Ketua MPR: Kerja sama Indonesia-Kuba perlu ditingkatkan lawan COVID-19

Ketua MPR: Kerja sama Indonesia-Kuba perlu ditingkatkan lawan COVID-19

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo saat bertemu Duta Besar Kuba untuk Indonesia H.E. Mrs. Tania Velazquez Lopez, di Ruang Kerja Ketua MPR RI, Jakarta, Senin. (Istimewa)

Jakarta (ANTARA) - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo atau Bamsoet menilai Indonesia perlu meningkatkan kerja sama di bidang kesehatan dengan Kuba dalam penanganan pandemi COVID-19.

Ia menilai Kuba sebagai salah satu negara dengan sistem kesehatan terbagus di dunia, berhasil mengembangkan "immunity booster Recombinant Interferon Alpha 2B" (IFNrec).

"IFNrec terbukti berhasil meningkatkan imunitas tubuh guna menekan penyebaran COVID-19 dan berbagai penyebaran penyakit lainnya seperti kanker, infeksi terkait HIV, tumor, kutil kelamin, serta hepatitis tipe B dan C," kata Bamsoet dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Baca juga: Kuba sebut dua obat COVID-19 buatannya ampuh tekan angka kematian

Hal itu dikatakan Bamsoet saat bertemu Duta Besar Kuba untuk Indonesia H.E. Mrs. Tania Velazquez Lopez, di Ruang Kerja Ketua MPR RI, Jakarta, Senin

Ia mengatakan salah satu tantangan terbesar pandemi COVID-19 adalah ketatnya persaingan mendapatkan vaksin yang sedang dikembangkan berbagai negara.

Menurut dia, belum tentu vaksin tersebut bisa tersedia pada tahun 2021, kalaupun tersedia belum tentu Indonesia bisa cepat mendapatkannya.

"Sambil menunggu vaksin COVID-19, Indonesia bisa bekerja sama dengan Kuba dalam pengadaan IFNrec sebagai salah satu dukungan menekan penyebaran COVID-19 dan berbagai penyakit lainnya," ujarnya.

Baca juga: Wakil Ketua MPR RI: Penanganan COVID-19 harus lebih tepat dan efektif

Ia menjelaskan, sejak tahun 2017 Indonesia dan Kuba sudah memiliki MoU di sektor kesehatan dengan fokus kerja sama di lima bidang, yakni pertama, pengembangan kerja sama medis dan produksi obat-obatan, termasuk vaksin.

Kedua, kesehatan dan gizi ibu dan anak; ketiga, penyakit menular dan penyakit tidak menular, termasuk malaria, demam berdarah, kanker, dan diabetes.

"Keempat, penelitian dan pengembangan bersama di bidang kesehatan terkait termasuk laboratorium, penelitian biofarmasi, bioteknologi, dan nanoteknologi. Kelima, pengembangan sumberdaya manusia dan alih pengetahuan termasuk manajemen pelayanan kesehatan, pembiayaan, dan kebijakan kesehatan," ujarnya.

Bamsoet menilai MoU tersebut tidak boleh hanya berakhir di atas kertas saja, melainkan harus diimplementasikan demi kebaikan kedua negara.

Baca juga: MPR tegaskan masyarakat harus jadi garda terdepan tanggulangi COVID-19

Menurut dia, kemajuan sektor kesehatan di Kuba sangat luar biasa seperti memiliki sistem "universal health care" yang menggratiskan penduduknya mengakses kesehatan, serta mengedepankan proses pencegahan penyakit ketimbang pengobatan, telah membuat rakyat Kuba tidak terlalu menderita akibat pandemi COVID-19.

Politikus Partai Golkar itu mengatakan salah satu keunggulan sistem "universal health care" yang dikembangkan Kuba yaitu dengan merevolusi poliklinik menjadi berbasis komunitas misalnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan, sejak 2002 sudah 241 poliklinik di Kuba mengalami revolusi.

"Tujuannya untuk menambah layanan yang sebelumnya hanya tersedia di rumah sakit. Sekarang, rata-rata poliklinik di Kuba menawarkan 22 layanan, termasuk rehabilitasi, sinar-X, ultrasonografi, optometri, endoskopi, trombolisis, layanan darurat, traumatologi, laboratorium klinis, keluarga berencana, kedokteran gigi darurat, perawatan ibu-anak, imunisasi, dan perawatan diabetes dan lansia," ujarnya.

Ia menilai perlunya Indonesia mencontoh langkah Kuba tersebut dengan merevitalisasi berbagai puskesmas sehingga berbagai permasalahan kesehatan yang menyangkut hajat hidup rakyat, tidak lagi menjadi kendala.

Baca juga: Kuba mengirim dokter ke Afrika Selatan untuk perangi virus corona

Menurut dia, Kuba mengembangkan diplomasi gaya baru untuk meningkatkan perannya dalam percaturan politik internasional yaitu bukan dengan kekuatan senjata ataupun komunitas ekonomi perdagangan, melainkan dengan diplomasi kesehatan.

"Mengirim berbagai dokter dan tenaga kesehatan ke berbagai penjuru dunia, Kuba telah menjadi negara yang keberadaannya patut diperhitungkan. Apalagi di tengah situasi pandemi COVID-19 yang sedang menyelimuti berbagai negara dunia, Kuba sudah mengirimkan 1.400 dokter ke sekitar 20 negara," katanya.

Ia berharap selain kerja sama di bidang kesehatan, kerja sama ekonomi juga penting untuk ditingkatkan karena sebagai sesama negara Gerakan Non Blok, Indonesia dan Kuba telah menjalin kerja sama yang baik sejak tahun 1960, sejak Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno dan Kuba di bawah kepemimpinan Presiden Fidel Castro.

Baca juga: Brazil akan libatkan dokter Kuba untuk perangi corona

Menurut dia, nilai perdagangan Indonesia dan Kuba pada tahun 2019 sebesar 6,7 juta dolar AS, Indonesia sangat kuat di produk kelapa sawit dan turunannya, jika tidak bisa menjual ke Uni Eropa, bisa dijual ke Kuba dan negara-negara Amerika Latin lainnya.
Pewarta : Imam Budilaksono
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2020