Belitung (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mencatat Kota Tanjungpandan mengalami inflasi bulan ke bulan sebesar 0,36 persen pada Mei 2026, salah satunya dipicu oleh kenaikan harga tiket pesawat.
"Pemerintah kembali menetapkan penyesuaian komponen harga tiket pesawat dalam negeri karena adanya biaya tambahan untuk bahan bakar, sehingga harga tiket domestik kembali naik," kata Kepala BPS Kabupaten Belitung Baiq Kurniawati di Tanjungpandan, Rabu.
Baiq menjelaskan, tarif angkutan udara menjadi penyumbang andil inflasi bulanan terbesar di Tanjungpandan, yaitu sebesar 0,12 persen.
Selanjutnya diikuti oleh komoditas sawi hijau sebesar 0,11 persen dan daging ayam ras sebesar 0,11 persen.
Meskipun demikian, ia menyebutkan bahwa angka inflasi bulanan pada Mei 2026 ini sebenarnya masih lebih rendah dibandingkan dengan capaian pada bulan sebelumnya.
Secara akumulatif, inflasi tahun ke tahun Tanjungpandan berada di angka 2,46 persen, sedangkan inflasi tahun kalender tercatat sebesar 0,55 persen.
Lebih lanjut, Baiq memaparkan situasi regional di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di mana hampir seluruh kabupaten/kota mengalami inflasi pada periode Mei 2026.
"Seluruh wilayah di Bangka Belitung mengalami inflasi, kecuali Kabupaten Bangka Barat yang justru mengalami deflasi sebesar 0,62 persen," ujarnya.
Selain faktor transportasi udara, pergerakan harga di Belitung juga dipengaruhi oleh momentum menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, di mana sejumlah komoditas pangan mengalami lonjakan harga yang cukup signifikan secara nasional.
Guna menjaga stabilitas harga dan menjaga daya beli masyarakat terhadap kebutuhan pokok, Pemerintah Kabupaten Belitung mengantisipasinya dengan menggelar gerakan pangan murah dan pasar Tani di Tanjungpandan.
Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Belitung Syamsudin menegaskan bahwa data statistik yang dirilis oleh BPS ini merupakan rujukan penting bagi pemerintah daerah untuk merumuskan kebijakan.
"Data bukan sekadar angka, melainkan cerminan kondisi nyata masyarakat. Tanpa data yang akurat, proses perencanaan pembangunan ibarat berjalan dalam kegelapan," kata Syamsudin.
Ia menambahkan, Pemkab Belitung akan memanfaatkan data inflasi teraktual ini sebagai kompas untuk mengidentifikasi komoditas yang memerlukan intervensi khusus guna mengendalikan kondisi inflasi daerah.
"Hal ini dilakukan guna memperkuat daya tahan ekonomi masyarakat di tengah tantangan global saat ini," ujarnya.
Pewarta: ApriliansyahUploader : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.