Penggunaan PLTSa diyakini perpanjang "masa hidup" TPST Bantar Gebang

Penggunaan PLTSa diyakini perpanjang

Pekerja beraktivitas di area instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, di Bekasi, Jawa Barat, Jumat (21/6/2019). ANTARA FOTO/Risky Andrianto/hp.

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong mengatakan proses pengelolaan sampah ke energi dengan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) dapat memperpanjang "masa hidup" Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.

Menurut Alue, dalam keterangan tertulisnya diterima di Jakarta, Sabtu, pola pengelolaan sampah oleh Pemprov DKI Jakarta khususnya di TPST Bantar Gebang, Kota Bekasi, terlihat menjanjikan sekali.

“Di sini juga circular economy sudah mulai dijalankan,” ujar dia.

Baca juga: Pemprov DKI akan bangun pembangkit listrik di TPA Bantar Gebang
Baca juga: TPA Bantar Gebang perlu banyak perbaikan

Ia mengatakan dulu sampah hanya menjadi sampah saja atau waste to waste. Sekarang juga dapat menjadi energi atau waste to energy.

"Ini suatu hal yang positif dan prospektif ke depan bahwa sampah jangan kita lihat sebagai hal yang tidak berguna, tetapi tentu berguna secara ekonomi apabila kita kelola dengan baik dan benar," ujar dia.

TPST Bantar Gebang menjadi lokasi pilot project Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang merupakan proyek kerja sama antara Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Pemprov DKI Jakarta.

Baca juga: Sampah dari Jakarta ke Bantar Gebang 7.400 ton sehari
Baca juga: Komunikasi pemangku kepentingan, kunci selesaikan sampah Jakarta

Dengan kapasitas 100 ton per hari, PLTSa menghasilkan output listrik hingga 700 kW per jam yang digunakan untuk keperluan internal PLTSa. Tahun ini, PLTSa ditargetkan dapat beroperasi penuh.

Sejumlah terobosan lain yang dilakukan di TPST Bantar Gebang dengan landfill mining, pemanfaatan gas metana, dan PLTSa dapat menjadi percontohan di seluruh Indonesia.

"Pemerintah dalam hal ini KLHK akan mendorong beberapa provinsi yang mempunyai buangan sampah di atas 1.000 ton per hari bisa belajar dengan DKI Jakarta," ujar dia.

Baca juga: Tempat Pengolahan Sampah 3R PIK produksi 608 kilogram pupuk kompos
Baca juga: Pemerhati katakan masyarakat harus mulai swakelola sampah

Pewarta : Virna P Setyorini
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020