Gempa bumi di Bengkulu terasa di Nunukan, ini penjelasan BMKG

Gempa bumi di Bengkulu terasa di Nunukan, ini penjelasan BMKG

Ilustrasi Gempa Bumi. (Foto : ANTARA/Harianto).

Nunukan (ANTARA) - Getaran gempa bumi di Bengkulu bermagnitudo 4,3 SR kedalaman 2 kilo meter yang terjadi pada Jumat malam (31/1) sekira pukul 19.55 Wita dirasakan oleh masyarakat di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Nunukan melalui Pengamat Ahli Pratama, Taufik Rahman di Nunukan, Sabtu, mengatakan bahwa jika mengamati jarak epicenter antara Bengkulu dengan Nunukan sangat jauh.

Namun getaran yang berlangsung sekira 1 hingga 5 detik itu tidak terdeteksi oleh peralatan milik BMKG Nunukan karena kurang dari magnitudo 5 SR.

Ia menyatakan, gempa bumi di Bengkulu tersebut bisa saja dirasakan di daerah itu sebagai dampak dari kondisi alam yang disebut gempa runtuhan. Sebab, Pulau Kalimantan diketahui wilayah bebas gempa.

Hanya saja perlu diketahui, Pulau Kalimantan terdapat tiga struktur cesar/patahan yakni di Maratuha, Mangkaliat dan Kutai Kertanegara. Ketiga sesar ini masih aktif sampai sekarang.

Menurut Taufik, BMKG mencatat meskipun magnitudo yang dirasakan tidak sebesar di zona megathrust, namun dampak nya juga bisa merusak bangunan jika tidak diantisipasi dengan baik.

Analisa selanjutnya, kata dia gempa runtuhan dengan getaran yang dirasakan masyarakat Kabupate Nunukan ini mengingat topografi Nunukan terdiri dari pulau-pulau kecil dikelilingi laut.

"Hanya ada dua kemungkinan yaitu gempa bumi runtuhan dan gempa bumi buatan. Namun dalam hal ini saya menganalisa berdasarkan kejadiannya yaitu gempabumi runtuhan," ungkap Taufik.

Ia menjelaskan, gempa bumi runtuhan adalah getaran yang terjadi akibat adanya pelepasan energi dari daerah-daerah bekas pertambangan dimana struktur tanah atau batuan dilokasi tidak bisa menahan atau menekan beban di atasnya.

Oleh karena itu, terjadi pergeseran atau patahan dari struktur tersebut sehingga terasa getaran.

Sedangkan gempa bumi buatan yaitu gempa akibat aktivitas manusia seperti peledakan bom/dinamit nuklir yang diarahkan kepermukaan bumi dengan sengaja sehingga terjadi ledakan yang menyebabkan permukaan sekitar bergetar.

Baca juga: Gempa Mukomuko tak berpotensi tsunami

Baca juga: Peningkatan aktivitas gempa zona megathrust Bengkulu perlu diwaspadai

Baca juga: Gempa magnitudo 5,9 di Enggano-Bengkulu tak berpotensi tsunami
Pewarta : Rusman
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2020