Pakar ekonomi sebut program B30 layak dilanjutkan

Pakar ekonomi sebut program B30 layak dilanjutkan

Sampel bahan bakar biodiesel B30. ANTARA/Chairul Rohman/aa.

Jakarta (ANTARA) - Pakar ekonomi Raden Pardede menyebutkan program biodiesel 30 persen (B30) masih tetap layak dilanjutkan sebab kebijakan tersebut terbukti efektif mendongkrak harga tandan buah segar (TBS) milik petani dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

Raden Pardede di Jakarta, Rabu menjelaskan, program B30 menyebabkan pasar minyak sawit mentah di dalam negeri meningkat sehingga memicu peningkatan permintaan terhadap komoditas tersebut yang dampaknya harga CPO juga terkatrol.

"Tak hanya harga CPO yang meningkat, tapi TBS yang merupakan bahan baku CPO turut menikmati margin. Kebijakan ini sangat membantu para petani sawit. Karena itu, kebijakan ini tepat," katanya.
Baca juga: Gaikindo sebut pengembangan biodisel kebijakan yang tepat

Menurut dia, jika Indonesia tidak menerapkan program B30, bisa dipastikan harga TBS dan CPO akan lebih rendah dibandingkan dengan harga yang terjadi saat ini, karena sebagian besar komoditas itu diekspor ke luar negeri.

Sayangnya, lanjutnya, permintaan dunia akan CPO saat ini dipastikan menurun, mengingat di saat pandemi COVID-19 perekonomian global lesu, industri-industri yang menggunakan bahan baku minyak kelapa sawit juga mengurangi produksinya.

Dampaknya, permintaan dunia akan minyak sawit juga menurun dan dipastikan menekan harga TBS di tingkat petani.

"Untung saja Indonesia ada program B30 sehingga penurunan permintaan minyak sawit tak terlalu signifikan," kata Raden Pardede melalui keterangan tertulis.
Baca juga: Airlangga sebut implementasi biodisel atasi defisit neraca perdagangan

Jadi, menurut dia, pasar minyak sawit di dalam negeri ini harus tetap diamankan sebab kalau tidak ada pasar domestik yang besar, maka harga TBS dipastikan akan anjlok.

Selain itu, ujarnya, manfaat program B30 lainnya yakni menghemat devisa. Keinginan penambahan importasi solar dinilai tidak tepat kendati harga minyak mentah dunia saat ini sangat murah karena banyak devisa negara yang keluar.

Di saat pandemi COVID-19 ini, kata Raden Pardede, Indonesia harus memiliki lokomotif ekonomi yang mampu membangkitkan perekonomian nasional.

Saat ini, hampir semua sektor ekonomi terpuruk, hanya sedikit sektor ekonomi yang mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19, salah satunya perkebunan kelapa sawit beserta industri turunannya.
Baca juga: Sawit bisa jadi penyokong ketersediaan energi nasional

Program B30 di 2020 akan menggunakan biodisel sebanyak 9,59 juta kilo liter. Manfaat ekonomi dan sosial dari implementasi Program B30 akan menghemat devisa sebesar 5,13 miliar dolar AS atau setara dengan Rp63,39 triliun sedangkan hilirisasi CPO menjadi biodisel memberikan nilai tambah Rp13,82 triliun.

Dengan program B30 ini akan mempertahankan tenaga kerja (petani sawit) di on farm sebanyak 1,2 juta orang dan di off farm sebanyak 9.005 orang.

Wakil Ketua Komisi IV DPR Hasan Aminuddin mengatakan pemerintah harus memproteksi petani untuk menyediakan pangan masyarakat.

Menurut dia, Program B30 secara tidak langsung juga merupakan proteksi yang dilakukan pemerintah dalam rangka menjaga harga TBS tetap pada harga yang menguntungkan petani.

Baca juga: Tekad menuju "green diesel" ramah lingkungan
Pewarta : Subagyo
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © ANTARA 2020