Lansia Milenial: Hidup sejahtera di masa lanjut usia

Lansia Milenial: Hidup sejahtera di masa lanjut usia

Halaman depan buku berjudul "Lansia Milenial: Hidup Sejahtera di Masa Lanjut Usia" (ANTARA/Danies WR)

Jakarta (ANTARA) - Para pecinta kebijaksanaan dan kearifan terus menggali makna-makna tentang waktu. Bukankah waktu harus digunakan sebaik-baiknya?

Mitologi Yunani mengenal Kronos, sang penguasa waktu yang menelan anak-anaknya sendiri sebagai gambaran bahwa waktulah yang melahirkan dan waktu pulalah yang menelannya bila kalah.

Dalam tradisi Muslim paling tidak ada empat perspektif yang kerap muncul untuk membicarakan waktu. Pertama adalah waktu dalam kaitannya dengan kesempatan-kesempatan atau peluang.

Kedua adalah waktu dalam hubungan dengan batas akhir atau ajal. Selanjutnya waktu sebagai durasi atau lama hidup.

Keempat adalah waktu yang digambarkan sebagai saat menjelang terbenamnya matahari (‘ashr), yakni harus bersegera untuk melakukan kebaikan sebelum waktu berakhir.

Setiap definisi tentang waktu selalu melahirkan konsekuensi-konsekuensi. Bahkan, dua gagasan tentang waktu yang bertolak belakang yakni waktu linear ataupun waktu yang bergerak sirkuler tetap melahirkan konsekuensi yang harus dipilih.

Lantas, bagaimana memanfaatkan waktu untuk para lanjut usai (lansia) yang kerap digambarkan dengan kondisi fisik dan mental yang semakin melemah, kurang mandiri, kesepian, merasa tak berguna dan tersisih sampai datangnya akhir waktu?

Sebuah buku berjudul Lansia Milenial: Hidup Sejahtera di Masa Lanjut Usia mengulas tentang optimalisasi pemanfaatan waktu untuk lansia.

Buku tersebut adalah buah pemikiran dari Handojo Tjandrakusuma, seorang dokter yang lahir 20 November 1938 dan memimpin beberapa yayasan bidang kesehatan di Solo.

Kredibilitas penulis dibuktikan dengan penghargaan Sasakawa Health Prize dari WHO tahun 1992 atas jasa-jasanya mengelola usaha rehabilitasi cacat tubuh berbasis masyarakat. Selain itu Handojo juga memperoleh penghargaan serupa dari Universitas Alberta, Kanada.

Baca juga: Para lansia kreasikan sampah plastik jadi kerajinan tangan

Baca juga: LRT Jakarta akan menggratiskan tiket untuk pelajar dan lansia

Baca juga: Pusat kebugaran untuk lansia makin dibutuhkan


Pengetahuan dan pencerahan

Tujuan penulisan buku Lansia Milenial adalah untuk memberikan pengetahuan dan pencerahan kepada lansia dengan pola pikir (mindset) milenial.

Menurut Handojo, lansia memiliki potensi besar dengan pengalaman dan pengetahuannya, sedangkan generasi milenial memiliki potensi besar dalam penguasaan teknologi dan inovasi.

Memang dewasa ini jumlah lansia di Indonesia semakin meningkat dengan kualitas kesehatan yang cukup baik, sehingga lansia (di zaman) milenial diharapkan tetap dapat produktif, mandiri dan mengembangkan potensi diri. Menjadi lansia bukan akhir segalanya, demikian tulisan di cover belakang menegaskan pendapatnya.

“Lansia (di zaman) milenial adalah lansia yang melek teknologi, yang memanfaatkan teknologi dalam kehidupan sehari-hari di masa tua,” tulis buku itu.

Pada bagian prakata disinggung bahwa menjadi tua adalah sebuah anugerah dan bagian persembahan ditulis:
Untuk
Istriku,
Pendamping hidupku
Sampai masa tuaku


Isi buku didahului dengan judul Pengembangan Diri Lansia Milenial, dilanjutkan dengan pembahasan tentang Lansia dan Teknolog Informasi.

Pada bagian 3 diulas tentang Lansia dan Nutrisi, disambung dengan Merawat Kualitas Hidup Lansia dan dilengkapi dengan enam topik bahasan lainnya.

Yang patut dicermati adalah ulasan tentang Kampung Ramah Lansia di halaman 52 yang menceritakan satu model komunitas lansia di Amerika bernama Senior Village Trailer Park.

Kampung ramah lansia ini adalah lahan khusus yang dimanfaatkan sebagai tempat parkir mobil trailer yang dijadikan tempat tinggal permanen bagi lansia.

Mobil trailer ini biasanya memang untuk tamasya, sering dipakai sebagai penginapan ketika melakukan perjalan jauh dalam jangka waktu lama.

Perkampungan ini tidak begitu luas, yakni hanya menampung 150 hingga 200 mobil trailer home.

Cerita tentang Senior Village Trailer Park ini mungkin dapat dijadikan sebagai acuan untuk pengembangan konsep pelayanan yang lebih baik bagi lansia dari aspek sosial, aspek fisik maupun aspek ekonominya.

Buku ini bentuknya mungil, mudah digenggam dengan jumlah halaman xvi+112 menggunakan ukuran huruf yang besar.

Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas tahun 2019 ini diperkaya dengan ilustrasi dan sejumlah foto pendukung narasi tentang cara menjaga kualitas kesehatan fisik dan mental lansia.

Buku ini dilengkapi contoh riil kehidupan beberapa lansia yang masih aktif dengan berbagai kegiatan yang menuai manfaat bagi dirinya maupun bagi orang lain.

Tentu kurang tepat apabila kita berharap lebih banyak untuk memperoleh uraian mendalam tentang suatu topik pada buku yang didesain tampil populer ini.

Buku yang ringan dibawa ini dilengkapi dengan tips ringkas mengatasi kesepian pada lansia dan pembahasan berjudul Mempersiapkan Penghujung Perjalanan Kehidupan.

Apabila filsuf Martin Heidegger dengan teori Dasein mendefinisikan waktu sebagai kesadaran bagi diri untuk eksis atau menjadi ada, maka tidaklah berlebihan bila membaca buku ini seperti digiring menuju ke sana yakni menjadi manusia otentik. Manusia otentik artinya manusia yang memiliki jati diri, memiliki penghayatan terhadap makna kehidupan, memiliki orientasi.

Selanjutnya kelimpahan informasi di zaman milenial ini dan rumitnya keterikatan antar kelompok diharapkan tidak membelenggu individu hingga terbawa arus, namun hendaknya seluruh kemewahan itu justru menjadi alat pengambilan keputusan.

Sementara sang penulis buku, Handojo dengan latar belakang keilmuan dan rentang pengalaman kehidupannya menunjukkan bahwa pengetahuan yang ada dalam dirinya telah naik menjadi kesadaran, telah menghidupkan kebenaran.

Para lansia, selamat menikmati masa tua di era milenial yang memberi banyak kemudahan informasi dan bisa menjebak agar tidak aktif beraktivitas.

*) Dyah Sulistyorini adalah Magister Ilmu Komunikasi dari Paramadina Graduate School of Communication (PGSC) Jakarta

Baca juga: "Old Men Never Die", lansia mencari malaikat pencabut nyawa

Baca juga: Yogyakarta berdayakan lansia dengan dilatih mendongeng

Baca juga: Peneliti dorong peningkatan tujuh dimensi bagi kesejahteraan lansia
Pewarta : Dyah Sulistyorini *)
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020