Anak-anak hadapi tantangan berat masa pandemi COVID-19

Anak-anak hadapi tantangan berat masa pandemi COVID-19

Kampanye Gerakan Pulih Bersama (ANTARA/Muhammad Hajiji)

Palu (ANTARA) - Save The Children atau Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) menyatakan anak-anak menghadapi tantangan berat di masa pandemi COVID-19.

"Dalam temuan Penilaian Kebutuhan Cepat (Rapid Need Assessment) Save the Children, kondisi pemenuhan anak-anak kita mengalami tantangan berat pada masa pandemi ini," ucap Ketua Dewan Pengurus YSTC, Selina Patta Sumbung saat menyampaikan sambutan pada peluncuran dan webinar Kampanye Gerakan Pulih Bersama yang di laksanakan oleh YSTC melibatkan para pemerintah pusat dan daerah, Kamis.

Dalam kampanye itu, Selina Patta Sumbung menguraikan berdasarkan data Gugus Tugas COVID-19 menunjukkan, hingga 8 Juni 2020, terdapat sekitar 2.531 anak atau 7,9 persen anak terinfeksi COVID-19. 28 anak atau 1,5 persen kasus kematian, dan 1.809 atau 9,4 persen dalam perawatan atau isolasi.

Selina menyebut YSTC mencatat setidaknga terdapat tujuh risiko yang dihadapi anak-anak di masa pandemi COVID-19. Risiko pertama yakni sangat dimungkinkan kehilangan orang tua karena terdapat 1,2 juta potensi kasus COVID-19, yang bisa terjadi dengan penanganan moderat. Selain itu, 6 dari 10 kasus COVID-19 terjadi pada orang-orang dengan usia produktif.
Baca juga: Pentingnya fokus pada gizi anak Indonesia di masa pandemi corona

"Ini memang telah sering kami sampaikan, tetapi Save The Children akan terus menyuarakan tujuh risiko ini,"sebutnya.

Kedua, risiko pada sektor pendidikan yaitu hilangnya akses pada pendidikan berkualitas, ini mungkin terjadi karena 2 dari 3 orang tua mengatakan jika anaknya tidak belajar melalui situs daring pendidikan yang tersedia.

Risiko ketiga kesejahteraan anak terancam karena 1 dari 3 responden kehilangan pekerjaan akibat pandemi, 75 persen responden kehilangan setengah pendapatan, dan 70 persen responden kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Keempat, pada sektor kesehatan, adanya risiko hilangnya layanan berkualitas. Kelima, Anak disabilitas memiliki kerentanan lebih tinggi karena kurangnyaa akses untuk menjangkau mereka.
Baca juga: PKK Sulsel berdayakan perempuan dan anak di masa pandemi

Keenam, Risiko kekerasan terhadap anak berpotensi meningkat. Kata Selina, hal ini didukung oleh temuan bahwa 80 persen anak usia 12-17 tahun pernah mengalami perundungan di dunia maya.

Terakhir, dengan adanya pandemi ini, sebut dia, anak-anak di daerah rawan bencana memiliki risiko ganda sebagai risiko ketujuh di tengah adanya wabah pandemi COVID-19.

"Kami YSTC sungguh-sungguh mengajak seluruh komponen masyarakat untuk bersama dan berkolaborasi dalam aksi-aksi nyata, untuk memastikan kita bisa pulih bersama anak-anak kita, dan sekaligus tetap berjuang menghilangkan segala persoalan yang dihadapi anak-anak kita, termasuk tujuh risiko tersebut," imbuhnya.
Baca juga: UNICEF: Orang tua hadapi banyak tantangan ajak anak belajar di rumah
Peluncuran dan webinar Kampanye Gerakan Pulih Bersama yang di laksanakan oleh YSTC melibatkan para pemerintah pusat dan daerah, Kamis (11/6). (ANTARA/YSTC Sulteng)
Pewarta : Muhammad Hajiji
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2020