Dua napi asimilasi terlibat kasus pencurian dijemput petugas rutan

Dua napi asimilasi terlibat kasus pencurian dijemput petugas rutan

Kepala Polres Kota Surakarta Kombes Pol. Andy Rifai. ANTARA/Bambang Dwi Marwoto

Solo (ANTARA) - Petugas rumah tahanan negara (rutan) dan lembaga pemasyarakatan (lapas) menjemput dua narapidana yang ikut program asimilasi untuk melanjutkan sisa hukumannya gegara mereka terlibat kasus pencurian di Solo, Jawa Tengah.

"Kini, keduanya sudah dijemput oleh petugas rutan dan petugas lapas," kata Kepala Polres Kota Surakarta Kombes Pol. Andy Rifai di Solo, Rabu.

Andy menjelaskan bahwa yang menjemput mereka di Markas Polresta Surakarta adalah petugas dari Rutan Kendal dan  Lapas Ambarawa, tempat kedua napi sebelum menjalani asimilasi di rumahnya masing-masing.

Setelah keduanya selesai menjalani sisa hukumannya, pihaknya akan memproses kasus mereka.

Sebelum napi menjalani asimilasi, lanjut Kapolres, rutan/lapas seharusnya berkoordinasi dengan Polresta dan Pemerintah Kota Surakarta sehingga pemda setempat dan polisi mengetahui siapa saja di antara napi yang ikut program asimilasi.

Baca juga: Polsek Pekanbaru Kota bekuk napi asimilasi membobol toko elektronik

Polisi paling tidak sudah mengetahui dan memberikan pengarahan kepada mereka untuk tidak melakukan lagi perbuatan tindak pidana.

Selain itu, lanjut dia, juga memastikan nama dan alamatnya untuk memantau keberadaan yang bersangkutan.

"Kami sebelumnya hanya diberikan datanya saja sehingga harus cari sendiri keberadaan mereka ketika menjalani asimilasi," kata Andy.

Ia mengatakan bahwa program asimilasi ini merupakan salah satu yang menjadi perhatian aparat keamanan dan Pemkot Surakarta.

Bahkan, Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo siap memperhatikan napi yang ikut program asimilasi karena mereka masih menganggur. Apalagi, kondisi pandemi COVID-19 saat ini, mau mencari pekerjaan masih susah, padahal mereka butuh makan pada masa asimilasi di rumahnya masing-masing.

Menurut Hadi Rudyatmo, seharusnya orangnya diserahkan ke pemerintah kota terlebih dahulu, bukan hanya datanya. Selanjutnya, dengan didampingi kapolres dan dandim setempat dilakukan pembinaan terlebih dahulu sehingga pemda mempunyai tanggung jawab.

"Saya hanya diberikan catatan nama napi asimilasi. Jika mereka diasimilasi langsung keluar kota, saya tidak tahu," kata Rudyatmo.

Baca juga: 52 napi asimilasi di Batang dapat paket sembako

Agar mereka tidak kembali lagi melakukan kejahatan, Wali Kota memandang perlu Pemkot Surakarta melakukan pembinaan terhadap mereka terlebih dahulu sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing. Adapun pelaksanaannya bersama-sama dengan kapolres dan dandim.

"Kami kemudian bekerja sama dengan babinsa dan babinkamtibmas, RT, dan RW sehingga mereka terpantau terus keberadaannya," kata Wali Kota.

Ia menegaskan, "Jangan hanya dilepas dan dibiarkan cari makan sendiri. Jika tidak bisa makan, mereka akan melakukan kejahatan lagi. Apalagi, jumlahnya lebih dari 100 napi di Solo yang ikut program asimilasi," katanya.
Pewarta : Bambang Dwi Marwoto
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2020