Atlet Kuba gunakan alat latihan seadanya di tengah pandemi

Atlet Kuba gunakan alat latihan seadanya di tengah pandemi

Atlet triatlon Kuba Leslie Amat menerima instruksi dari pelatihnya selama sesi pelatihan di atap rumahnya di tengah kekhawatiran tentang penyebaran wabah virus corona (COVID-19), di Havana, Kuba (17/4/2020). ANTARA/REUTERS/Alexandre Meneghini/aa.

Jakarta (ANTARA) - Dalam situasi pandemi virus corona, banyak atlet Kuba tak bisa berlatih di fasilitas olahraga seperti biasanya sehingga terpaksa memanfaatkan alat-alat seadanya yang bisa ditemukan di rumah masing-masing untuk latihan.

Dari aspek ekonomi, masyarakat Kuba yang memiliki rata-rata penghasilan sekitar Rp750 ribu per bulan, ditambah embargo dari Amerika Serikat yang menjadi importir utama mereka, memuat atlet di Kuba kesulitan membeli peralatan olahraga profesional.

"Saya harus beradaptasi," kata atlet triatlon Leslie Amat. Dia berimprovisasi dengan berlatih renang di kolam kecil di atap rumahnya, serta memakai karet ban yang diikat di dinding sebagai pengganti tarik beban saat berlari.

Baca juga: Austria longgarkan aturan pembatasan untuk latihan atlet profesional
Baca juga: Milan panggil semua pemain asingnya untuk kembali latihan


Amat bercerita, sejak virus mewabah di negaranya bulan lalu dan otoritas menutup fasilitas kolam renang utama, dia memutuskan untuk memakai kolam renang anak-anak sepanjang tiga meter yang dipinjamkan pelatihnya.

Selain Amat, atlet dari cabang olahraga lain juga dituntut beradaptasi atas masalah serupa.

Pemain bisbol Santiago Torres berlatih memukul dengan menggunakan ban mobil yang disusun sedemikian rupa. Barang tersebut digunakan untuk menggantikan mesin pukul otomatis yang biasa ia gunakan bersama timnya di fasilitas Santiago de Cuba.

"Saya harus selalu aktif meski berada di rumah, berlatih pertahanan dengan bola karet dan juga memukul tongkat," katanya dalam laporan Reuters yang dipantau di Jakarta, Sabtu.

Bagi mereka, kapan berakhirnya penundaan masa latihan hingga rampungnya "lockdown" merupakan pertanyaan yang belum bisa terjawab.

"Mimpiku adalah bisa ikut Olimpiade Tokyo. Di waktu sulit seperti ini kita harus kreatif. Selalu ingat lah bahwa (kesulitan) ini akan berakhir dan kita bisa meraih impian yang diinginkan," tutur Amat menyampaikan harapannya, yang masih butuh poin agar bisa lolos mewakili negaranya.

Baca juga: IOC yakin penundaan Olimpiade bakal bantu pemulihan ekonomi Jepang
Baca juga: IOC putuskan Olimpiade digelar 23 Juli 2021

 
Pewarta : Roy Rosa Bachtiar
Editor: Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020