PM Inggris luncurkan komisi lintas pemerintah tentang rasisme

PM Inggris luncurkan komisi lintas pemerintah tentang rasisme

Dua polisi berjaga sementara belasan spanduk berserakan usai aksi protes pemindahan patung penjajah Inggris Cecil Rhodes di Orei College Oxford, di Oxford, Inggris, Selasa (9/6/2020), setelah tewasnya George Floyd saat ditahan polisi Minneapolis, Amerika Serikat. ANTARA/REUTERS/Hannah McKay/AWW/djo

London (ANTARA) - Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan komisi lintas pemerintah akan mengkaji rasisme dan perbedaan yang dialami oleh kelompok etnis minoritas dalam pendidikan, kesehatan dan sistem peradilan pidana setelah protes "Black Lives Matter".

Johnson mengatakan dia tidak dapat mengabaikan kuatnya perasaan yang ditunjukkan oleh puluhan ribu orang yang telah berdemonstrasi di London dan kota-kota Inggris lainnya setelah kematian seorang warga keturunan Afrika-Amerika George Floyd di Minneapolis bulan lalu.

"Kita harus melihat diskriminasi dalam sistem pendidikan, kesehatan, serta sistem peradilan pidana, kita harus melihat semua cara  yang memengaruhi kelompok etnis kulit hitam dan minoritas," kata Johnson pada Minggu.

"Dan kita akan melakukan upaya besar yang akan kita umumkan segera: komisi baru lintas pemerintah untuk melihat apa yang sedang terjadi untuk kelompok etnis kulit hitam dan minoritas dan untuk memperjuangkan keberhasilan mereka."

Dia mengatakan kemajuan dalam menanggulangi rasisme dan meningkatkan peluang, seperti lebih banyak mahasiswa kulit hitam dan etnis minoritas yang kuliah, telah "sedikit hilang".

"Apa yang benar-benar ingin saya lakukan sebagai perdana menteri adalah mengubah narasinya, jadi kita hentikan perlakuan, yang membuat orang menjadi korban, serta diskriminasi," katanya.

"Kita hentikan diskriminasi, kita berantas rasisme dan kita mulai miliki rasa harapan yang nyata akan keberhasilan,  itulah yang saya ingin capai."

"Tapi itu tidak akan mudah. Kita harus melihat dengan sangat hati-hati pada rasisme dan diskriminasi nyata yang dihadapi orang.

Sebelumnya, massa yang memprotes rasisme di Inggris merobohkan patung seorang pedagang budak pada abad ke-17, Edward Colston, di Kota Bristol, pada Minggu (7/5).

Aksi itu dilakukan di tengah desakan publik yang meminta monumen pedagang budak lainnya di Inggris dirobohkan.

Robohnya patung Colston memicu perdebatan antara warga Inggris. Banyak yang mempertanyakan apakah aksi menjatuhkan patung itu merupakan perbuatan merusak atau momen bersejarah yang dapat menarik perhatian masyarakat terhadap peran Inggris pada era jual beli budak.

Sumber : Reuters

Baca juga: Massa aksi anti rasisme di Inggris robohkan patung pedagang budak

Baca juga: Patung Baden-Powell di Inggris akan dipindahkan hindari aksi massa

Baca juga: Menkes Inggris: Protes rasisme meningkatkan risiko COVID-19


 

PM Inggris Boris Johnson positif COVID-19

Pewarta : Azis Kurmala
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020