1.220 telur berdiri di Pontianak tembus rekor MURI

1.220 telur berdiri di Pontianak tembus rekor MURI

Sebanyak 1.220 telur berdiri tegak berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI), pada peringatan kulminasi matahari di kawasan Tugu Khatulistiwa Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat. (Istimewa)

Pontianak (ANTARA) - Sebanyak 1.220 telur berdiri tegak berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI), pada peringatan kulminasi matahari di kawasan Tugu Khatulistiwa Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat.

"Jumlah ini berhasil mengalahkan rekor sebelumnya yang dipecahkan Medan sebanyak 999 telur. Pemecahan rekor ini merupakan rangkaian Kulminasi Matahari yang digelar di Tugu Khatulistiwa, fenomena alam yang terjadi dua kali dalam setahun ini disaksikan oleh ratusan orang, di mana matahari tepat berada di garis Khatulistiwa dan tanpa bayangan," kata Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono di Pontianak, Minggu.

Ia menjelaskan, para peserta Pontianak International Dragon Boat (PIDB) dan Khatulistiwa Run juga turut meramaikan event tersebut.
Sebanyak 1.220 telur berdiri tegak berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI), pada peringatan kulminasi matahari di kawasan Tugu Khatulistiwa Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat. (Istimewa)

"Tepat pukul 11.36 WIB saat matahari berkulminasi, ditandai dengan membunyikan meriam karbit oleh para tamu undangan sehingga kulminasi tahun ini sangat meriah," katanya.

Baca juga: Atlet lima negara meriahkan Pontianak Internasional Dragon Boat 2019

Dia berharap penyelenggaraan Pesona Kulminasi Matahari semakin tahun dikemas semakin menarik. Pemerintah Kota (Pemkot) akan terus berinovasi dengan menciptakan kreativitas memanfaatkan potensi Tugu Khatulistiwa.

"Pesona kulminasi akan dijadikan sport tourism dan budaya sehingga banyak turis yang datang maupun domestik," katanya.

Namun sangat disayangkannya, kondisi cuaca yang diselimuti asap menjadi kendala sehingga banyak wisatawan yang ingin datang membatalkan kunjungannya.

Edi berkomitmen terus menggali potensi pariwisata sehingga dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah yang ada di Kalbar, misalnya jika ada event cap go meh di Kota Singkawang maka turis akan mampir ke Kota Pontianak.

Baca juga: Kota Pontianak mendapat berkah dari peristiwa kulminasi matahari

Sementara itu, Peter, peserta PIDB asal Australia, menyatakan rasa takjubnya pada event yang digelar ini. Ia menilai kulminasi matahari maupun PIDB merupakan event yang fantastis dan melibatkan banyak orang.

 "Apalagi di sini ada hal yang menarik yakni pemecahan rekor mendirikan telur terbanyak dengan jumlah yang fantastis mencapai seribu lebih," ujarnya.

Dirinya merasa senang berada di Kota Pontianak karena orang-orangnya ramah dan banyak pilihan kuliner yang menurutnya enak-enak. "Saya akan kembali lagi ke Pontianak, semoga ke depan tidak ada lagi kabut asap seperti ini," ungkap Peter.

Ia juga mendapat kesempatan menyulut meriam karbit yang telah disediakan panitia. Saat menyulut, dentuman meriam sempat membuatnya kaget. "Sensasi membunyikan meriam ini sangat luar biasa," imbuhnya.

Mark Raccuia dari Amerika Serikat mengungkapkan kekagumannya terhadap event PIDB maupun Kulminasi Matahari yang dinilainya luar biasa dan sangat menarik.

Ia bersama rekan-rekannya merasa senang berada di Pontianak karena banyak hal yang ditemuinya di sini yang tidak ada di negaranya.

"Pemecahan rekor telur berdiri terbanyak sebagai hal yang langka. Luar biasa dengan jumlah ribuan telur ini bisa berdiri tegak," ucapnya.

Baca juga: Pontianak gelar berbagai atraksi saat matahari capai kulminasi
Baca juga: Pontianak siapkan dua teleskop luar angkasa amati kulminasi matahari
Pewarta : Andilala
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019