Yenny Wahid berharap lebih banyak LSM Indonesia ikut Paris Peace Forum

Yenny Wahid berharap lebih banyak LSM Indonesia ikut Paris Peace Forum

Tangkapan layar: Direktur eksekutif The Wahid Institute Yenny Wahid dalam webinar mengenai Paris Peace Forum yang digelar oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Rabu (10/6/2020). (ANTARA/Suwanti)

Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif The Wahid Institute Yenny Wahid mengharapkan peran serta dari lebih banyak LSM di Indonesia dalam gelaran Paris Peace Forum, untuk menunjukkan kerja yang ditelah dilakukan selama ini kepada masyarakat global.

Dalam webinar mengenai Paris Peace Forum 2020 yang digelar oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Rabu, Yenny menyebut organisasi kemasyarakatan Indonesia telah berbuat banyak hal yang memberi dampak langsung bagi masyarakat.

"Banyak LSM yang sebetulnya melakukan kerja-kerja luar biasa, tetapi tidak terdeteksi dalam panggung internasional, sekarang ini sudah ada platformnya. Saya berharap lebih banyak pula suara-suara global yang mengapresiasi," kata Yenny.

Paris Peace Forum (PPF) adalah inisiatif Pemerintah Prancis yang mulai diselenggarakan pada 2018, untuk menampung dan memamerkan proyek-proyek organisasi kemasyarakatan dari seluruh dunia untuk pemerintahan global.
Baca juga: Yenny Wahid jalankan program bantuan banjir Jakarta bersama FPTI

Isu-isu yang dibahas dalam forum tersebut, antara lain perdamaian, pengembangan masyarakat, lingkungan, dan kebudayaan. Pada tahun ketiga, PPF--yang rencananya digelar 11-13 November 2020 secara virtual--juga akan menyoroti isu terkait pandemi COVID-19 yang tengah terjadi.

Dalam hal ini, Yenny juga mengambil peran dalam PPF, yakni menjabat anggota komite pengarah yang disebut oleh Duta Besar Prancis untuk Indonesia Olivier Chambard sebagai anggota "dengan kepakaran pemerintahan global dan isu gender yang berkontribusi dalam menentukan arah strategis PPF."

Yenny optimistis bahwa organisasi kemasyarakatan di Indonesia mempunyai sejumlah kelebihan untuk dapat diperkenalkan kepada masyarakat dunia, misalnya bagaimana LSM aktif mengisi ruang yang tidak bisa diisi oleh pemerintah.

"Kalau kita lihat di banyak negara, biasanya terjadi ketegangan antara LSM dengan pemerintah. Tetapi di Indonesia ada ruang yang khusus diisi LSM yang kadang bisa menyertakan pemerintah, sehingga banyak terjadi kolaborasi lintas sektor," ujar Yenny.

Selain itu, menurut Yenny meskipun LSM Indonesia bekerja terhadap isu-isu global, selalu ada sentuhan lokal yang membuat hasil kerja tersebut memberikan dampak bagi masyarakat di akar rumput.
Baca juga: LSM Burung jangkau 202 desa dorong penguatan keanekaragaman hayati
Pewarta : Suwanti
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2020