Pangkalpinang (ANTARA) - Kemerdekaan Indonesia tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari kerja panjang banyak kekuatan sosial, keagamaan, kebangsaan, dan kepemudaan. Di antara kekuatan itu, Muhammadiyah memiliki jejak penting sebagai gerakan Islam modern yang menempatkan pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial sebagai jalan membangun bangsa. Dari rahim gerakan inilah Pemuda Muhammadiyah hadir sejak 2 Mei 1932 di Yogyakarta, bukan sekadar sebagai organisasi kepemudaan, melainkan sebagai ruang kaderisasi untuk melahirkan kader persyarikatan, umat, dan bangsa. Pada titik ini, Milad ke-94 Pemuda Muhammadiyah menjadi momentum untuk membaca kembali peran pemuda Islam dalam menjawab tantangan Indonesia hari ini.

Dalam usia hampir Satu Abad, Pemuda Muhammadiyah menghadapi tantangan yang berbeda dari masa kelahiran. Jika dahulu medan juang adalah kolonialisme, keterbelakangan pendidikan, dan pembentukan kesadaran kebangsaan, maka hari ini tantangannya bergerak ke arah yang lebih kompleks: disrupsi digital, krisis etika publik, ketimpangan ekonomi, polarisasi sosial, dan melemahnya daya tahan generasi muda. 

Karena itu, refleksi Milad tidak cukup berhenti pada kebanggaan historis, tetapi harus menjadi pintu masuk untuk menilai kembali sejauh mana Pemuda Muhammadiyah mampu merawat akar gerakan, memperkuat kapasitas kader, dan hadir sebagai kekuatan solutif dalam dinamika kebangsaan hari ini.

Dinamika Kebangsaan Hari Ini: Terbuka, Terkoneksi, Penuh Tantangan

Indonesia hari ini berada dalam situasi yang tidak sederhana. Di satu sisi, bangsa ini menunjukkan optimisme. Ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen year-on-year, dengan pengeluaran konsumsi pemerintah tumbuh tinggi dan sektor akomodasi serta makan-minum menjadi salah satu lapangan usaha yang paling cepat bertumbuh. Bank Indonesia juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2026 berada pada kisaran 4,9 hingga 5,7 persen, sembari menekankan pentingnya bauran kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, stimulus fiskal, dan sektor riil. 

Namun, optimisme itu tidak boleh menutup mata terhadap kerentanan. Dunia sedang berada dalam bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global. IMF dalam World Economic Outlook April 2026 menggambarkan ekonomi global menghadapi ujian baru akibat perang di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pertumbuhan dan proses penurunan inflasi. World Bank juga mencatat bahwa pertumbuhan global menghadapi risiko dari ketegangan perdagangan yang meningkat, dan memburuknya sentimen pasar keuangan, kekhawatiran fiskal, serta kejutan inflasi. 

Di dalam negeri, keterbukaan informasi menghadirkan peluang sekaligus masalah baru. Media sosial mempercepat pertukaran pengetahuan, memperluas partisipasi publik, dan membuka ruang dakwah yang lebih luas. Tetapi pada saat yang sama, ruang digital juga menjadi tempat suburnya hoaks, penipuan, ujaran kebencian, dan polarisasi. Beberapa klarifikasi resmi pemerintah pada 2026, misalnya terkait klaim penonaktifan media sosial dan tautan internet gratis palsu, menunjukkan bahwa masyarakat masih harus terus memperkuat literasi digital. 

Dalam situasi seperti inilah, Pemuda Muhammadiyah dituntut mengambil peran lebih strategis. Gerakan pemuda tidak boleh hanya sibuk dengan konsolidasi internal, tetapi harus hadir menjawab problem bangsa, yakni pengangguran muda, ketimpangan ekonomi, krisis literasi digital, lemahnya etika politik, keterbelahan sosial, dan tekanan ekonomi global yang berdampak sampai ke daerah.

Bertumbuh: Memperluas kapasitas kader dan gerakan

Tema “bertumbuh” perlu dimaknai lebih dari sekadar bertambahnya jumlah kader, struktur, atau kegiatan seremonial. Bertumbuh berarti meningkatnya kualitas kader, kedalaman gagasan, kemampuan manajerial, kapasitas teknologi, serta keberanian mengambil peran dalam ruang-ruang strategis pembangunan.

Pemuda Muhammadiyah harus bertumbuh sebagai kekuatan intelektual. Kadernya perlu terbiasa membaca data, memahami kebijakan publik, menguasai literasi ekonomi, dan mampu menyampaikan gagasan secara argumentatif. Di era keterbukaan informasi, siapa pun dapat berbicara, tetapi tidak semua mampu memberi arah. Karena itu, kader Pemuda Muhammadiyah perlu menjadi penjernih di tengah banjir opini, bukan sekadar ikut meramaikan kebisingan digital.

Pemuda Muhammadiyah juga harus bertumbuh sebagai kekuatan ekonomi. Tekanan ekonomi global, ketidakpastian pasar kerja, dan perubahan struktur industri menuntut generasi muda memiliki kemandirian baru. Gerakan kewirausahaan, koperasi pemuda, UMKM berbasis komunitas, ekonomi masjid, industri kreatif, pertanian lokal, teknologi digital, dan filantropi produktif perlu menjadi agenda nyata. Dakwah berkemajuan hari ini tidak cukup hanya mengajak kepada kebaikan secara lisan, tetapi juga membuka jalan kemandirian ekonomi umat.

Selain itu, Pemuda Muhammadiyah harus bertumbuh sebagai kekuatan kepemimpinan publik. Kader-kadernya perlu hadir di pemerintahan, kampus, media, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, parlemen, desa, komunitas, dan ruang digital. Namun, kehadiran itu harus membawa etika, bukan sekadar ambisi. Membawa solusi, bukan hanya kritik. Membawa nilai, bukan semata kepentingan.

Mengakar: Menjaga nilai, merawat kebersamaan

Jika bertumbuh adalah kebutuhan untuk bergerak maju, maka mengakar adalah syarat agar gerakan tidak kehilangan arah. Mengakar berarti tetap berpijak pada nilai Islam berkemajuan, tajdid, dakwah amar ma’ruf nahi munkar, akhlak publik, dan komitmen kebangsaan.

Mengakar juga berarti tidak tercerabut dari realitas masyarakat. Pemuda Muhammadiyah harus hadir di tengah denyut kehidupan rakyat di desa, pesisir, kampung kota, sekolah, kampus, masjid, komunitas pekerja muda, petani, nelayan, pelaku UMKM, dan kelompok rentan. Di sanalah masalah bangsa tampak secara nyata. Bukan hanya dalam angka statistik, tetapi dalam wajah manusia yang berjuang menghadapi harga kebutuhan, biaya pendidikan, sulitnya pekerjaan, rendahnya literasi, dan keterbatasan akses ekonomi.

Dalam konteks daerah, mengakar berarti Pimpinan ranting, Cabang, Daerah, dan Wilayah Pemuda Muhammadiyah tidak boleh hanya menjadi struktur administratif. Ia harus menjadi mesin sosial yang bekerja. Di tingkat ranting dan cabang, gerakan dapat mengambil bentuk pengajian pemuda, pelatihan kewirausahaan, literasi digital, advokasi sosial, penguatan ekonomi masjid, kepedulian lingkungan, pendampingan pelajar, dan solidaritas kebencanaan. Di tingkat daerah dan wilayah, gerakan dapat diperkuat melalui konsolidasi kader, sekolah kepemimpinan, jejaring lintas komunitas, serta kolaborasi dengan pemerintah daerah, kampus, dunia usaha, dan organisasi masyarakat sipil.

Mengakar bukan berarti tertutup. Justru karena memiliki akar nilai yang kuat, Pemuda Muhammadiyah dapat berkolaborasi dengan siapa pun untuk kebaikan bangsa. Identitas yang matang tidak membuat gerakan menjadi eksklusif, tetapi membuatnya percaya diri untuk bekerja lintas kelompok, lintas profesi, lintas iman, dan lintas generasi.

Dari daerah ke nasional: Daya dukung untuk kemajuan Indonesia

Pemuda Muhammadiyah memiliki potensi besar sebagai daya dukung pembangunan nasional. Kekuatan itu bukan hanya karena sejarahnya panjang, tetapi karena gerakannya memiliki jaringan dari daerah hingga nasional. Bila jaringan ini dikelola secara produktif, Pemuda Muhammadiyah dapat menjadi salah satu kekuatan strategis dalam membangun kualitas manusia Indonesia.

Di tingkat daerah, Pemuda Muhammadiyah dapat menjadi mitra kritis pemerintah dalam pembangunan. Mitra kritis berarti mampu mendukung program yang baik, memberi masukan terhadap kebijakan yang belum berpihak kepada rakyat, dan menjadi jembatan antara pemerintah dengan masyarakat. Peran ini penting terutama dalam isu pendidikan, kesehatan, ekonomi pemuda, ketahanan keluarga, literasi digital, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.

Di tingkat nasional, Pemuda Muhammadiyah dapat memperkuat agenda besar pembangunan Indonesia melalui tiga kontribusi. Pertama, kontribusi moral, yaitu menjaga etika publik di tengah politik yang sering terjebak pada pragmatisme dan transaksi kekuasaan. Kedua, kontribusi sosial, yaitu menggerakkan solidaritas, pelayanan, dan pemberdayaan masyarakat. Ketiga, kontribusi intelektual, yaitu menawarkan gagasan berbasis ilmu, data, dan pengalaman lapangan.

Era keterbukaan informasi menuntut Pemuda Muhammadiyah tampil sebagai gerakan yang adaptif. Dakwah harus masuk ke ruang digital dengan bahasa yang cerdas, santun, dan membangun. Kader harus mampu memproduksi konten yang mencerahkan, melawan hoaks tanpa kebencian, memperkuat literasi publik, dan membangun narasi kebangsaan yang menyejukkan.

Sementara itu, krisis dan tekanan ekonomi global menuntut Pemuda Muhammadiyah memperkuat agenda kemandirian. Gerakan pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton dari perubahan ekonomi dunia. Ia harus ikut menyiapkan generasi muda yang tangguh, produktif, kreatif, dan mandiri. Di sinilah makna dakwah berkemajuan menemukan bentuk konkretnya, yakni membangun manusia yang beriman, berilmu, berakhlak, dan berdaya saing.

Pada akhirnya, Milad ke-94 Pemuda Muhammadiyah adalah panggilan sejarah. Panggilan untuk tidak berhenti pada kebanggaan masa lalu. Panggilan untuk menjadikan usia panjang sebagai sumber kedewasaan gerakan. Panggilan untuk terus bertumbuh dalam kualitas dan mengakar dalam nilai.

Pemuda Muhammadiyah harus menjadi pelanjut pencerahan, penjaga akal sehat bangsa, dan penggerak karya peradaban. Indonesia Jaya tidak akan lahir hanya dari slogan, tetapi dari kerja nyata, kader yang berintegritas, ekonomi yang berkeadilan, demokrasi yang beretika, dan masyarakat yang tercerahkan. Di titik inilah Pemuda Muhammadiyah memiliki ruang sejarahnya, bergerak dari daerah hingga nasional, merawat nilai, membangun karya, dan menghadirkan manfaat bagi Indonesia yang maju, adil, dan berkeadaban.

 

*) Dr. Novendra Hidayat, M.Si. adalah Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Kepulauan Bangka Belitung, Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Bangka Belitung



Uploader : Bima Agustian

COPYRIGHT © ANTARA 2026