Asa Dea Panendra untuk film Asia usai kemenangan "Parasite" di Oscar

Asa Dea Panendra untuk film Asia usai kemenangan

Dea Panendra di Cannes Film Festival 2017 untuk film Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak. (ANTARA/HO/frameatrip)

Jakarta (ANTARA) - Timbul asa di hati aktris Dea Panendra atas masa depan film-film Asia setelah "Parasite" dari Korea Selatan membawa pulang empat piala Oscar di ajang bergengsi Academy Award ke-92, Minggu (9/2) waktu setempat.

Baca juga: "Parasite", film asing pertama yang raih Best Picture di Oscar

"Parasite" memenangi kategori paling bergengsi Film Terbaik, kemudian Naskah Asli Terbaik, Film Internasional Terbaik (Film Berbahasa Asing) dan Sutradara Terbaik.

"Kemarin aku bilang sama Iedil (Putra, pemeran film 'Toko Barang Mantan') Parasite akan dapat Best Picture, ternyata menang betulan!" kata Dea saat mengunjungi kantor berita ANTARA, Senin (10/2).

Aktris Pendukung Terbaik Festival Film Indonesia 2018 ini turut senang atas kemenangan film arahan sutradara Bong Joon Ho karena bisa membuka kesempatan bagi film-film negara Asia lainnya, termasuk Indonesia.

Baca juga: Bong Joon Ho berikan bocoran terkait miniseri "Parasite"

"Semua yang (Parasite) menangi itu kategorinya benar-benar buka jalan buat kita-kita yang lagi mau coba-coba ke Hollywood," ujar pemeran Amel dalam komedi romantis "Toko Barang Mantan".

Dea juga memuji pemenang-pemenang di kategori lain yang juga baru pertama kali mendapatkan piala Oscar, seperti Brad Pitt yang jadi Aktor Pendukung Terbaik dan Joaquin Phoenix sebagai Aktor Terbaik.

"Banyak banget yang pertama dapat setelah bertahun-tahun kerja, orang-orang yang keren," puji Dea.

Aktor Malaysia Iedil Putra, rekan main Dea di "Toko Barang Mantan", juga punya pendapat serupa mengenai film "Parasite". Suami aktris Prisia Nasution itu mengatakan prestasi film "Parasite" di Academy Award ke-92 adalah kemenangan luar biasa untuk perfilman Asia.

Meski tidak berbahasa Inggris, piala-piala Oscar yang diborong "Parasite" semakin menegaskan film adalah media hiburan yang universal. Bila bisa menyentuh dan menghibur penonton, perbedaan bahasa bukan kendala.

"Itu jadi terbukti (bahwa film) universal."

Baca juga: Tiga pegiat film Indonesia melenggang di red carpet Festival Film Cannes

Baca juga: Dea Panendra terlatih lebih ekstrover berkat film "Toko Barang Mantan"

Baca juga: Tips "move on" dari Syifa Hadju, Dea Panendra dan Iedil Putra
Pewarta : Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2020