Menperin dorong percepatan subtitusi impor produk farmasi

Menperin dorong percepatan subtitusi impor produk farmasi

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita ditemui usai meninjau Pusat Riset Obat Modern Asli Indonesia di Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences di Cikarang, Bekasi, Rabu. (ANTARA/ Sella Panduarsa Gareta)

Cikarang (ANTARA) - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mendorong percepatan substitusi produk impor farmasi dengan bahan baku lokal untuk menekan angka impor, meningkatkan devisa negara, dan menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

“Industri farmasi merupakan industri strategis yang berdampak pada kebutuhan masyarakat banyak. Apalagi saat ini terjadi wabah Corona, di mana upaya kesehatan masyarakat meningkat tajam, sehingga kebutuhan obat-obatan juga naik,” kata Menperin saat meninjau Pusat Riset Obat Modern Asli Indonesia di Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences di Cikarang, Bekasi, Rabu.

Agus menyampaikan, industri farmasi menjadi salah satu industri yang terdampak dengan adanya wabah ini, mengingat 60 persen kebutuhan bahan baku berasal dari China.

Menperin menegaskan bahwa industri farmasi merupakan salah satu industri nonmigas yang menjadi target pertumbuhan industri nasional.

“Karena itu kami sangat mengapresiasi langkah Dexa Group yang sudah siap hingga ke hilirisasi dengan Obat Modern Asli Indonesia (OMAI), ini jelas mempunyai kandungan TKDN 100 persen, dan ini bisa dimaksimalkan dengan digunakannya OMAI di JKN, selain kita mendapatkan substitusi produk impor farmasi, kami juga akan mendorong ekspornya,” ujar Menperin.

Hal ini, lanjut Menperin, agar terjadi multiplier efek yang semakin mendorong pertumbuhan ekonomi.

Terhadap substitusi bahan baku impor farmasi, Dexa Group sebagai perusahaan Nasional telah mengupayakan kemandirian bahan baku farmasi melalui OMAI sejak tahun 2005.

OMAI merupakan obat-obatan yang bahan bakunya berasal dari alam Indonesia, sehingga mudah didapatkan dan tidak tergantung dengan impor.

Industri farmasi Nasional mencatat, sekitar 95 persen kebutuhan bahan baku farmasi di Indonesia berasal dari impor.

Nilai impor bahan baku obat setiap tahun mencapai 2,5 miliar dolar AS hingga 2,7 dolar AS. Di mana impor bahan baku terbesar berasal dari China yang mencapai 60 persen, diikuti India dan negara lainnya.

Baca juga: Industri farmasi berupaya tekan impor bahan baku
Baca juga: Bahan baku obat diharapkan diproduksi di dalam negeri
Baca juga: Deregulasi diharapkan dorong pengembangan industri farmasi

Pewarta : Sella Panduarsa Gareta
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020