Pangkalpinang (ANTARA) - Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bangka Belitung membantu mengenalkan berbagai produk usaha mikro, kecil dan menengah unggulan daerah agar mampu menembus pasar ekspor.

"Kami bersama Kementerian Perdagangan Republik Indonesia dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Lima, Peru, telah melaksanakan kegiatan mengenalkan produk UMKM unggulan kepada beberapa pihak terkait," kata Kepala Bidang Sarana Perdagangan dan Pengembangan Eskpor Disperindag Provinsi Babel Agus Setia Rini di Pangkalpinang, Kamis.

Ia menjelaskan kegiatan pengenalan produk yang dilakukan melalui pertemuan daring tersebut untuk menjelaskan produk pelaku usaha asal Bangka Belitung berupa lada dan minyak esensial, karena ada peluang besar produk itu ekspor ke Peru, Amerika Selatan.

Disperindag Babel juga mengundang para pengusaha UMKM Babel dengan produk lada dan minyak esensial yaitu Billiton Spice, PT Makro Jaya Lestari, Cultivia, PT Senara Harta Indo Loka dan dan anggota Tim Kerja Pengembangan Ekspor ikut serta dalam menjelaskan produk.

Ia mengatakan ketika ada agenda "business pitching", pihaknya langsung menginventarisasi dan menyampaikan usulan pengusaha UMKM yang sudah punya pengalaman ekspor dan yang potensial ekspor. PT Makro Jaya Lestari sudah jadi pionir eksportir lada untuk pasar Asia dan Eropa sejak dulu, Billiton Spice dengan terobosan produk juga telah rutin di pasar Hongkong dan Belanda, sedangkan Cultivia menjadi produk potensial dan siap ekspor.

"KBRI Peru, Kemenlu dan Kemendag melalui program yang dijalankan dapat memberikan dukungan produk UMKM Babel ke Peru, terlepas saat ini yang banyak jadi pertimbangan adalah logistik, terutama transportasi, dalam proses ekspor," katanya.

Menindaklanjuti pertemuan itu, dia berharap para pelaku UMKM terus melakukan koordinasi intensif untuk mengikuti informasi terbaru.

Pada pertemuan itu, kata dia, PT. Makro Jaya Lestari menyampaikan presentasi produk lada unggulan mereka yakni FAQ dan Double Wash dengan kelengkapan sertifikasi untuk importasi lada dengan rata-rata kapasitas produksi mencapai 120 ton/bulan.

Sedangkan Billiton Spice dengan berbagai produk unggulan ekspor dengan brand sendiri juga telah dilengkapi sertifikasi. Billiton Spice selain menghadirkan produk lada hitam dengan aroma yang lebih kuat dan lada putih dengan kandungan piperin lebih dari lima persen, saat ini juga mengembangkan produk lada hijau yakni lada muda yang tidak terlalu pedas dan produk kombinasi lada dengan rempah lainnya.

Sedangkan Cultivia Essensial Oil memiliki keunggulan dalam prosesnya yang mengedepankan ekonomi sirkular serta melalui proses regenerative dan organik, berangkat dari kesadaran lingkungan pemulihan lahan pascatambang kaolin di Pulau Belitung dengan pola budidaya tumpang sari lada-tanaman atsiri.

"Cultivia dengan kapasitas produksi 1,2 ton penyulingan menghasilkan 200 kg essensial oil utamanya citronella, cajuput dan lemon grass siap memenuhi kebutuhan buyer," ujarnya.

Berdasarkan informasi dari KBRI di Lima, Peru, yang disampaikan Counsellor Fungsi Ekonomi Wahid Fairus Azis, potensi ekspor produk merica dan minyak esensial Indonesia (produk UMKM Babel) ke Peru berpeluang besar karena kedua negara telah memiliki hubungan dan perjanjian bilateral, serta didukung perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif CEPA (2025).

Peru mengimpor minyak esensial senilai 1,8 juta dolar AS pada tahun 2025, dan Indonesia adalah negara importir terbesar ke tujuh bagi Peru pada tahun tersebut.

Peru mengimpor merica senilai 10,32 juta dolar AS pada tahun 2025 melalui 20 importir lada dan diperkirakan kebutuhan akan terus meningkat karena promosi dan perkembangan kuliner.



Pewarta: Donatus Dasapurna Putranta/Elza Elvia
Uploader : Bima Agustian

COPYRIGHT © ANTARA 2026