Kemendikbud: pandemi bisa sebabkan rusaknya kemampuan belajar anak

Kemendikbud: pandemi bisa sebabkan rusaknya kemampuan belajar anak

Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Dr Muhammad Hasbi MPd di Jakarta, Senin (11/4). (ANTARA/Indriani)

Jakarta (ANTARA) - Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Dr Muhammad Hasbi MPd mengatakan pandemi COVID-19 memiliki risiko yakni bisa menyebabkan rusaknya potensi dan kemampuan belajar anak.

"Risiko lainnya yakni munculnya kekerasan, eksploitasi dan pelanggaran hak anak," ujar Hasbi dalam webinar "Pendidikan yang Membahagiakan Anak di Era COVID-10" di Jakarta, Senin.

Risiko-risiko tersebut ditimbulkan karena keterbatasan orang tua dalam mengajar dari rumah, serta guru masih perlu beradaptasi dalam menyelenggarakan pembelajaran daring. Orang tua memiliki keterbatasan kurangnya kompetensi pedagogik, kurangnya kompetensi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), keterbatasasn fasilitas terutama pada keluarga, dan menurunnya penghasilan keluarga.

Baca juga: Selama pandemi COVID-19, Kemendikbud akui konten pendidikan terbatas

Sementara keterbatasan guru yakni kerentanan menurunnya kesejahteraan, keterbatasan kompetensi mengelola proses pendidikan jarak jauh, keterbatasan pendidik mengakses fasilitas internet beserta perangkatnya, dan terbatasnya sumber belajar nondaring.

Oleh karena itu, Kemendikbud melakukan berbagai langkah dalam menyelenggarakan pembelajaran untuk jenjang PAUD. Langkah-langkah tersebut yakni menyusun panduan praktis orang tua yang dapat diakses melalui media sosial, membuat mekanisme guru piket PAUD agar orang tua mendapatkan informasi pembelajaran apa yang dilakukan di rumah, serta menghimpun praktik baik pembelajaran yang dapat dilakukan di rumah.

"Kami juga melakukan pendampingan pada guru, untuk mengurangi keterbatasan yang dialami guru," kata Hasbi.

Langkah pendampingan bagi guru yakni dengan memberikan pelatihan pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran, peningkatan kompetensi pendidikan, penyusunan panduan guru dalam melakukan pembimbingan kepada orang tua, serta mengoptimalkan penggunaan 'open resources' untuk peningkatan kompetensi berbagai laman maupun media sosial.

Baca juga: Program belajar yang disiarkan melalui TV bantu siswa dalam belajar

"Kemendikbud juga menyelenggarakan program belajar di rumah yang disiarkan di TVRI," terang Hasbi.

Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah Prof Dr Hj Masyitoh Chusnan MAg meminta para guru PAUD untuk tetap sabar dalam menghadapi ujian pandemi COVID-19.

Akibat pandemi COVID-19, sebagian besar guru PAUD mengalami kesulitan ekonomi karena banyak wali murid yang kesulitan membayar SPP dan berdampak pada operasional sekolah.

Pandemi COVID-19, lanjut dia, memberikan pelajaran bagi semua masyarakat. Tidak hanya Indonesia, tetapi juga negara maju.

"Cobaan ini harus disikapi dengan sikap sabar dan sukur sehingga hidup mendapat berkah, yang mana nanti akan mendapat jalan keluar, rezeki dari arah yang tida terduga dan dicukupkan keperluannya," imbuh Masyitoh.

Baca juga: Kemdikbud diminta terbitkan kebijakan pendidikan vokasi selama pandemi
Pewarta : Indriani
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020