Korsel panggil dubes Jepang terkait pembatasan perdagangan

Korsel panggil dubes Jepang terkait pembatasan perdagangan

Dokumentasi - Presiden Korea Selatan Moon Jae-In (kanan) disambut Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe saat tiba untuk mengikuti sesi foto pada pertemuan puncak G20 di Osaka, Jepang, 28/6/2019. ANTARA/REUTERS/Kim Kyung-Hoon/Pool/TM

Seoul (ANTARA) - Korea Selatan memanggil duta besar Jepang untuk memprotes keputusan Jepang  menghapus status ekspor jalur cepat Seoul, yang mulai berlaku pada Rabu di tengah perselisihan politik dan ekonomi yang semakin dalam.

Jepang mencoret Korea Selatan dari apa yang disebut "daftar putih" mitra dagang favorit bulan ini. Pencoretan dari daftar itu bisa berarti lebih banyak dokumen dan pemeriksaan di tempat bagi beberapa pengekspor Jepang serta berpotensi memperlambat pasokan berbagai barang.

Langkah itu, yang mulai berlaku pada Rabu, mendorong Korea Selatan untuk mencoret Jepang dari daftar perdagangan favoritnya serta membatalkan perjanjian kerja sama intelijen.

Baca juga: Korea Selatan batalkan pakta pertukaran info intelijen dengan Jepang

Korea Selatan memanggil duta besar Jepang untuk mengajukan keluhan resmi dan menuntut agar keputusan soal "daftar putih" dibatalkan, kata seorang pejabat kementerian luar negeri Korea Selatan.

Pejabat pemerintah pada pertemuan di Seoul juga sepakat untuk menyediakan 5 triliun won (sekitar Rp58,6 triliun) dari 2020 sampai 2022 untuk menstabilkan rantai pasokan di sektor-sektor yang terkena dampak ekonomi.

"Kami sekali lagi mendesak Jepang untuk menahan diri dan tidak memperburuk situasi dan dengan tulus menanggapi tawaran dialog kami untuk memulihkan hubungan," Perdana Menteri Lee Nak-yon mengatakan pada pertemuan itu.

Hubungan antara kedua negara memburuk akhir tahun lalu setelah Mahkamah Agung Korea Selatan memerintahkan kompensasi bagi beberapa warga Korea yang dipaksa bekerja di perusahaan-perusahaan Jepang selama pendudukan Jepang tahun 1910-1945 di Korea.

Baca juga: Korean Air hentikan penerbangan ke Jepang

Perselisihan yang semakin meningkat menimbulkan kekhawatiran AS tentang kerja sama keamanan tiga arah dengan dua sekutu regionalnya itu dalam menghadapi program nuklir dan rudal Korea Utara yang sedang tumbuh.

Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri mengatakan pada Selasa (27/8) bahwa Washington berharap perselisihan itu telah mencapai "titik terendah" dan dua negara bertetangga akan mulai membangun kembali hubungan mereka.

Sumber: Reuters

Baca juga: PM Jepang: Tokyo ingin Korsel tepati janji soal kerja paksa

Baca juga: Pejabat Korsel katakan dialog dengan Korut segera dimulai

 

Presiden Temui Empat Pemimpin Perusahaan Korsel

Pewarta : Atman Ahdiat
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2019