Ibu-ibu di Lombok mendaftar jadi TKW ke Arab Saudi

Ibu-ibu di Lombok mendaftar jadi TKW ke Arab Saudi

Seorang ibu rumah tangga (kiri), menyerahkan berkas persyaratan menjadi calon pekerja migran Indonesia ke Arab Saudi melalui petugas di kantor Lembaga Terpadu Satu Pintu NTB, di Mataram, Rabu (12/2/2020). ANTARA/Awaludin

Mataram (ANTARA) - Puluhan ibu-ibu mulai mendaftarkan diri menjadi calon tenaga kerja wanita (TKW) ke Arab Saudi melalui petugas di kantor Layanan Terpadu Satu Pintu (LTSP) Nusa Tenggara Barat, di Mataram, Rabu.

Proses pendaftaran dimulai setelah pembukaan info pekerjaan (job fair) penempatan calon pekerja migran Indonesia (CPMI) ke Arab Saudi melalui Sistem Penempatan Satu Kanal (SPSK),
di area kantor LTSP NTB.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (Apjati) Ayub Basalamah, bersama Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTB, Agus Patria, serta perwakilan dari Kementerian Ketenagakerjaan, Timbul Tua Panggabean.

Nursiah (39), salah seorang ibu rumah tangga dari Kabupaten Lombok Tengah mengaku tertarik untuk mendaftarkan diri menjadi CPMI ke Arab Saudi, karena ingin mencari rezeki untuk membiayai hidup dan sekolah dua orang anaknya.

"Saya seorang janda. Suami saya sudah meninggal, sementara anak-anak saya masih kecil-kecil. Satu berusia 14 tahun dan satu lagi usia 8 tahun. Jadi masih butuh biaya banyak untuk masa depan mereka," katanya.

Perempuan yang sehari-hari membuat kue tersebut juga mengaku sudah pernah bekerja di Arab Saudi sebelum menikah. Ia ingin kembali bekerja dengan niat yang tulus demi masa depan kedua buah hatinya.

"Penghasilan membuat kue hanya Rp30 ribu sehari, tidak cukup buat makan. Apalagi membiayai sekolah anak-anak. Saya juga tukang pijat, tapi paling hanya tiga kali satu bulan dapat pelanggan," ucap Nursiah.

Sementara itu, Ketua Apjati, Ayub Basalamah, menjelaskan job fair yang digelar di NTB, tidak sekedar info pekerjaan biasa, karena khusus untuk CPMI yang ingin bekerja di Arab Saudi.

"Kami bagian kecil yang ingin membantu pemerintah menyosialisasikan peluang kerja ke luar negeri, khususnya Arab Saudi yang sebelumnya disetop sementara (moratorium)," katanya.

Ia juga menegaskan bahwa penempatan CPMI ke Arab Saudi melalui SPSK masih dalam tarap uji coba dalam rangka memperbaiki iklim penempatan pekerja di Arab Saudi. Untuk tahap awal ditargetkan sebanyak 9.000 CPMI bisa diberangkatkan.

Syarat untuk menjadi CPMI ke Arab Saudi adalah pendidikan minimal sekolah dasar. Selain itu, usia minimal 21 tahun dan maksimal 39 tahun.

Menurut Ayub, NTB menjadi daerah yang potensi, sebab orang-orang Arab Saudi paling cocok dengan pekerja dari NTB yang memiliki adat-istiadat yang hampir sama dengan para pengguna tenaga kerja di negara tersebut.

"Makanya 70 persen dari target 9.000 orang yang akan diberangkatkan kalau bisa NTB memenuhi, sisanya dari Jawa Barat, dan Jawa Timur. Sebentar lagi puasa, saya berharap 9.000 ribu itu bisa terpenuhi," ucapnya.

Baca juga: Kemnaker RI amankan 87 CPMI nonprosedural asal NTB

Baca juga: NTB desak pemerintah usut tewasnya empat TKW di Arab Saudi

Baca juga: Keluarga harapkan pemerintah temukan TKW Indramayu hilang kontak 16 tahun di Arab Saudi

 
Pewarta : Awaludin
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2020