Sekelumit cerita "Kartini medis" saat masa pandemi corona

Sekelumit cerita

Petugas medis perempuan di ruang isolasi RSUD Gambiran, Kota Kediri. ANTARA/istimewa

Kediri (ANTARA) - Saat ini, dunia di tengah pandemi virus corona jenis baru (COVID-19). Indonesia termasuk negara yang temuan kasus penyebaran virus itu cukup tinggi dengan jumlah korban meninggal dunia relatif banyak.

Hingga Selasa (21/4), di Indonesia secara total, yang terkonfirmasi positif mencapai 7.135 orang. Pasien dalam perawatan mencapai 5.677 orang, 842 orang sembuh, dan 616 orang meninggal dunia.

Tentu jumlah ini terjadi kenaikan terus menerus. Petugas medis berusaha keras melakukan berbagai cara agar pasien yang dirawat segera sembuh. Begitu juga dengan pemerintah, dengan berbagai macam kebijakannya demi memutus mata rantai penyebaran virus corona.

Ada banyak cerita tentang para perempuan, petugas medis yang bertugas di ruang isolasi. Salah satunya di ruang isolasi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gambiran, Kota Kediri, Jawa Timur.

Sebut saja Yatiani, salah seorang petugas medis di rumah sakit tersebut. Sebagai petugas medis, segala daya, tenaga dan usaha dilakukan demi merawat para pasien.

Bekerja sepenuh hati dilakukannya. Ia ikut membayangkan jika yang sakit dan dirawat tersebut anggota keluarganya, sehingga harus total merawatnya.

"Kami membayangkan, andai yang sakit itu anak, suami, atau saudara sendiri, bukan orang lain. Jadi semua tenaga medis di sini merawat pasien COVID dengan sepenuh hati," kata Yatiani yang juga Kasi Pelayanan Keperawatan RSUD Gambiran Kota Kediri tersebut.

Di RSUD Gambiran Kota Kediri, setidaknya terdapat 19 tenaga kesehatan yang bertugas. Dari jumlah itu, 11 di antaranya merupakan perempuan. Mereka sosok "Kartini medis" masa kini yang menjadi garda depan, berjuang sekuat tenaga dan profesinya, merawat pasien pada masa pandemi corona seperti sekarang ini.

Bertugas di ruang isolasi guna memberikan pengobatan pada pasien yang dirawat pada masa pandemi corona tentunya bukan hal mudah. Mulai jaga jarak dengan rekan-rekan seprofesi lainnya, hingga harus jaga jarak dengan anggota keluarga di rumah harus dikerjakan juga.

Bukan pekerjaan yang mudah tentunya. Memang pada awal-awal, bertugas di ruang isolasi guna merawat pasien yang diduga maupun terkonfirmasi COVID-19 harus siap mental dan dilakukan secara totalitas. Kini dukungan terhadap mereka mengalir dari berbagai pihak.

Seiring berjalan waktu, pemahaman masyarakat tentang tugas tenaga medis menempati garis paling depan melawan COVID-19 mulai meningkat. Mereka tak lagi menjauhi tenaga medis. Bahkan, keluarga pun sangat mendukung dan memaklumi, karena hal itu sebagai tugas mulia.

Baca juga: Perempuan Sulteng dan upaya atasi pandemi COVID-19

Sri Aning, salah seorang petugas di ruang isolasi, mengaku terbuka dengan keluarga soal penugasan tersebut. Anak-anaknya kini sudah besar dan bisa memahami pekerjaan ibunya. Begitu pula dengan suami.

"Kalau masyarakat tahu saya kerja di rumah sakit. Anak-anak dan suami tahu saya di ruang isolasi. Kami jaga diri saja," kata Sri Aning yang juga bertugas di Bagian PPI (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi) RSUD Gambiran Kota Kediri itu.

Manajemen RSUD Gambiran Kota Kediri juga memberikan kebijakan khusus. Mereka sangat memperhatikan kesehatan tenaga medis yang bertugas, terlebih lagi di ruang isolasi.

Untuk tenaga kesehatan yang masih mempunyai anak-anak kecil, rumah sakit juga telah menyediakan kamar khusus bagi petugas yang tidak pulang. Tenaga medis itu rela untuk sementara tinggal di rumah sakit, demi mencegah hal yang tidak diinginkan.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kota Kediri dr Fauzan Adima mengemukakan manajemen rumah sakit menerapkan kerja sift untuk para tenaga medis.

Mereka bertugas selama tujuh hari di ruang isolasi dan tujuh hari untuk libur. Namun, waktu libur mereka juga tidak pulang ke rumah, melainkan tetap di rumah sakit.

"Rumah sakit menyediakan ruang karantina untuk petugas ruang isolasi. Jadi mereka bertugas selama tujuh hari di ruang isolasi, kemudian libur tujuh hari. Nah, waktu libur itu mereka tidak pulang ke rumah tapi dikarantina di RSUD Gambiran dengan semua fasilitas," kata dia.

                                                                           Bantuan APD
Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kota Kediri mengatakan stok alat pelindung diri (APD) masih mencukupi. Bantuan dari pusat maupun masyarakat juga banyak yang mengalir, sehingga pasokan masih mencukupi.

Kini, para tenaga kesehatan di Kota Kediri relatif tenang untuk bertugas sebab APD sudah lengkap. Prosedur ketat tetap dilakukan. Ada standar operasional prosedur yang wajib dipatuhi.

Terdapat tiga zona di ruang isolasi RSUD Gambiran, Kota Kediri, yaitu hijau, kuning, dan merah. Di zona merah, petugas kesehatan harus mengenakan APD.

Usai bertugas, APD dilepas di ruang ganti, kemudian mandi sebelum keluar dari ruang isolasi. Rute pun sudah ditentukan sehingga meminimalisasi penyebaran virus.

"Kalau bagi kami, selain menaati SOP, tidak boleh stres. Dibawa gembira," kata Yatiani.

Baca juga: Psikolog: Jauh sebelum wabah COVID-19, perempuan sudah jadi relawan

Yatiani menyebut harus bertugas dengan ancaman penyakit menular bukan kali ini saja. Dirinya pernah bertugas era pandemik SARS COV 1 tahun 2011. Saat itu, petugas jaga-jaga dan bukan menangani pasien seperti sekarang.

Aning, perawat lainnya berharap, warga tetap mematuhi anjuran pemerintah, dengan tinggal di rumah, menggunakan masker ketika keluar rumah, dan rajin mencuci tangan menggunakan sabun serta air mengalir.

"Imbauan kami, mohon masyarakat di luar untuk menaati aturan pemerintah. Tinggal di rumah, pakai masker, dan rajin cuci tangan untuk memutus penyebaran virus ini," kata dia.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kota Kediri yang juga Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri dr Fauzan Adima menambahkan selain benteng kekebalan dari diri sendiri, manajemen juga sangat memperhatikan gizi dan suplemen bagi tenaga medis.

Manajemen rumah sakit memberikan vitamin dan buah agar daya tahan tubuh mereka tetap prima.

Imbauan ini juga berlaku untuk masyarakat umum dengan mengonsumsi makanan yang bergizi, sehingga daya tahan tubuh tetap bagus.

Hinga kini, di Ruang Isolasi RSUD Gambiran Kota Kediri ditempati 13 pasien, di mana tiga pasien di antaranya positif COVID-19. Kondisi kesehatan mereka juga terpantau bagus.

                                                                                Belum ajukan
Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar menegaskan belum mengajukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) untuk Kota Kediri. Pemerintah kota masih terus berupaya mengoptimalkan berbagai aturan, demi memutus mata rantai penyebaran virus corona di daerah itu.

Di Kota Kediri, aktivitas masyarakat kini sudah mulai ramai kembali. Padahal, pemerintah telah menganjurkan agar mereka melakukan pembatasan sosial dan fisik demi mencegah penyebaran virus corona.

Abu Bakar menegaskan surat edaran yang telah dikeluarkan Pemkot Kediri masih berlaku, baik itu kebijakan tentang ibadah, kebijakan untuk tinggal di rumah saja, buka dan tutup kafe, kedai kopi, rumah makan. Jika ingin makan dianjurkan untuk dibungkus saja.

Ia prihatin kini aktivitas di masyarakat sudah mulai ramai. Untuk itu, aturan tersebut ditegaskannya kembali agar masyarakat memahaminya.

Berbagai cara dilakukannya termasuk kembali mengingatkan masyarakat lewat jejaring sosial Instagram miliknya. Mas Abu, sapaan akrab wali kota itu, berharap, langkah ini lebih dipahami masyarakat.

"Jadi, saya peringatkan. Saya mohon karena beberapa hari ini saya keliling, kondisi Kota Kediri sudah mulai ramai lagi dan warga menggampangkan. Tidak bermaksud menakut-nakuti, tapi hari ini Kemenkes sudah menyetujui PSBB di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik," kata dia.

Baca juga: Institut Sarinah: Keuletan "Kartini" jadi modal sosial atasi corona

Kebijakan PSBB dirasa belum diputuskan di Kota Kediri.

Dia mengatakan jika dilakukan PSBB semua aktivitas akan berhenti. Hal itu tidak diinginkannya di Kota Kediri, sehingga Kediri tidak PSBB.

Namun, diharapkan semua warga mau memperhatikan dan mematuhi instruksi pemerintah dan jangan sampai lengah.

Pemerintah kota telah berupaya keras selama ini. Masyarakat diajak untuk berpikir positif, menaikkan imun, sehingga daya tahan tubuh menjadi lebih bagus, kebal terhadap penyakit.

Sebagai wali kota dan juga bapak empat anak, dirinya sadar bahwa anak-anak sudah mulai bosan tinggal di dalam rumah. Namun, hal itu harus dilakukan demi kebaikan bersama.

Jika semua pihak bersatu padu, tentunya program untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona bisa optimal. Jumlah kasus bisa ditekan seminimal mungkin, sehingga aktivitas masyarakat bisa kembali pulih.

"Saya yakin jika melakukan bersama-sama, insyaallah kita bisa memutus mata rantai CPVID-19," kata dia optimistis.

Di Kota Kediri, hingga Selasa (21/4) jumlah orang dalam pemantauan (ODP) mencapai 190 orang, pasien dalam pengawasan sembilan orang, dan yang terkonfirmasi positif COVID-19 tujuh orang, di mana lima orang dirawat dan dua lainnya sembuh.

Pemerintah Kota Kediri juga telah membuat tempat observasi, salah satunya di Polinema Kota Kediri. Di tempat itu, disediakan fasilitas observasi bagi pemudik serta memantau kesehatannya.

Setiap pemudik yang baru turun, baik di Stasiun Kota Kediri, terminal, maupun tempat publik lainnya, akan dibawa oleh petugas ke tempat observasi tersebut.

Selain diperiksa kesehatan seperti suhu badan, juga riwayat perjalanan dan dianjurkan untuk cuci tangan.

Jika kondisi yang bersangkutan sehat, akan diizinkan melanjutkan perjalanan. Namun, jika memerlukan pemantauan lebih jauh harus menunggu 14 hari. Jika sakit parah, akan dirujuk ke rumah sakit.

Untuk pelayanan kesehatan, selain di RSUD Gambiran Kota Kediri, di RSUD Gambiran yang lama juga akan dimanfaatkan guna merawat pasien dengan gejala COVID-19 ringan.

Hingga kini, perbaikan terus dilakukan sehingga siap untuk dimanfaatkan.

Baca juga: Menebarkan semangat Kartini dari ruang isolasi
Baca juga: Cara Kartini masa kini melawan COVID-19
Pewarta : Asmaul Chusna
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2020