Muntok (Antaranews Babel) - Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, bersama tim peneliti Universitas Indonesia mematangkan persiapan pembangunan pembangkit listrik tenaga angin yang dinilai cocok dikembangkan di daerah pesisir.
"Pengaplikasian teknologi energi terbarukan ini terbukti cocok digunakan di wilayah terpencil, pulau terpencil dan wilayah pesisir karena penggerak kincir berbasis angin, kami berharap percontohan bisa segera direalisasikan di daerah itu," kata Kepala Bidang Perekonomian, Sumber Daya Alam, Infrastruktur dan Kewilayahan Badan Perencanaan Pembangunan dan Penelitian Pengembangan Daerah Kabupaten Bangka Barat Amar Sopi di Muntok, Rabu.
Ia mengatakan, pembangunan pembangkit listrik tenaga angin di daerah itu sudah digagas bersama tim peneliti dan pengabdian masyarakat Universitas Indonesia setahun lalu dan sebagai proyek percontohan akan dilaksanakan di Desa Belolaut, Muntok.
"Berbagai persiapan adminsitrasi, koordinasi dan sosialisasi sudah dilaksanakan, saat ini tim sedang melakukan persiapan untuk pemasangan alat pemantau kecepatan angin, intensitas sinar matahari dan curah hujan," kata dia.
Pendirian dan pengoperasian mesin pemantau kecepatan angin dan intensitas matahari untuk mendapatkan data yang dibutuhkan akan berlangsung selama satu tahun sebelum menentukan lokasi pendirian menara penangkap tenaga angin atau sinar matahari.
Menurut Amar, keberadaan pembangkit listrik tenaga angin di desa pesisir itu sesuai kebutuhan masyarakat yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan dan usaha pengolahan hasil tangkapan laut skala kecil dan mikro.
Melalui kegiatan itu diharapkan dapat memberikan sumbangsih dalam membantu pemberdayaan ekonomi masyarakat Desa Belolaut dengan mengaplikasikan teknologi energi terbarukan yang memanfaatkan karakteristik lokal.
Wilayah yang terletak di pinggir pantai biasanya memiliki kecepatan angin dan intensitas matahari yang cukup kuat untuk menghasilkan tenaga listrik, jika sudah beroperasi tenaga listrik yang dihasilkan akan disalurkan ke usaha mikro sehingga kegiatan ekonomi masayarakat meningkat.
"Kami akan jadikan Desa Belolaut sebagai mitra dan selain mengelola swadaya pembangkit listrik itu juga akan dilakukan penguatan institusi lokal yaitu memperdalam komunikasi dan edukasi kepada perangkat desa dan masyarakat tentang manfaat tenaga listrik berbasis energi terbarukan," kata dia.
Selain itu, tim juga akan melakukan pendampingan pemberdayaan masyarakat untuk memperkuat usaha mikro di percontohan melalui pelatihan manajemen produksi dan pemasaran usaha mikro.
Penyediaan sumber daya manusia dan kelembagaan yang akan memelihara, merawat dan membiayai mesin pembangkit listrik tenaga angin dan matahari juga akan dilakukan melalui pembentukan kewirausahaan sosial.
Agar proyek pendampingan dan pemberdayaan masyarakat tersebut berjalan sesuai harapan, tim yang diterjunkan juga memiliki kompetensi di bidangnya, antara lain akademisi yang ahli di bidang energi terbarukan, ahli ekonomi usaha mikro dan ahli sosial dari tiga fakultas di UI.
Tim akan bekerja sama dengan misi meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui teknologi energi terbarukan yang memanfaatkan potensi lokal, mengaitkan penerapan energi terbarukan dengan usaha mikro lokal diharapkan dapat menjamin keberlanjutan program sekaligus membangun kewirausahaan sosial di Desa Belolaut.
"Jika sudah berjalan, tim akan melibatkan Universitas Bangka Belitung sebagai pendukung program dan percontohan desa mitra tersebut," kata dia.
