USAID: Salatiga contoh nasional menabung air di tanah

USAID: Salatiga contoh nasional menabung air di tanah

Chief of Party USAID (Lembaga Pembangunan Internasional Amerika Serikat) IUWASH PLUS, William Parente (kanan), di IAIN Salatiga, Jawa Tengah, Rabu (11/3/2020). ANTARA/Anom Prihantoro

Semarang (ANTARA) - Lembaga Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) menyebut Salatiga menjadi contoh bagi wilayah lain di Indonesia dalam pengarusutamaan menabung air di tanah melalui fasilitas sumur resapan untuk ketersediaan air bersih jangka panjang.

"Setelah melihat dan mengunjungi mata air Senjoyo dan Randu Acir, kami tahu bahwa ada peningkatan yang signifikan dalam volume air di akuifer yang digunakan PDAM sebagai hasil upaya mengembalikan air ke alam," kata Chief of Party USAID IUWASH PLUS, William Parente, di IAIN Salatiga, Jawa Tengah, Rabu.

Pernyataannya merujuk sejumlah sumur resapan atau bipori di Salatiga yang dibangun dalam beberapa waktu terakhir melalui skema kemitraan lintas sektor. Terbukti sumur resapan di sejumlah kawasan mampu merembeskan air hujan saat musim penghujan ke tanah dan dampaknya terlihat dari debit air yang dihasilkan.

Baca juga: USAID-pemerintah gaungkan menabung air jelang Hari Air Sedunia
Baca juga: Kepulauan Seribu bangun 32 titik sumur resapan


Menurut dia, air bersih sangat penting bagi kesehatan dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Namun, saat ini masih ada sekitar setengah dari orang Indonesia yang tinggal di perkotaan tidak memiliki akses ke air perpipaan dan juga sekitar setengah penduduk perkotaan Indonesia belum memiliki akses sanitasi yang layak.
Peninjauan fasilitas sumur resapan atau bipori yang sedang dibangun di IAIN Salatiga, Jawa Tengah, Rabu (11/3/2020). (ANTARA/Anom Prihantoro)


Mata air dan sumur, kata dia, adalah sumber air baku yang penting bagi PDAM. Namun, degradasi daerah tangkapan air dan akuifer yang menangkap dan menyimpan air hujan mengancam kelayakan sumber daya tersebut.

"Beberapa hari ini saya melihat kegiatan yang terkait dengan konservasi air baku melalui pembangunan sumur resapan. Kegiatan ini sangat penting untuk menjamin ketersediaan air minum bagi masyarakat di Kota Salatiga," kata dia.

Baca juga: Jakarta diprediksi bebas genangan dengan 1,8 juta sumur resapan
Baca juga: Akademisi: Sumur resapan, cegah kekeringan

Dia mengatakan USAID bersama unsur pemerintah Indonesia terus bersinergi untuk terus mengkampanyekan pentingnya memperbanyak sumur resapan untuk ketersediaan air bersih dalam jangka panjang di berbagai daerah. Air tanah yang tidak hanya untuk masa kini tapi juga bagi anak cucu.

Sumur resapan, kata dia, dibangun di daerah tangkapan air diharapkan akan menangkap aliran air hujan untuk diserap ke dalam aliran air tanah sehingga debit air di mata air akan meningkat.

Singkat kata, William menyebut air hujan yang turun harus dikembalikan secara alami ke alam, meresap dan tersimpan lama di tanah. Salah satu cara yang dilakukan adalah melalui pembangunan fasilitas sumur resapan.

"Kunjungan lapangan yang kami laksanakan bertujuan untuk membangkitkan kesadaran para pihak akan pentingnya pengembalian air ke alam dan memastikan bahwa teknologi sederhana ini telah berhasil diterapkan di Indonesia untuk mendukung peningkatan debit air baku di mata air," katanya.

Baca juga: Tangerang bangun 200 sumur resapan antisipasi krisis air
Baca juga: 800 sumur resapan dibangun di lereng Gunung Sumbing
Baca juga: KLH menyebut satu dasawarsa 40 persen mata air hilang
Pewarta : Anom Prihantoro
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020