USAID-pemerintah gaungkan menabung air jelang Hari Air Sedunia

USAID-pemerintah gaungkan menabung air jelang Hari Air Sedunia

Diskusi sumur resapan di Kelurahan Randuacir, Kecamatan Argomulyo, Kabupaten Salatiga, Selasa (10/3/2020) yang dihadiri unsur Lembaga Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) dan pemerintah lokal. (ANTARA/Anom Prihantoro)

Semarang (ANTARA) - Lembaga Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) bermitra dengan pemerintah Indonesia menggaungkan pentingnya menabung air jelang peringatan Hari Air Sedunia tahun ini yang jatuh pada 22 Maret.

Salah satu kegiatan menyambut Hari Air Sedunia itu dilakukan dengan meninjau sejumlah sumur resapan kemitraan USAID dan pemerintah di Kabupaten Salatiga, Jawa Tengah, Selasa.

Lurah Desa Patemon, Puji Rahayu, mengatakan pada 2014 saat ada tawaran di desanya untuk dibangun sumur resapan langsung diterima. Alasannya, sumur bipori bermanfaat untuk menabung air di dalam tanah saat musim penghujan sehingga saat kemarau ada cadangan air.

"Pada 2014 dimulai ditawari sumur resapan, langsung saya terima. Unsur desa bertugas memberi penyadaran kepada warga agar sadar pentingnya sumur resapan," kata dia.

Baca juga: Kembangan buat 43 sumur resapan untuk antisipasi banjir

Dia mengatakan sumur resapan merupakan investasi jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Hasilnya memang belum terlihat saat ini tetapi perlu waktu.

"Pada 2020 sudah terbangun sembilan sumur resapan. Manfaatnya bukan saat ini, tapi untuk anak cucu. Ini adalah sedekah kita untuk saudara, tetangga dan lainnya. Diakui tidak diakui, sekarang debit air naik. Ini tentang bagaimana menyimpan air ke tanah menjadi lebih baik," katanya.

Adapun kegiatan promosi menabung air itu diikuti sejumlah unsur lintas kementerian dan lembaga terutama yang terkait dengan perairan, alam, geologi dan bidang terkait lainnya.

ANTARA berkesempatan melihat langsung sumur resapan di RT 01/RW 05 Desa Sugihwaras, Kabupaten Salatiga. Sumur bipori tersebut dibangun pada penghujung tahun 2019.
Sumur resapan yang menjadi penampung air hujan di Desa Sugihwaras, Salatiga, Selasa (10/3/2020). (ANTARA/Anom Prihantoro)


Untung Suripto yang sebagian lahannya dipakai untuk sumur bipori mengatakan belum bisa melihat dampak nyata dari daerah resapan buatan. Alasannya, sumur resapan baru benar-benar terasa manfaatnya ketika sudah berusia dua tahun.

Kendati begitu, sumur tersebut kini menjadi harapan warga sekitar sebagai sarana menabung air saat penghujan ketika curah hujan tergolong tinggi jika dibanding saat kemarau.
Fasilitas penangkap air hujan yang dialirkan ke sumur resapan di Desa Sugihwaras, Salatiga, Selasa (10/3/2020). (ANTARA/Anom Prihantoro)


Singkat kata, sumur bipori menjadi fasilitas penampung air hujan agar meresap ke tanah dan dapat disimpan sampai waktu yang lama bahkan ketika kemarau.

Warga Sugihwaras sendiri tinggal di kawasan yang belum dialiri air PDAM sehingga saat penghujan memiliki air melimpah tetapi saat kemarau kesulitan mendapatkan air bersih.

"Sumur di sini dalamnya sekitar 15-20 meter. Kalau kemarau sumurnya kering. Tidak ada air PDAM dan saat kemarau kami mengambil jatah air bersih yang jaraknya sekitar 1,5 kilometer dari rumah," katanya.

Baca juga: Kepulauan Seribu bangun 32 titik sumur resapan
Pewarta : Anom Prihantoro
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020