UMKM Lampung kembangkan batik eco print ramah lingkungan

UMKM Lampung kembangkan batik eco print ramah lingkungan

Tri Indah Noviana bersama batik eco print motif siger kreasi UMKM miliknya, Bandarlampung, Senin (25/11/2019). ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi/am.

Bandarlampung (ANTARA) - Produk eco print milik UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) Lampung yang dikelola oleh Tri Indah Noviana menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan serta menumbuhkan rasa cinta budaya lokal melalui pengembangan motif khas Lampung.

"UMKM ini tercipta bermula dari hobi dan kecintaan saya akan kerajinan tangan, serta cinta akan kelestarian lingkungan," ujar Tri Indah Noviana, di Bandarlampung, Senin.

Menurut Tri, dirinya membuka UMKM dengan produk ramah lingkungan didasari atas dorongan dari kolega, serta kecintaannya atas budaya Lampung dan keprihatinan atas kerusakan lingkungan.

"Kebetulan kolega mendorong untuk mengembangkan usaha menjadi UMKM sebab dapat membantu banyak masyarakat dengan, membuka lapangan pekerjaan melalui pembuatan produk kain batik ramah lingkungan, dan sedotan bambu,"ujarnya.

Baca juga: Mengenalkan kembali penenun pada pewarna alami
Baca juga: Unnes dorong batik pewarna alami


Ia menjelaskan bahwa eco print atau teknik memberi pola pada kain menggunakan bahan alami telah banyak dikenal di pulau Jawa dan juga di luar negeri, namun asing bagi masyarakat Lampung, sehingga dirinya mencoba mengembangkan usaha sembari mengkampanyekan kelestarian lingkungan.

"Eco print membutuhkan waktu dan langkah yang rumit,sehingga hasil produksi berbeda setiap motif serta memiliki keunikan warna masing-masing, untuk membentuk motif Siger contohnya, maka saya harus memotong daun menjadi bentuk siger dan setiap potongan tentu berbeda," ujar Tri saat ditemui di galeri miliknya.

Menurut Tri, semua bahan pembuatan ia dapatkan dari Lampung seperti daun jati, jarak wulung, jarak kepyar, bodhi, ketepeng, daun kelengkeng, daun jambu, dan untuk pewarna seperti secang, tegeran, mahoni, jolawe, kunyit, kulit rambutan juga ia dapatkan dari sekitar Lampung.

"Semua bahan alami, sehingga tidak ada bahan kimia yang merusak lingkungan, namun harga dari setiap lebar kain eco print akan jauh lebih mahal dari pada kain lainnya sebab lama serta rumitnya proses pembuatan," ujarnya.

Ia mengatakan kain eco print kreasinya di bandrol dengan harga bervariatif dari Rp300.000 hingga Rp700.000 per lembar, yang kini telah dijual hingga ke luar negeri melalui promosi di media sosial.

Baca juga: Pewarna alami batik kurangi impor sintetik
Baca juga: Industri fesyen ramah lngkungan unggulan Indonesia

 
Pewarta : Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019