Pangkalpinang (ANTARA) - Dosen Program Studi Sosiologi Universitas Bangka Belitung Dr Iskandar menyebutkan Tradisi Nganggung warga Desa Kemuja, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berperan penting dalam melestarikan hutan Kelekak di daerah ini.

"Pelestarian hutan Kelekak di Bangka Belitung masih menganut ekonomi moral terutama warga Desa Kemuja," katanya saat menjadi narasumber pada diskusi Menata Ulang Masa Depan Kelekak Babel secara daring di Pangkalpinang, Kamis.

Ia mengatakan ekonomi moral pelestarian hutan Kelekak di Desa Kemuja Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini, di mana masyarakat Desa Kemuja setiap memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW selalu menggelar Nanggung di mana buah-buahan yang disajikan dalam kegiatan tradisi tersebut berasal dari hutan Kelekak.

Nganggung di Desa Kemuja, Kecamatan Mendo Barat merupakan tradisi turun-temurun membawa makanan di dalam dulang atau nampan besar yang ditutup tudung saji ke masjid untuk disantap bersama saat hari besar Islam seperti Maulid Nabi Muhammad SAW.

"Pada tanggal 25 Agustus tahun ini, warga Desa Kemuja akan menggelar Nganggung untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dan masyarakat akan membawa berbagai makanan dan buah-buahan yang berasal dari hutan Kelekak untuk disantap bersama-sama di masjid," katanya.

Ia menyatakan buah-buahan yang disajikan dalam dulang pada tradisi Nganggung ini bersumber dari hutan Kelekak dan ini sangat menarik dalam menjaga dan melestarikan hutan Kelekak di daerah ini.

"Buah-buahan yang dibawa sesuai musim di hutan Kelekak. Misalnya, saat ini hutan Kelekak di Desa Kemuja sedang musim duku, cempedak, rambutan dan lainnya maka buah inilah yang akan dibawa di tradisi Nganggung ini," katanya.

Menurut dia, tantangan tradisi Ngangung dalam pelestarian hutan Kelekak di Desa Kemuja ini adalah sulit diwariskan kepada generasi muda di tengah kemajuan teknologi yang semakin pesat.

"Tradisi ini sulit diwariskan ke generasi Gen Z, alpa, beta dan generasi muda sekarang ini. Jangan-jangan mereka tidak tahu mana pohon cempedak, durian dan pohon-pohon buah lokal di hutan Kelekak ini," katanya.

Ia menambahkan Kelekak merupakan kearifan lokal masyarakat Bangka Belitung berupa kawasan kebun buah atau hutan dusun campuran warisan leluhur yang dikelola secara turun-temurun dan Kelekak berasal dari akronim 'kelak kek ikak' atau nanti untuk kamu atau anak cucu.

"Dalam pelestarian tradisi ini mengalami kemandekan dalam pewarisan ini, sehingga diperlukan peraturan desa untuk menggencarkan sosialisasi dan edukasi tradisi dan kearifan lokal masyarakat di daerah ini," katanya.



Pewarta: Aprionis
Uploader : Rustam Effendi

COPYRIGHT © ANTARA 2026