Presiden Guatemala: Migran yang dideportasi dari AS tertular COVID-19

Presiden Guatemala: Migran yang dideportasi dari AS tertular COVID-19

Presiden Guatemala Alejandro Giammattei (kiri) dan Presiden El Salvador Nayib Bukele berjabat tangan setelah menandatangani pra-perjanjian untuk memiliki perbatasan terbuka antara kedua negara di San Salvador, El Salvador (27/1/2020). ANTARA/REUTERS/Jose Cabezas/aa. (REUTERS/JOSE CABEZAS)

Guatemala City (ANTARA) - Presiden Guatemala Alejandro Giammattei pada Jumat (17/4) mengatakan banyak warganya yang jadi migran di Amerika Serikat tertular COVID-19 saat dideportasi dari AS  pada minggu ini.

Pernyataan itu mengonfirmasi keterangan dari Pemerintah AS yang menyebutkan belasan migran dari Guatemala positif tertular virus SARS-CoV-2, penyebab COVID-19.

Giammattei mengatakan 12 orang dari rombongan migran yang dideportasi itu terbukti positif tertular virus saat diperiksa oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular AS (CDC). Presiden menambahkan mereka dipilih secara acak.

Ia pun meyakini ada lebih banyak orang yang telah positif tertular virus.

"Rombongan dalam jumlah besar tertular virus," kata presiden dalam pidato yang disiarkan televisi nasional. Pernyataan itu merujuk pada penerbangan berisi 73 warga Guatemala yang dideportasi dari AS. Penerbangan itu menuju ke ibu kota negara di Guatemala City, Senin.

Baca juga: Guatemala berusaha hambat deportasi imigran oleh AS
Baca juga: Guatemala siapkan 26 juta dolar AS bantu orang miskin hadapi corona


Pemerintah AS di bawah kepemimpinan Presiden Trump telah menekan otoritas di Guatemala untuk menerima migran yang dideportasi. Banyak pihak khawatir para migran itu membawa virus dan akan menularkan penyakit ke komunitas di daerah terpencil.

Isu tersebut jadi pusat perdebatan para politisi terlebih sejak Menteri Kesehatan Guatemala, Hugo Monroy, pada minggu ini mengatakan lebih dari 75 persen penumpang dalam pesawat itu tertular virus.

Kantor berita Associated Press kemudian mengutip seorang pejabat Guatemala yang mengatakan 44 penumpang pesawat dinyatakan positif COVID-19.

Pemerintah AS pada Kamis (16/4) mengatakan pihaknya telah mengirim petugas dari CDC untuk mengevaluasi situasi sekaligus memeriksa para migran yang dikarantina di sebuah rumah sakit.

Sampai saat ini belum jelas kapan orang yang dideportasi itu tertular virus. Sejauh ini ada sekitar 30 pegawai Keimigrasian di AS (ICE) yang bekerja di fasilitas penahanan, dinyatakan positif terinfeksi COVID-19. Dari angka itu, 13 di antaranya bekerja di Alexandria Staging Facility, Louisiana, demikian informasi dari ICE.

Penerbangan yang membawa migran dideportasi dari AS pada Kamis pun sementara ditunda setelah ada beberapa laporan mengenai penularan massal. Pesawat akan memulangkan para migran itu pada Senin setelah ditunda selama lima hari.

Badan Imigrasi AS dan Kepabeanan, yang bertanggung jawab terhadap deportasi, dan Kedutaan Besar AS di Guatemala belum memberikan tanggapan terkait informasi tersebut.

Sumber: Reuters

Baca juga: Imigran asal Guatemala wafat di tahanan setelah operasi empedu
Baca juga: Para imigran di AS bersembunyi karena takut penggerebekan massal
Pewarta : Genta Tenri Mawangi
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020