Pangkalpinang (ANTARA) - Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Didit Sri Gusjaya bersama perwakilan mahasiswa Kristen membahas perkembangan sejumlah isu strategis, mulai dari narkotika, judi online, pertambangan, hingga royalti daerah.
"Isu-isu strategis ini bukan lagi sekadar persoalan daerah, tapi menjadi masalah nasional jadi kita bicara bagaimana menyelamatkan generasi muda dari ancaman narkotika dan judi online khususnya," kata Ketua Didit di Pangkalpinang, Rabu.
Ia mengatakan persoalan isu-isu strategis yang terus berkembang ini harus ditangani serius, dimulai dari edukasi di lingkungan terdekat, dari anak-anak kita, saudara, sampai lingkungan sekitar harus paham dampaknya karena bisa merusak pikiran sekaligus kesehatan.
"Mari kita beri edukasi ke orang-orang terdekat, keluarga dan lingkungan kita," ujarnya.
Dan terkait penataan pertambangan rakyat melalui regulasi Izin Pertambangan Rakyat (IPR), dalam waktu dekat, DPRD Babel akan segera mengesahkan Perda IPR supaya aktivitas pertambangan masyarakat punya legalitas yang jelas.
Penerapan IPR bergantung pada Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) yang ditetapkan pemerintah pusat berdasarkan usulan kepala daerah dan saat ini, baru tiga wilayah yang memenuhi syarat, yakni Bangka Selatan, Bangka Tengah dan Belitung Timur yang bisa, sedangkan kabupaten lain belum, karena WPR-nya belum diusulkan.
"Ini bukan soal tidak adil, tapi memang prosedurnya seperti itu. Jika WPR sudah ada, IPR pasti bisa menyusul dan kita harus bergerak bersama, karena ini menyangkut masa depan generasi kita," terang Didit.
Selain itu Ketua Didit juga menyesali belum terbayarnya royalti timah dari pemerintah pusat yang nilainya diperkirakan mencapai Rp2 triliun karena dana tersebut bisa untuk mendukung pemerintah agar salah satu program beasiswa bagi mahasiswa kurang mampu bisa terealisasi.
“Ini hak daerah. Kalau kewajiban sudah kita jalankan, maka royalti itu juga harus dibayarkan. Jika terealisasi, daerah bisa lebih leluasa menjalankan program-program penting salah satunya beasiswa untuk mereka yang putus pendidikan hanya karena keterbatasan biaya," tutup Didit.
Pewarta: Elza ElviaUploader : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026