Tanjungpandan (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), memperkuat koordinasi agar kondisi inflasi daerah tetap terkendali dan stabil dalam batas normal.

"Koordinasi dengan berbagai pihak termasuk menyampaikan informasi melalui berita resmi statistik (BRS) dianggap cukup penting supaya inflasi daerah terkendali dan stabil dalam batas normal," kata ‎Kepala BPS Belitung Baiq Kurniawati di Tanjungpandan, Jumat.

Dia mengakui terjadi inflasi sebesar 0,61 persen akibat penurunan pasokan ayam ras saat terjadi peningkatan kebutuhan masyarakat di provinsi tersebut. 


‎"Komoditas andil inflasi terbesar bulan ke bulan (month-to-month) di September 2026 adalah daging ayam ras sebesar 0,61 persen," katanya.
‎
‎Ia menjelaskan, Kabupaten Belitung pada September 2026 mengalami inflasi bulan ke bulan (month-to-month) sebesar 1,89 persen, inflasi tahun ke tahun (year-on-year) sebesar 5,01 persen, serta inflasi tahun kalender (year-to-date) sebesar 3,91 persen.
‎
‎"Kondisi inflasi di September tercatat lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode Agustus 2026," ujar dia.
‎
‎Menurut Baiq, kenaikan harga daging ayam ras di wilayah setempat berkisar antara Rp50.000 hingga Rp58.000 per kilogram.
‎
‎Ia mengatakan lonjakan harga itu dipicu oleh berkurang pasokan dari perusahaan peternak, meningkatnya kebutuhan untuk mendukung program Makan Bergizi (MBG), serta kecenderungan pelaku usaha mempertahankan margin keuntungan di tengah kenaikan harga.
‎
‎"Selain itu, tingginya permintaan konsumen terhadap daging ayam ras turut didorong oleh peralihan konsumsi akibat kenaikan harga ikan laut menyusul cuaca ekstrem," katanya.
‎
‎Berdasarkan catatan peristiwa BPS Belitung, dinamika inflasi pada September 2026 juga dipengaruhi oleh faktor cuaca.
‎
‎Gelombang tinggi dan angin kencang yang terjadi sejak Juni 2026 membuat nelayan tradisional mengurangi intensitas melaut, sehingga memicu berkurangnya pasokan stok ikan di pasaran.
‎
‎Faktor eksternal turut mempengaruhi inflasi melalui lonjakan harga pelumas atau oli kendaraan yang diakibatkan oleh kenaikan harga bahan baku minyak di Timur Tengah.
‎
‎"Dari 11 kelompok pengeluaran pada September 2026, sebanyak sembilan kelompok tercatat mengalami inflasi, satu kelompok mengalami deflasi, dan satu kelompok lainnya mengalami perubahan harga yang sangat kecil," ujar dia.
‎
‎Baiq menyebutkan, penyebab inflasi umum tertinggi terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,90 persen, diikuti kelompok transportasi sebesar 2,39 persen, serta kelompok kesehatan sebesar 0,45 persen.
‎
‎Sementara itu, deretan komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar bulan ke bulan pada September 2026 meliputi daging ayam ras (0,61 persen), servis atau pemeliharaan kendaraan (0,39 persen), cabai rawit (0,21 persen), ikan tongkol (0,14 persen), serta ikan kerisi (0,13 persen).
 



Pewarta: Kasmono/Apriliansyah
Uploader : Bima Agustian

COPYRIGHT © ANTARA 2026