Pangkalpinang (ANTARA) - Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V Jambi menyatakan Kota Kapur, Kabupaten Bangka layak ditetapkan menjadi situs utama di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung karena memiliki nilai penting yang mewakili sejarah pembentukan karakter budaya daerah dan nasional.
"Situs Kota Kapur memiliki nilai penting, sehingga sangat layak menjadi situs utama Babel," kata Kepala BPK Wilayah V Jambi Agus Widiatmoko di Pangkalpinang, Jumat.
Ia mengatakan Kota Kapur memiliki nilai-nilai sejarah dalam pembentukan karakter budaya, terutama terkait dengan eksistensi Kerajaan Sriwijaya di Bangka yang pengaruhnya dirasakan hingga tingkat nasional, bahkan kawasan Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Timur Jauh.
"Dalam situs Kota Kapur ini terdapat nilai-nilai agama, kebudayaan, dan agama," katanya.
Ia menyatakan nilai agama di situs Kota Kapur menjadi contoh masyarakat lokal Pulau Bangka mampu menyiapkan permukiman aman yang dikelilingi benteng tanah, mendirikan candi, membuat prasasti dan dermaga menggunakan sumber daya alam lokal.
Baca juga: BKP Wilayah V Jambi temukan kapal kuno di Kota Kapur
Baca juga: BPK Wilayah V Jambi sebut Babel miliki peran penting terhadap peradaban dunia
"Dengan menggunakan pengetahuan yang diturunkan pendahulunya, penduduk Kota Kapur mampu mengolah getah kamper menjadi komoditas internasional sebelum timah muncul menjadi andalan ekspor Pulau Bangka ratusan tahun sesudahnya," katanya.
Nilai kebudayaan di situs Kota Kapur menjadi contoh sedikit daerah di Indonesia di mana asimilasi budaya lokal dengan asing berlangsung dengan baik.
"Masyarakat Bangka kuno mampu menyerap pengaruh budaya Indik menjadi bagian dari budaya lokal yang terus berkembang sampai dengan masuknya agama Islam ke nusantara," katanya.
Nilai agama di situs Kota Kapur sebagai satu di antara sedikit tempat yang menerima pengaruh agama Hindu pertama di Indonesia. Pemujaan Dewa Wisnu (Waisnait) yang berkembang tidak bersifat lokal tetapi internasional, seperti yang diketahui berkembang di pesisir Jawa Barat, Jawa Tengah, dan sedikit negara di Asia Tenggara.
Sekitar abad 5 hingga 6, pada umumnya dewa-dewa yang dipuja belum mewakili konsep Tri Murti (ketunggalan antara peran Dewa Wisnu sebagai pencipta, Dewa Shiwa sebagai perusak, dan Dewa Brahma sebagai pemelihara semesta) seperti yang dikenal sekarang. Pemujaan baru terpusat pada dewa-dewa tertentu yang dalam kasus Kota Kapur adalah Dewa Wisnu.
"Hal ini menarik perhatian karena pada masa kemudian agama Hindu yang berkembang di Jawa dan Bali peran Dewa Shiwa (Siwait) lebih menonjol dibandingkan Wisnu atau Brahma," katanya.
