Ribuan telur penyu dikonservasi Komunitas Pandah Artgreen Maligi

Ribuan telur penyu dikonservasi Komunitas Pandah Artgreen Maligi

Komunitas Pandah Artgreen Maligi Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, bersama mahasiswa saat menanam mangrove di Pantai Maligi Sasak sebagai upaya rehabilitasi hutan mangrove yang ada di daerah itu. (FOTO ANTARA/HO-Komunitas Pandah Artgreen Malig)

Simpang Empat, Sumbar (ANTARA) - Ribuan telur penyu dikonservasi oleh pegiat lingkungan dari Komunitas Pandah Artgreen Maligi di Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat.

"Untuk konservasi penyu kami telah berhasil menyelamatkan sekitar 1.833 butir telur penyu untuk menetas serta telah melepas sekitar 1.690 penyu ke laut," kata pendiri Komunitas Pandah Artgreen Maligi Surya, pendiri Komunitas Pandah Artgreen Maligi, Surya, di Simpang Empat, Ibu Kota Kabupaten Pasaman Barat, Minggu.

"Kami melakukan konservasi penyu dan penyelamatan penyu mulai dari telur sampai menetas dan melepasnya kembali ke laut," tambahnya.

Selain itu, pihaknya juga telah menanam sekitar 600 batang mangrove sebagai upaya rehabilitasi hutan bakau yang ada.

Meski komunitas yang bergerak di bidang lingkungan ini baru dua tahun berdiri, katanya, dengan segala keterbatasan terus berbenah untuk berbuat bagi lingkungan sekitar. 

"Kami memulai kegiatan komunitas ini dengan modal Rp100.000," katanya.

Ia mengatakan dengan modal seadanya dan didukung oleh Mata Rakyat Pasaman Barat (MRPB) Peduli Pasaman Barat maka secara perlahan komunitas ini mulai melakukan aksi nyata peduli terhadap lingkungan.

 "Tidak ada yang tidak bisa dilakukan jika ada kemauan dan keikhlasan. Dengan belajar secara otodidak dan melalui Youtube maka sejumlah kegiatan berhasil kita lakukan," katanya.

Ia menyebutkan di antara yang sudah dan sedang dilaksanakan adalah konservasi penyu, rehabilitas hutan mangrove dan pesisir pantai, pengembangan UMKM ekowisata dan pengolahan sampah.

Berawal dari teras rumah yang menumpang, komunitas ini telah mulai mengolah sampah menjadi kerajinan atau barang yang berguna.

"Kegiatan kami ini tentu mendapat dukungan dari berbagai pihak yang peduli tentang isu lingkungan dan gerakan kaum muda," katanya.

Komunitas ini juga telah memiliki sejumlah aset tanah seluas 50 x 80 meter (swadaya), perlengkapan teknik pengolahan sampah menjadi kerajinan (swadaya) dan bebek petelur yang merupakan bantuan modal kolaboraksi kemanusiaan Pasaman Barat.

Kemudian pondok informasi dan sarana relokasi telur yang merupakan bantuan Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Padang dan pendukungnya seperti laptop, proyektor, GPS, maupun genset (swadaya).

"Tahun 2020 ini kami proyeksikan untuk membangun mushola, MCK, rumah pembibitan dan pusat oleh-oleh UMKM Maligi di lokasi konservasi kami" harapnya.

Pihaknya sangat mengharapkan bantuan dan partisipasi berbagai pihak untuk mewujudkan proyeksi dalam rangka peduli lingkungan di Maligi, terutama pembuatan musholla dan MCK, demikian Surya.

Baca juga: Ratusan anak penyu dilepas di Pantai Indah Maligi Sasak Pasaman Barat

Baca juga: Populasi penyu di Sumbar 30 ribu ekor

Baca juga: Eksplotasi Telur Penyu di Sumbar Mengkhawatirkan

Baca juga: DKP Sumbar Lepas 10.000 Ekor Penyu Setiap Tahun
Pewarta : Altas Maulana
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020