Pangkalpinang (ANTARA) - Di lingkungan kita beraktivitas sekarang, penggunaan layanan paylater dan pinjaman online (pinjol) sudah menjadi hal yang lumrah. Tidak sedikit orang yang membeli barang, membayar kebutuhan sehari-hari, bahkan menutupi kekurangan uang saku melalui fasilitas kredit digital yang dapat diakses hanya dalam hitungan menit. Kemudahan ini memang menawarkan solusi instan, tetapi di baliknya tersimpan risiko yang sering kali tidak disadari oleh penggunanya.
Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pesatnya perkembangan teknologi keuangan dengan tingkat literasi keuangan masyarakat, khususnya Generasi Z. Mereka tumbuh di era digital, terbiasa menggunakan berbagai aplikasi keuangan, tetapi belum tentu semua generasi z memahami konsekuensi dari setiap keputusan finansial yang diambil.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa outstanding pinjaman online telah mencapai lebih dari Rp101,03 triliun pada Maret 2026. Sementara itu, kelompok usia 19–34 tahun menjadi penyumbang terbesar kredit bermasalah. Fakta ini mengindikasikan bahwa kelompok usia tersebut merupakan kelompok yang paling aktif memanfaatkan layanan keuangan digital sekaligus paling rentan mengalami kesulitan pembayaran.
Banyak pengguna hanya fokus pada besarnya cicilan bulanan yang terlihat ringan. Mereka jarang menghitung total kewajiban yang harus dibayar hingga akhir masa pinjaman. Akibatnya, seseorang dapat memiliki beberapa cicilan sekaligus tanpa menyadari bahwa sebagian besar pendapatannya telah habis untuk membayar utang. Kondisi ini sering berujung pada praktik gali lubang tutup lubang yang semakin memperburuk keadaan keuangan.
Masalah utamanya bukan terletak pada keberadaan pinjol atau Buy Now Pay Later (BNPL) itu sendiri. Produk keuangan tersebut pada dasarnya dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan mendesak atau mengelola arus kas. Persoalan ini muncul ketika layanan tersebut digunakan tanpa pemahaman yang memadai mengenai bunga, biaya tambahan, kemampuan membayar, serta risiko keterlambatan pembayaran.
Ada faktor lain yang membuat generasi z melakukan pinjaman online yaitu tekanan sosial. Generasi Z tumbuh di ekosistem media sosial yang menjadikan konsumsi sebagai ekspresi identitas. Apa yang dipakai, di mana makan, gadget apa yang dimiliki semua menjadi bagian dari citra yang dikurasi setiap hari. Dalam lingkungan seperti itu, ada tekanan halus yang konstan untuk tampil sesuai standar tertentu, meskipun standar itu jauh melampaui kemampuan finansial yang sesungguhnya, yang sering disebut dengan gengsi.
Penelitian OJK Institute menemukan bahwa pengaruh teman sebaya dan paparan iklan di media sosial adalah dua faktor pendorong terbesar dalam keputusan penggunaan pinjol di kalangan anak muda sekarang. Ini bukan soal lemahnya karakter individu ini soal lingkungan yang memang mendorong keputusan berbasis emosi, bukan pertimbangan rasional.
Padahal dampak dari keputusan tersebut tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek. Sejak seluruh penyelenggara pinjaman online legal diwajibkan melaporkan data nasabah ke Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), riwayat kredit yang buruk dapat memengaruhi akses seseorang terhadap pembiayaan di masa depan. Keterlambatan pembayaran hari ini bisa menjadi hambatan ketika kelak ingin mengajukan kredit rumah, kendaraan, maupun modal usaha.
Karena itu, peningkatan literasi keuangan harus menjadi prioritas bersama. Pendidikan mengenai pengelolaan keuangan tidak cukup hanya mengajarkan pentingnya menabung, tetapi juga harus membekali generasi z dan generasi lainnya juga dengan kemampuan menyusun anggaran, menghitung biaya pinjaman, memahami risiko utang, serta membedakan kebutuhan dan keinginan.
Sekolah dan perguruan tinggi perlu memberikan ruang yang lebih besar bagi edukasi keuangan praktis. Di saat yang sama, penyedia layanan keuangan juga harus menyajikan informasi biaya dan risiko secara lebih transparan agar pengguna dapat mengambil keputusan secara sadar. Selain itu, komunitas mahasiswa dan organisasi kepemudaan dapat berperan sebagai agen literasi yang mendorong budaya pengelolaan keuangan yang sehat.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi keuangan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Namun kemudahan akses tanpa pemahaman yang memadai justru dapat menjadi bumerang. Generasi Z membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menggunakan aplikasi keuangan; mereka membutuhkan kemampuan memahami konsekuensi dari setiap keputusan finansial yang diambil.
Riwayat kredit buruk di usia 20-an dapat menutup pintu di usia 30-an. Tumpukan cicilan yang tidak terkelola dapat menggerus potensi modal usaha yang seharusnya bisa dibangun sejak muda. Sebagian besar dari ini bisa dicegah jika ada satu hal yang diprioritaskan: literasi keuangan yang dibangun sejak dini, dilatih secara konsisten, dan dijadikan standar kompetensi bagi setiap orang yang hidup di era digital ini.
Bukan karena berutang itu salah. Tapi karena berutang tanpa pemahaman adalah jalan paling pasti menuju kondisi yang jauh lebih buruk dari yang dibayangkan.
Literasi keuangan bukan lagi sekadar pengetahuan tambahan, melainkan bekal penting untuk menghadapi kehidupan ekonomi yang semakin kompleks. Dengan pemahaman yang baik, generasi z dapat memanfaatkan teknologi keuangan secara bijak tanpa terjebak dalam lingkaran utang yang merugikan masa depan mereka.
*) Penulis adalah mahasiswa Universitas Bangka Belitung
Uploader : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.