Koba, Babel (ANTARA) - Bupati Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Algafry Rahman menilai kegiatan pesantren kilat Ramadhan berperan penting dalam memperkuat pembentukan karakter, disiplin, dan pemahaman keagamaan siswa di tengah tantangan perkembangan sosial dan teknologi saat ini.

"Pesantren kilat tidak hanya menjadi sarana peningkatan spiritualitas selama Ramadhan, tetapi juga wadah pembinaan adab, etika, serta tanggung jawab sosial peserta didik," kata Bupati Algafry saat membuka kegiatan pesantren kilat yang diikuti sebanyak 700 pelajar SMP Negeri 1 Koba, Senin.

Kegiatan bertema “Menanam Adab, Menuai Keberkahan, Tumbuh dan Berkembang di Taman Kesalihan” yang dijadwalkan berlangsung selama empat hari itu, kata Algafry, sangat penting sebagai fondasi dalam membentuk pribadi pelajar yang berkarakter dan berintegritas.

Dalam kesempatan itu Bupati Algafry mengajak para siswa mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas, serta memanfaatkan momentum Ramadhan untuk memperdalam ilmu agama.

Algafry juga menegaskan ilmu yang diperoleh dari pesantren kilat harus terus dikembangkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kegiatan ini melatih disiplin, membangun kebiasaan positif, dan memperkuat nilai moral siswa, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat,” katanya.

Bupati Algafry juga menyampaikan kegiatan pesantren kilat dilaksanakan di sejumlah wilayah lain di Bangka Tengah, seperti Kecamatan Namang dan Lubuk Besar.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah (pemda) dalam mendukung pembinaan karakter generasi muda secara berkelanjutan.

Menurut dia, pendekatan pembinaan siswa perlu menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan peran guru dinilai strategis dalam memberikan pendampingan agar nilai-nilai yang disampaikan dapat diterima dan dipahami secara efektif.

Kepala SMP Negeri 1 Koba Hana Meilani mengatakan pesantren kilat Ramadhan dirancang sebagai kegiatan pembinaan karakter yang inklusif.

Selain siswa Muslim, kata dia, sekolah juga menyelenggarakan bimbingan keagamaan bagi siswa Katolik, Kristen, Konghucu, dan Buddha, dengan menghadirkan tokoh agama masing-masing. Pola tersebut bertujuan menanamkan sikap toleransi dan saling menghormati dalam keberagaman.

“Melalui kegiatan ini siswa tidak hanya memperdalam keyakinan agamanya, tetapi juga belajar hidup berdampingan secara harmonis. SMP Negeri 1 Koba mencerminkan miniatur Indonesia,” ujarnya.



Pewarta: Ahmadi
Uploader : Bima Agustian

COPYRIGHT © ANTARA 2026