Indonesia ingin bangun perjanjian perdagangan dengan Tanzania

Indonesia ingin bangun perjanjian perdagangan dengan Tanzania

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan bertemu dengan Menteri Pekerjaan Umum, Transportasi dan Komunikasi Isack Mawelwe dalam kunjungan kerja di Tanzania. (ANTARA/HO Kemenko Kemaritiman dan Investasi)

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Indonesia ingin membangun Perjanjian Perdagangan Preferensial (Preferential Trade Agreement/PTA) dengan Tanzania untuk mendorong peningkatan perdagangan kedua negara.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu, mengatakan PTA akan mengurangi hambatan perdagangan tarif sehingga diharapkan dapat mendorong perdagangan kedua negara.

"Jika mungkin, Indonesia ingin mengusulkan untuk membangun PTA bilateral dengan Tanzania. Saya juga mencatat bahwa Tanzania adalah anggota Komunitas Afrika Timur (EAC)," katanya di kunjungan kerjanya ke Tanzania, Afrika Timur, Selasa (17/12).

Baca juga: Menko Kemaritiman tegaskan RI akan lawan gugatan Uni Eropa soal nikel

Dalam kunjungan tersebut, Luhut bertemu dengan Menteri Pekerjaan Umum, Transportasi dan Komunikasi Tanzania Isack Mawelwe.

Ia mengungkapkan masih banyak ruang untuk meningkatkan kerja sama perdagangan antara Indonesia dan Tanzania.

"Indonesia berpenduduk 270 juta jiwa, jadi merupakan pasar besar untuk Tanzania bila ingin investasi," kata Luhut.

Sejak 2017, Indonesia telah mengusulkan untuk membuat Perjanjian Perdagangan Preferensial (PTA) antara Indonesia dan EAC.

Dukungan Tanzania akan sangat berarti, khususnya untuk menugaskan pejabat masing-masing untuk mengadakan diskusi pendahuluan tentang masalah ini.

Baca juga: Luhut undang UEA lihat potensi "hydropower" Indonesia

Kunjungan kerja kali ini juga menghasilkan kesepakatan pertemuan lanjutan dialog antara Tanzania-Indonesia pada Februari 2020 untuk memperkuat kerja sama dalam bidang ekonomi.

Perdagangan antara Indonesia dan Tanzania mencatatkan tren positif dengan pertumbuhan 11 persen antara 2014 dan 2018. Namun, ada penurunan 22 persen pada periode Januari-September 2019, dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
 
Pewarta : Ade irma Junida
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019