Kepala BP2MI fokus urus kepulangan TKI karena terdampak COVID-19

Kepala BP2MI fokus urus kepulangan TKI karena terdampak COVID-19

Dokumentasi - Benny Rhamdani. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/nz/pri.

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Rhamdani mengaku ingin fokus kepada proses pemulangan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari luar negeri karena terdampak pandemik COVID-19.

"Yang paling penting adalah kepulangan para Tenaga Kerja Indonesia ini mengalami peningkatan karena terkait wabah virus Corona di negara-negara di mana mereka ditempatkan," kata Benny di lingkungan istana kepresidenan Jakarta, Rabu.

Pada hari ini Presiden Joko Widodo melantik Benny selaku Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) berdasarkan Keppres No. 72/TPA tahun 2020.

"Bahkan gelombang kepulangan tenaga kerja ini semakin besar itu menjelang bulan puasa dan juga Idul Fitri sehingga darat, laut, udara airport (bandara) kemudian juga wilayah perbatasan itu menjadi concern kita," ungkap Benny.

Politikus Partai Haruna itu mengatakan ingin memberikan jaminan kepada pekerja migran yang harus kembali ke Indonesia.

Baca juga: Presiden Jokowi lantik Benny Rhamdani sebagai Kepala BP2MI

"Mereka akan mendapatkan pengawalan khusus tentu dengan standar protokoler kesehatan, dengan kita akan tunduk patuh dan bahkan kita ingin memastikan tidak hanya mereka kembali dijamin aman di setiap perbatasan tadi pelabuhan, bandara dan wilayah perbatasan hingga mereka tiba di kampung halaman. Sekali lagi pekerja migran adalah VIP negara," tutur Benny.

Namun, untuk teknis kepulangan pekerja migran tersebut, BP2MI akan bekerja sama dengan Gugus Tugas COVID-19 dan pemerintah daerah untuk melakukan pengawasan bersama-sama.

"Sebetulnya dalam skema pertama kita ingin mengimbau dalam situasi ya negara-negara dan juga apa yang dialami Indonesia mereka tidak mengambil pilihan untuk kembali ke Tanah Air. Tapi jika mereka harus kembali ke Tanah Air maka kita akan siapkan dengan skema lain yaitu kita menyiapkan semua infrastruktur yang kita miliki untuk bersama-sama dengan satuan Gugus Tugas, kementerian dan lembaga bekerja sama agar tidak hanya mereka aman tiba sampai di kampung halaman, tapi juga tidak boleh satu pun pekerja migran tidak mendapatkan bantuan," ucap Benny.

Saat ini jumlah TKI terbesar ada di Malaysia, sebanyak 1,2 juta orang. Sebagian dari mereka sudah habis masa kontrak dan menunggu pulang. Pemerintah Indonesia juga sudah memberi sembako pada lebih dari 56 ribu TKI hingga Minggu (12/4).

Kementerian Luar Negeri menyampaikan dalam sebulan terakhir kepulangan TKI dari Malaysia melalui jalur regular jumlahnya sudah 56.368 orang. Selain itu, ada 1.621 TKI yang dideportasi pulang.

Baca juga: BP2MI sediakan data nama-alamat terkait kepulangan PMI karena COVID-19

Selanjutnya ada 17.325 TKI bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) di 118 kapal pesiar. Mereka berpotensi terdampak karena pihak principal berencana menghentikan operasi pelayaran. Dari jumlah tersebut, 4.496 ABK telah difasilitasi kepulangannya ke Indonesia.

Bagi ABK yang sakit tidak bisa langsung pulang. Mereka harus dirawat di rumah sakit setempat, setelah mereka sembuh dan dinyatakan bebas mereka bisa pulang via pesawat komersial.

BP2MI memproyeksi kepulangan TKI mencapai 37.075 orang karena habisnya masa kontrak pada April dan Mei 2020 dengan rincian dari Malaysia 15.429 orang, Hong Kong 11.303 orang, Singapura 3.507 orang dan negara lainnya.

Baca juga: BP2MI-pemda kerja sama awasi karantina mandiri PMI di daerah asal

Baca juga: Penempatan PMI ke negara terdampak COVID-19 bakal dihentikan sementara
Pewarta : Desca Lidya Natalia
Editor: Chandra Hamdani Noor
COPYRIGHT © ANTARA 2020