Pangkalpinang (ANTARA) - Badan Narkotika Nasional (BNN) RI mengintensifkan pengawasan pelabuhan "tikus" atau pelabuhan tidak resmi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, guna mencegah peredaran narkoba di daerah itu.

"Babel ini sangat strategis, karena wilayah kepulauan yang banyak pintu masuknya bagi barang haram ini," kata Kepala BNN RI Komjen Pol Suyudi Ario Seto di Pangkalpinang, Jumat.

Ia mengatakan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki enam kabupaten dan satu kota yang memiliki pelabuhan resmi dan juga pelabuhan "tikus" yang dapat dijadikan sebagai pintu masuk utama peredaran gelap narkoba.

"Banyak pintu masuk narkoba di daerah ini, baik pintu masuk resmi yang dipantau TNI Angkat Laut, kepolisian, bea cukai dan instansi terkait lainnya, namun ada pintu masuk yang tidak terawasi, yaitu pelabuhan tikus dan pelabuhan tidak resmi inilah yang dijadikan para pengedar jaringan antar provinsi dan internasional untuk memasukkan barang haram ini," katanya.

Menurut dia, berdasarkan laporan BNN Provinsi Kepulauan Babel, jumlah masyarakat Kepulauan Babel yang terpapar penyalahgunaan narkoba sekitar 24.000 orang dan bukan jumlah kecil untuk wilayah kepulauan.

"Ini butuh strategi, tindakan luar biasa dan jangan dilakukan secara biasa-biasa saja, karena para pengedar dan bandar ini akan melakukan berbagai cara untuk memasukkan serta mengedarkan barang haram ini," katanya.

Ia menambahkan kini ada narkoba dalam bentuk cair dan memiliki dampak buruk yang luar biasa terhadap pemakainya.

"Dulu wujud narkotika ini bisa kelihatan dengan jelas, seperti kokain, ganja, heroin, ekstasi, morfin masuk bandara langsung ketahuan. Namun sekarang ini, barang haram ini sudah berbentuk cair yang sulit dideteksi," katanya.
 



Pewarta: Aprionis
Editor : Feny Aprianti

COPYRIGHT © ANTARA 2026