Stasiun MRT Jakarta Fase II akan terintegrasi dengan Transjakarta

Stasiun MRT Jakarta Fase II akan terintegrasi dengan Transjakarta

Dirut MRT Jakarta William Sabandar menjawab pertanyaan saat wawancara khusus dengan ANTARA di Jakarta, Kamis (13/2/2020). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/pras.

Jakarta (ANTARA) - Seluruh stasiun MRT Jakarta Fase II akan terintegrasi dengan halte Transjakarta untuk memudahkan mobilitas masyarakat, sekaligus mendorong lebih banyak lagi mengangkut penumpang.

"Untuk stasiun Fase II ini akan semua diintegrasikan dengan halte Transjakarta," kata Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda) saat kunjungan ke Redaksi Kantor Berita Antara, Jakarta, Kamis.

Integrasi tersebut sudah dimulai di Fase I, yakni di Stasiun Bundaran HI dan Stasiun Asean yang saat ini tengah dilakukan integrasi.

Selain integrasi antarmoda, William mengatakan dalam pembangunan konstruksi Fase II juga akan sekaligus dibangun Kawasan Berorientasi Transit (TOD).

TOD tersebut untuk tahap awal di Fase II, di antaranya Thamrin, Harmoni, dan Kota Tua.
Rangkaian kereta MRT melintas di bawah Halte Transjakarta Centrale Stichting Wederopbouw (CSW) koridor 13 di Jakarta, Selasa (31/12/2019). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nz


"Fase I di Dukuh Atas, Istora, Senayan, Blok M, Fatmawati, dan Lebak Bulus. Fase II mengembangkan berbagai kawasan seperti Thamrin kemudian Harmoni, Kota Tua yang akan kita lihat karena cagar budaya dan pusat wisata yang bisa diintegrasikan," katanya.

Untuk pembangunan TOD MRT Jakarta Fase II, William menuturkan pihaknya juga akan mengajukan permohonan untuk menjadi pengelola kawasan tersebut seperti di Fase I, namun hingga saat ini Pemprov DKI belum juga menerbitkan Panduan Rancang Kota (PRK) sebagai payung hukum dan memulai pembangunan tersebut.

Secara keseluruhan, terdapat 10 stasiun di lintasan MRT Jakarta Fase II, mulai dari Stasiun Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, Mangga Dua, dan Ancol yang juga akan dibangun depo.

Ia menuturkan pembangunan proyek MRT Jakarta Fase II ini memakan biaya dua kali lipat dari Fase I yakni Rp22,5 triliun, karena seluruhnya akan dibangun di bawah tanah (underground).

Selain itu juga akan dibangun melintasi situs bersejarah (heritage) dan akan menembus di bawah sungai mencapai 30 meter dari permukaan tanah.

"Kesiapannya memakan waktu proses, desain tidak mudah, banyak jalur penting ada Monas dan Istana Kepresidenan, masuk ke Ciliwung, secara konstruksi ini menantang bangunan seluruhnya di bawah tanah, bahkan di bawah sungai," katanya.

Baca juga: Konstruksi MRT Fase II Bundaran HI-Harmoni diteken Senin

Baca juga: MRT ke Tangsel, Dirut: Kita masih fokus Fase II

 
Pewarta : Juwita Trisna Rahayu
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020