungan.
"Kalau yang nambang PT Timah enak, karena mereka pasti mengawasi. Namun yang repot ini kan yang ilegal mereka nambang di hulu yang bukan kawasan tambang sehingga mengganggu sektor lainnya," ucapnya.
Ia berharap PT Timah dapat terus membina penambang-penambang kecil sehingga nantinya bisa melaksanakan penambangan yang baik dan pasca tambangnya bisa digunakan untuk berbagai sektor lainnya seperti perikanan dan pariwisata.
"Semoga PT Timah nanti bisa jaya terus jadi bisa membina penambang kecil lainnya, manfaatnya bisa dirasakan masyarakat karena CSR membantu dalam berbagai bidang dan bisa saling mendukung," katanya.
Pewarta: AprionisUploader : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.