Pangkalpinang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bersama PT PLN (Persero) mematangkan proyek interkoneksi kelistrikan Pulau Sumatera dengan Pulau Bangka Tahap II, guna meningkatkan ketahanan energi masyarakat di daerah itu.
"Kita menargetkan interkoneksi kelistrikan beroperasi 2028 sehingga dapat menjadi katalisator masuknya investasi besar di daerah ini," kata Plt Kepala Biro Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Kepulauan Babel, M. Yunus di Pangkalpinang, Rabu.
Ia mengatakan kesepakatan dan pematangan proyek interkoneksi kelistrikan Pulau Sumatera - Pulau Bangka Tahap II ini telah dibahas secara komprehensif untuk mengalirkan tambahan pasokan daya listrik sebesar 150 kV, melalui pembangunan infrastruktur Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan Saluran Kabel Laut Tegangan Tinggi (SKLT).
"Saat ini kita sebetulnya sudah surplus. Dari beban puncak 190 kV, kita masih ada sisa. Dengan tambahan 150 kV nanti, total kapasitas kelistrikan Bangka Belitung akan semakin luar biasa menembus 300 kV. Ini akan memastikan daerah kita tidak akan kesulitan listrik lagi," ujarnya.
Ia menyatakan keunggulan utama dari gebrakan interkoneksi tahap kedua ini yaitu terletak pada rute kabel bawah laut yang sangat efisien. Jaringan SKLT akan melintasi Tulung Selapan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menuju Desa Marina, sebelum akhirnya mendarat di Desa Permis, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan.
"Jarak tempuh kabel lautnya sangat efisien, hanya 14 kilometer. Ini sebuah pencapaian dan lompatan besar jika dibandingkan dengan pembangunan Tahap I dari Tanjung Api-api ke Mentok yang bentangannya mencapai 63 kilometer," ujarnya.
Assistant Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Sumatera Bagian Selatan, Dimas Kriesta Wijaya mengatakan titik pendaratan (landing point) utama proyek ini, menghubungkan Sumatera Landing Point di Tanjung Tapah (OKI) menuju Bangka Landing Point di Tanjung Berani (Bangka Selatan).
Selain instalasi SKLT 14 kilometer tersebut, PLN juga akan menarik jaringan SUTT 150 kV Koba–Bangka Landing Point Tahap II sepanjang 132 kilometer, serta SUTT 150 kV Mariana–Sumatera Landing Point Tahap II sepanjang 220 kilometer.
Sementara itu, untuk mendukung transmisi ini, lanjut Dimas, sebuah Gardu Induk (GI) baru rencananya akan dibangun di Koba, Bangka Tengah, guna mendampingi GI tahap pertama yang telah beroperasi di Mentok.
"Saat ini, keseluruhan proyek telah merampungkan tahapan studi kelayakan dan tengah dikebut proses perizinannya, termasuk Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR), Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut, hingga Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)," katanya.
Pewarta: AprionisUploader : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.