Menyorot kiprah Kodam II/Sriwijaya memberdayakan Suku Anak Dalam

Menyorot kiprah Kodam II/Sriwijaya memberdayakan Suku Anak Dalam

Dua prajurit TNI dari Kodam Sriwijaya berpose bersama sejumlah anak Suku Anak Dalam di pemukiman kawasan terpadu "Kampung Madani" di Desa Lubuk Jering, Jambi. (ANTARA/Letda Ilham Wahyudi/Junaydi S)

Jakarta (ANTARA) - Suku Anak Dalam (SAD) atau Suku Kubu merupakan salah satu suku yang ada di Indonesia dan hidup tersebar di kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas, Desa Lubuk Jering, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun Jambi.

Suku Anak Dalam ini dikenal sebagai kelompok masyarakat yang tidak pernah menetap di suatu tempat di dalam hutan.

Mereka hidup secara berpindah-pindah (nomaden) sesuai dengan keadaan sumber daya hutan yang bisa menopang kehidupannya. Karenanya mereka akan selalu berpindah-pindah jika terjadi pergantian musim.

Dengan kata lain, apabila di daerah sekitar tempat tinggal mereka sudah tak ada lagi tanaman pangan atau semakin sulit mencari hewan buruan, maka mereka pun berpindah ke daerah baru. Kebiasaan suka berpindah ini disebut dengan melangun.

Di Jambi, Suku Anak Dalam ini terbagi menjadi tiga kelompok besar, yakni kelompok pertama mereka yang lahir dan tinggal di hutan. Kedua yang lahir di hutan lalu berbaur dengan warga desa terdekat dan kelompok ketiga lahir dan besar di desa.

Bagi kelompok yang tinggal di hutan ini, keseluruhan hutan dianggap sebagai kepunyaan suku yang mampu memanfaatkannya untuk berbagai kegiatan adat Suku Anak Dalam.

Baca juga: Warga SAD anggota SMB pelaku penganiayaan dihukum empat bulan

Baca juga: Program PHE berdayakan Suku Anak Dalam raih penghargaan internasional


Seiring dengan semakin menciutnya hutan di Jambi dan Sumatera Selatan, kehidupan Suku Anak Dalam turut terpuruk dengan hilangnya sumber daya hutan setempat. Kondisi ini semakin diperparah dengan adanya proses marginalisasi yang dilakukan pemerintah dan kelompok mayoritas masyarakat lainnya.

Hal yang lebih buruk lagi adalah semakin tersisihnya Suku Anak Dalam ini oleh munculnya perkebunan kelapa sawit yang menggunduli hutan tempat tinggal mereka. Akibatnya konflik berkepanjangan antara Suku Anak Dalam dengan perusahaan perkebunan sawit seolah tanpa ada ujung pangkal.

Suku Anak Dalam (SAD) hidup jauh dari peradaban saat ini sehingga memerlukan kepedulian dari pihak-pihak tertentu agar mereka mendapatkan penghidupan yang layak dan kesetaraan hidup yang sama seperti masyarakat lain pada umumnya.

Wilayah hutan di Jambi yang menjadi tempat tinggal Suku Anak Dalam ini masuk dalam teritori Komando Daerah Militer (Kodam) II/Sriwijaya. Kendati markas Kodam Sriwijaya ini berada di Palembang, Sumatera Selatan, namun jangkauan teritorialnya mencakup pula empat provinsi lainnya, yakni Lampung, Bangka Belitung, Jambi dan Bengkulu.

Keberadaan Suku Anak Dalam yang semakin terjepit ini pun menjadi salah satu fokus perhatian pucuk pimpinan Kodam Sriwijaya. Pada tahun 2018, ketika Kodam ini masih dipimpin Mayjen TNI AM Putranto, jajaran TNI AD di bawah Kodam Sriwijaya berupaya mencarikan solusi atas sejumlah persoalan yang dihadapi Suku Anak Dalam ini.

Salah satu persoalan Suku Anak Dalam tersebut adalah tempat tinggal mereka yang semakin terpinggirkan, sehingga Pangdam Sriwijaya pada saat itu berinisiatif menjalin kerjasama dengan Pemda setempat, baik tingkat provinsi maupun kabupaten, agar membangun kawasan hunian permanen yang kemudian diberi nama “Kampung Madani Suku Anak Dalam”.

Baca juga: Membangun SDM unggul melalui pemberantasan buta aksara

Baca juga: Polda Jambi minta Timdu selamatkan SAD dari kelompok SMB

Sejumlah warga Suku Anak Dalam berjalan di depan rumah panggung yang dibangun oleh Kodam Sriwijaya di "Kampung Madani" Desa Lubuk Jering, Jambi. (ANTARA/Letda Ilham Wahyudi/Junaydi S)


Kawasan hunian terpadu seluas 10 hektare dan pembangunannya di mulai sejak Februari 2018 untuk Suku Anak Dalam ini berlokasi di Taman Nasional Bukit Dua Belas, Desa Lubuk Jering. Saat itu Pangdam AM Putranto menginginkan agar kehidupan warga Suku Anak Dalam lebih sejahtera sehingga status mereka bisa sejajar dengan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Setelah program pemberdayaan Suku Anak Dalam ini mulai berjalan dan Mayjen AM Putranto alih jabatan ke Bandung guna memangku jabatannya yang baru sebagai Dankodiklat TNI AD, Mayjen TNI Irwan selaku Pangdam Sriwijaya saat ini juga mempunyai komitmen kuat meneruskan gagasan Pangdam terdahulu.

Bahkan, Mayjen TNI Irwan berupaya mempercepat terwujudnya kawasan terpadu kampung madani Suku Anak Dalam tersebut. Komitmen tersebut dia sampaikan langsung kepada ratusan warga Suku Anak Dalam tatkala mengunjungi pemukiman mereka belum lama ini.

Setidaknya Mayjen TNI Irwan sudah tiga kali menemui Suku Anak Dalam guna membangun komunikasi yang lebih baik.

Untuk saat ini, berbagai fasilitas telah dibangun di kawasan tersebut mulai dari sarana pemukiman, pendidikan, kesehatan, MCK, balai pertemuan, rumah ibadah, guest house hingga membangun balai pelatihan pertanian dan peternakan.

Selain pembangunan fasilitas fisik, jajaran Kodam II/Swj juga melaksanakan berbagai kegiatan pembinaan non fisik kepada warga Suku Anak Dalam, diantaranya kegiatan penyuluhan kesehatan, pendidikan, dan pelatihan-pelatihan tentang bercocok tanam, berternak, memelihara ikan, dan lain sebagainya. Berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat Suku Anak Dalam ini di bawah koordinasi Kodim 0420/Sarko.

Sumbangsih Kodam II/Swj lainnya untuk mengentaskan masalah yang dihadapi Suku Anak Dalam adalah memberikan kesempatan kepada kepada putra-putra terbaik Suku Anak Dalam masuk menjadi prajurit TNI.

Harapannya, prajurit-prajurit TNI yang juga putra asli Suku Anak Dalam ini bisa menjadi contoh bagi keluarga dan sanak kerabat mereka lainnya untuk menata kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.*

Baca juga: Suku Anak Dalam Jambi diduga jadi tameng kejahatan SMB

Baca juga: Wasev Ster TNI cek pembangunan rumah Suku Anak Dalam Sarolangun

Pewarta : Junaydi Suswanto dan Letda Ilham Wahyudi
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020