ILO sebut pekerja sektor informal perlu bantuan langsung

ILO sebut  pekerja sektor informal perlu bantuan langsung

Direktur Jenderal Organisasi Buruh Internasional (International Labour Organization/ILO), Guy Ryder, dalam konferensi pers global melalui video daring pada Selasa (7/4/2020) malam waktu Jakarta. ILO memperkirakan krisis COVID-19 dapat memusnahkan 6,7 persen jam kerja secara global dalam kuartal kedua tahun 2020, atau setara dengan 195 juta pekerja penuh waktu. (ANTARA/Tangkapan layar konferensi pers ILO)

Jakarta (ANTARA) - Bantuan langsung terhadap para pekerja di sektor-sektor yang berisiko tinggi, termasuk sektor informal, dianggap penting guna memastikan keberlangsungan hidup mereka di tengah pandemi COVID-19 yang telah menjadi krisis global dan berdampak pada ekonomi dunia.

“Pemasukan yang terjamin, bantuan langsung, dan pemenuhan kebutuhan dasar harus diberikan pada mereka yang tidak memiliki pilihan lain,” kata Direktur Jenderal Organisasi Buruh Internasional (International Labour Organization/ILO), Guy Ryder, dalam konferensi video yang digelar secara daring pada Selasa malam waktu Jakarta.

Pemimpin  agensi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk buruh itu menegaskan bahwa mereka yang bekerja di sektor dengan risiko tinggi, termasuk para pekerja sektor informal, dihadapkan pada pilihan untuk melindungi diri dari virus yang menyebar, atau tidak memiliki sumber untuk bertahan hidup.

“Ini adalah dilema yang sangat penting (untuk diperhatikan) agar tidak ada yang harus menghadapi situasi seperti ini. Semua disiplin terkait kesehatan, semua pembatasan dan isolasi tidak dapat dan tidak akan dihormati apabila mereka dihadapkan dengan situasi seperti itu,” ujarnya.

Meski demikian, Ryder menyadari bahwa kebijakan untuk memastikan bahwa mereka yang paling terpapar risiko mendapatkan bantuan langsung dapat menjadi objektif yang sangat sulit.

Baca juga: ADB: Naikkan kualitas pekerja sektor informal
Baca juga: Malaysia-Indonesia Sepakati Upah Minimal Sektor Informal

Dia pun menyebut kerja sama internasional sebagai salah satu faktor yang paling penting guna memastikan pemenuhan kebutuhan pekerja di sektor-sektor rentan dapat tercapai.

“Kita perlu melihat adanya penyediaan sumber daya dalam skala besar untuk membantu negara-negara paling rentan dan menyediakan bantuan yang dibutuhkan,” kata Ryder.

Distribusi bantuan tersebut, lanjutnya, harus dilakukan secara sistematis oleh komunitas internasional melalui alur yang dapat dipercaya.

“Kita harus mencari jalan keluar yang dapat membantu semua lapisan masyarakat global, terutama mereka yang paling rentan atau paling tidak mampu menolong diri mereka sendiri,” ujar dia.

Menurut laporan ILO, dua miliar orang bekerja di sektor informal di seluruh dunia dan berada di situasi paling berisiko. Umumnya, mereka berada di perekonomian yang baru muncul dan berkembang.

Di Indonesia sendiri, sebanyak 74,08 juta orang, atau 57,27 persen pekerja berada di sektor informal per tahun 2019 lalu, sebagaimana tercatat dalam data Badan Pusat Statistik.

Baca juga: LIPI: 35 persen pekerja sektor informal tidak punya jaminan kesehatan
Baca juga: LIPI: pemerintah perlu kuatkan sektor informal untuk kurangi kemiskinan

Pewarta : Aria Cindyara
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020