Hadapi tiga guncangan, Pertamina EP Asset 4 pertahankan produksi migas

Hadapi tiga guncangan, Pertamina EP Asset 4 pertahankan produksi migas

Petugas sedang memeriksa fasilitas produksi PT Pertamina EP Asset 4. ANTARA/HO-Pertamina EP

Jakarta (ANTARA) - Pertamina EP Asset 4 berupaya mampu mempertahankan tingkat produksi minyak dan gas bumi di tengah industri migas nasional saat ini menghadapi tiga guncangan (triple shock) yaitu melemahnya harga minyak dunia, tingginya kurs dolar AS dan pandemi global COVID-19.

"Hal tersebut tentunya berdampak terhadap operasi kami di sektor hulu migas. Namun alhamdulillah dengan segala doa dan upaya, kami berhasil menyelesaikan pemboran sumur SKW-I03 di Sukowati Field dengan hasil uji produksi sumur ini memberikan kontribusi minyak sebesar 947 BOPD," kata General Manager Pertamina EP Asset 4, Agus Amperianto dalam keterangan persnya yang diterima di Jakarta, Rabu.

Adapun capaian produksi PEP Asset 4 hingga April 2020, untuk minyak mencapai 15.437 barel per hari (BOPD) atau 99,11 dari target RKAP. Sementara untuk gas mencapai 171,76 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD) atau 103,47 persen terhadap target.

Kontribusi terbesar produksi untuk minyak dari Lapangan Sukowati yaitu 8.696 BOPD. Dan sumbangsih terbesar produksi gas dari Lapangan Donggi Matindok yaitu 98,54 MMSCFD.

Berikut capaian produksi April 2020 per field di Asset 4. Pertama, Field Cepu minyak 2.115 BOPD dan gas : 55,40 MMSCFD. Kedua, Field Poleng minyak 2.660 BOPD dan gas 4,57 MMSCFD. Ketiga Field Donggi Matindok untuk kondensat 894 BCPD, gas 98,54 MMSCFD.

Kemudian keempat Field Sukowati untuk minyak 8.696 BOPD dan gas 12,47 MMSCFD. Selanjutnya kelima Field Papua, minyak 999 BOPD dan gas 0,78 MMSCFD sedangkan keenam, Unitisasi Wakamuk untuk minyak 73 BOPD.

"Kami bersyukur capaian produksi masih bisa mengejar target yang ditetapkan. Dan strategi optimisme kami dalam menyelesaikan target produksi hingga akhir tahun 2020, mengingat harga minyak dunia tengah mengalami penurunan yang signifikan, salah satunya dengan mempertahankan produksi eksisting agar tidak banyak sumur yang mengalami low & off serta mengoptimalkan produksi sumur tua," kata Agus.

Selain itu, lanjut Agus, pihaknya menerapkan cost leadership melalui evaluasi Rencana Kerja Bor/Work Over/Well Intervention berdasarkan keekonomian dengan sensitivitas harga minyak.

"Dapat kami sampaikan juga, bahwa hingga akhir tahun 2020 kegiatan pemboran sumur baru sementara ditiadakan, pemboran ditunda ke tahun 2021, selain karena kondisi triple shock juga karena sedang dalam proses IPPKH dan penyiapan lokasi bor," jelas Agus.

Selain fokus terhadap peningkatan produksi, PEP Asset 4 juga tetap berupaya meningkatkan cadangan migas baru melalui kegiatan eksplorasi yang salah satunya kegiatan seismik di Papua telah selesai dilakukan di bulan Februari 2020. Saat ini masih dalam tahap evaluasi untuk pengembangan lapangan lanjut di Papua.

"Selain itu, saat ini juga sedang berlangsung beberapa study inhouse GGRP untuk mendapatkan peluang-peluang baru di Field Cepu, Donggi Matindok, Sukowati dan Papua. Harapan kami, setelah kondisi ini berlalu, kami bisa catch up dengan rencana yang sudah ditetapkan dan bisa memenuhi target produksi migas secara nasional”, terang Agus.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Pertamina EP Nanang Abdul Manaf menambahkan bahwa Pertamina EP optimis untuk bisa melalui masa sulit ini akibat penurunan harga minyak dunia yang terjadi dengan sangat cepat dalam kurun waktu hitungan hari.

"Apalagi Pertamina EP memiliki pengalaman operasi di tengah rendahnya harga minyak sehingga kondisi saat ini bukan hal yang terlalu mengejutkan. Pertamina EP telah menyiapkan strategi jika kondisi anjloknya harga minyak terus berlangsung dalam waktu yang tidak lama," kata Nanang.

Nanang meminta para Field Manager dan General Manager di masing-masing asset sebagai perpanjangan tangan manajemen Pertamina EP untuk melakukan efisiensi beberapa program yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan operasi produksi. Pertamina EP tetap menjalankan WP&B dengan pelaksanaan seefektif mungkin.

"Tidak ada pembatasan biaya sepanjang setiap biaya yang dikeluarkan berdampak pada peningkatan kinerja, produksi, cadangan, HSSE, dan sebagainya. Hal-Hal yang tidak berhubungan dengan produksi dan peningkatan cadangan dan sebagainya, ya kita tidak lakukan," katanya.

Baca juga: Harga minyak turun, Pertamina EP cetak laba Rp2,6 triliun
Baca juga: Pertamina EP sumbangkan Rp2 miliar untuk penanganan COVID-19

 
Pewarta : Faisal Yunianto
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020